Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Juli 2026 | 01.35 WIB

Jika Anda Membantu Mengurangi Rasa Frustrasi dan Penderitaan, Perhatikan 7 Kata yang Dapat Mengubah Emosi Anda Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha mengurangi rasa frustasi. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Frustrasi dan penderitaan adalah bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari. Setiap orang pernah mengalami kekecewaan, kehilangan, penolakan, atau tekanan yang membuat emosi terasa begitu berat. Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa cara kita berbicara kepada diri sendiri memiliki pengaruh besar terhadap cara otak memproses pengalaman tersebut.


Kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Kata-kata membentuk cara berpikir, memengaruhi persepsi, dan menentukan bagaimana kita merespons berbagai situasi. Itulah sebabnya para psikolog sering menekankan pentingnya self-talk atau dialog batin yang sehat.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (15/7), jika Anda ingin membantu mengurangi frustrasi dan penderitaan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, cobalah memperhatikan tujuh kata sederhana berikut. Meskipun tampak biasa, masing-masing memiliki kekuatan psikologis yang dapat membantu menenangkan pikiran, meningkatkan ketahanan mental, dan mengubah cara kita memandang masalah.

1. "Terima"

Salah satu penyebab terbesar penderitaan adalah keinginan agar kenyataan berbeda dari apa yang sedang terjadi. Dalam psikologi, penerimaan (acceptance) bukan berarti menyerah, melainkan mengakui bahwa suatu peristiwa memang telah terjadi.

Mengucapkan kata "terima" kepada diri sendiri dapat membantu mengurangi perlawanan mental yang sering kali justru memperburuk stres.

Contohnya:

"Saya menerima bahwa hari ini tidak berjalan sesuai rencana. Sekarang saya bisa fokus mencari solusi."

Penerimaan membuka ruang bagi pikiran untuk bergerak maju daripada terus terjebak pada penyesalan.

2. "Sementara"

Saat menghadapi kesulitan, otak sering kali berpikir bahwa penderitaan akan berlangsung selamanya. Ini dikenal sebagai pola pikir katastrofik.

Mengingatkan diri dengan kata "sementara" membantu mengubah perspektif.

Misalnya:

"Kesulitan ini hanya sementara."

Kalimat sederhana tersebut dapat mengurangi rasa putus asa karena mengingatkan bahwa emosi dan situasi selalu berubah seiring waktu.

3. "Belajar"

Psikolog Carol Dweck melalui konsep growth mindset menjelaskan bahwa individu yang memandang kegagalan sebagai kesempatan belajar cenderung lebih tangguh menghadapi tantangan.

Daripada berkata:

"Aku gagal."

Cobalah menggantinya menjadi:

"Aku sedang belajar."

Perubahan satu kata saja dapat menggeser fokus dari kegagalan menuju perkembangan.

4. "Mungkin"

Saat emosi memuncak, kita sering menganggap pikiran negatif sebagai fakta.

Misalnya:

"Semua orang membenciku."
"Aku pasti tidak akan berhasil."

Padahal belum tentu demikian.

Menggunakan kata "mungkin" membantu menciptakan fleksibilitas berpikir.

Contoh:

"Mungkin situasinya tidak seburuk yang kupikirkan."

Kata ini mengurangi kecenderungan berpikir hitam-putih dan membuka kemungkinan adanya sudut pandang lain.

5. "Cukup"

Perfeksionisme sering menjadi sumber frustrasi. Banyak orang merasa tidak pernah cukup baik, cukup pintar, atau cukup sukses.

Mengucapkan kata "cukup" dapat membantu menghentikan tekanan yang berlebihan.

Misalnya:

"Usaha yang kulakukan hari ini sudah cukup baik."

Ini bukan alasan untuk berhenti berkembang, melainkan bentuk penghargaan terhadap proses yang telah dijalani.

6. "Pilih"

Psikologi menekankan bahwa manusia tetap memiliki ruang untuk memilih respons, bahkan ketika tidak dapat mengendalikan keadaan.

Alih-alih berkata:

"Aku tidak punya pilihan."

Cobalah mengatakan:

"Aku memilih merespons dengan tenang."

Kata "pilih" mengingatkan bahwa kita memiliki kendali atas sikap dan tindakan, meskipun tidak selalu dapat mengendalikan hasil.

7. "Harapan"

Harapan merupakan salah satu faktor penting dalam ketahanan psikologis (resilience). Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki harapan cenderung lebih mampu bangkit setelah mengalami kesulitan.

Harapan bukan berarti mengabaikan kenyataan, melainkan percaya bahwa selalu ada kemungkinan menuju keadaan yang lebih baik.

Mengatakan kepada diri sendiri:

"Masih ada harapan."

dapat membantu menjaga motivasi untuk terus melangkah, bahkan ketika jalan terasa berat.

Mengapa Kata-Kata Memengaruhi Emosi?

Dalam psikologi kognitif, pikiran, emosi, dan perilaku saling memengaruhi. Cara kita memberi label pada suatu pengalaman akan memengaruhi respons emosional yang muncul.

Sebagai contoh:

"Ini bencana." → memicu kecemasan yang lebih besar.
"Ini tantangan." → memunculkan dorongan untuk mencari solusi.

Perubahan kata dapat mengubah cara otak menafsirkan situasi, sehingga respons emosional pun ikut berubah.

Cara Menerapkannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar tujuh kata ini benar-benar memberi manfaat, cobalah menerapkannya dalam rutinitas harian:

Berhenti sejenak ketika emosi mulai memuncak.
Perhatikan dialog batin yang muncul.
Ganti kata-kata yang bersifat mutlak seperti "selalu", "tidak pernah", atau "mustahil" dengan kata-kata yang lebih realistis.
Tuliskan afirmasi sederhana menggunakan tujuh kata tersebut.
Latih secara konsisten hingga menjadi kebiasaan berpikir.

Semakin sering dilakukan, semakin mudah otak membangun pola pikir yang lebih tenang dan adaptif.

Kesimpulan

Mengurangi frustrasi dan penderitaan tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Terkadang, perubahan kecil dalam cara kita berbicara kepada diri sendiri sudah mampu memberikan dampak yang signifikan.

Tujuh kata—terima, sementara, belajar, mungkin, cukup, pilih, dan harapan—dapat menjadi pengingat bahwa emosi bukanlah sesuatu yang harus mengendalikan hidup kita. Dengan memilih kata yang lebih sehat, kita juga sedang melatih pikiran untuk merespons tantangan dengan lebih bijaksana.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar bukan terletak pada kemampuan menghindari masalah, melainkan pada kemampuan mengubah cara kita memaknai setiap pengalaman. Dan sering kali, perubahan besar itu dimulai dari satu kata sederhana.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore