Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Juli 2026 | 01.41 WIB

Jika Anda Ingin Dipandang Lebih Berkelas Seiring Bertambahnya Usia, Tinggalkan 8 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berkelas saat bertambahnya usia. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Banyak orang mengira bahwa tampil berkelas identik dengan pakaian mahal, kendaraan mewah, atau gaya hidup glamor. Padahal, menurut psikologi, kesan elegan dan berkelas lebih banyak ditentukan oleh cara seseorang bersikap, berkomunikasi, serta memperlakukan orang lain.


Seiring bertambahnya usia, karakter seseorang akan semakin terlihat. Orang-orang di sekitar kita tidak lagi hanya menilai dari penampilan, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari. Bahkan, kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali dapat membentuk citra diri di mata orang lain.

Menjadi pribadi yang berkelas bukan berarti harus sempurna. Sebaliknya, ini adalah tentang kematangan emosional, pengendalian diri, dan kemampuan membangun hubungan yang sehat. Psikologi menunjukkan bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih dihormati dan dipercaya dibanding mereka yang hanya mengandalkan penampilan luar.

Dilansir dari Hack Spirit pada Senin (13/7), jika Anda ingin terlihat semakin berkelas seiring bertambahnya usia, berikut delapan kebiasaan yang sebaiknya mulai ditinggalkan.

1. Terlalu Sering Mengeluh

Mengeluh adalah hal yang manusiawi. Semua orang pernah mengalami masa sulit dan membutuhkan tempat untuk mencurahkan perasaan. Namun, ketika mengeluh menjadi kebiasaan, dampaknya bisa sangat berbeda.

Psikologi menjelaskan bahwa kebiasaan mengeluh terus-menerus dapat memperkuat pola pikir negatif. Semakin sering seseorang fokus pada masalah, semakin sulit ia melihat solusi yang tersedia.

Selain memengaruhi kesehatan mental, orang yang terus-menerus mengeluh sering kali membuat orang lain merasa lelah secara emosional. Lama-kelamaan, mereka akan dipandang sebagai pribadi yang pesimis dan sulit diajak berkembang.

Sebaliknya, orang yang berkelas cenderung mengakui adanya masalah, tetapi tidak tenggelam di dalamnya. Mereka lebih memilih membicarakan solusi daripada terus mengulang keluhan.

2. Selalu Ingin Menjadi Pusat Perhatian

Ada perbedaan besar antara percaya diri dan haus validasi.

Sebagian orang merasa harus selalu menjadi tokoh utama dalam setiap percakapan. Mereka memotong pembicaraan, mengarahkan topik kembali kepada diri sendiri, atau berusaha menunjukkan pencapaiannya di setiap kesempatan.

Menurut psikologi sosial, perilaku seperti ini sering kali muncul karena kebutuhan akan pengakuan dari orang lain.

Sebaliknya, orang yang benar-benar percaya diri tidak merasa perlu membuktikan dirinya setiap saat. Mereka mampu memberi ruang bagi orang lain untuk berbicara, mendengarkan dengan tulus, dan menghargai perspektif yang berbeda.

Ironisnya, justru sikap rendah hati inilah yang membuat seseorang tampak lebih berkelas.

3. Sulit Mengakui Kesalahan

Tidak ada manusia yang selalu benar.

Namun, sebagian orang menganggap mengakui kesalahan sebagai tanda kelemahan. Mereka lebih memilih mencari alasan, menyalahkan keadaan, atau bahkan menyalahkan orang lain.

Dalam psikologi, kemampuan mengakui kesalahan merupakan salah satu ciri kematangan emosional. Orang yang mampu berkata, "Saya salah," menunjukkan bahwa harga dirinya tidak bergantung pada citra sempurna.

Mengakui kesalahan juga membangun kepercayaan. Orang lain akan lebih mudah menghormati seseorang yang bertanggung jawab dibanding mereka yang selalu mencari kambing hitam.

4. Gemar Menghakimi Orang Lain

Mudah sekali menilai kehidupan orang lain hanya dari apa yang terlihat.

Namun, psikologi mengingatkan bahwa manusia sering kali melakukan fundamental attribution error, yaitu kecenderungan menilai karakter seseorang tanpa memahami situasi yang sedang mereka hadapi.

Orang yang berkelas memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang tidak selalu terlihat.

Alih-alih menghakimi, mereka memilih bertanya, memahami, dan menunjukkan empati. Sikap seperti ini menciptakan hubungan yang lebih sehat dan membuat seseorang tampak lebih bijaksana.

5. Reaktif terhadap Kritik

Tidak semua kritik adalah serangan.

Memang, kritik terkadang disampaikan dengan cara yang kurang menyenangkan. Namun, reaksi seseorang terhadap kritik sering kali lebih menentukan daripada kritik itu sendiri.

Orang yang langsung marah, defensif, atau menyerang balik biasanya dipandang kurang matang secara emosional.

Sebaliknya, orang yang berkelas mampu memilah kritik yang membangun dan mengabaikan komentar yang tidak bermanfaat. Mereka melihat kritik sebagai kesempatan untuk berkembang, bukan ancaman terhadap harga diri.

Kemampuan mengendalikan emosi dalam situasi seperti ini merupakan salah satu tanda kecerdasan emosional yang tinggi.

6. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Di era media sosial, membandingkan diri dengan orang lain menjadi semakin mudah.

Kita melihat pencapaian, liburan, rumah, kendaraan, hingga kesuksesan orang lain tanpa mengetahui perjuangan di baliknya.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai social comparison. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat menurunkan rasa percaya diri, meningkatkan kecemasan, bahkan mengurangi kepuasan hidup.

Orang yang berkelas memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Mereka lebih fokus menjadi versi terbaik dari diri sendiri dibanding berlomba mengikuti standar kehidupan orang lain.

7. Bergosip dan Menyebarkan Hal Negatif

Gosip mungkin terasa menghibur sesaat, tetapi dampaknya jauh lebih besar daripada yang disadari.

Orang yang sering membicarakan keburukan orang lain akan kehilangan kepercayaan dari lingkungannya. Sebab, orang lain bisa saja berpikir bahwa suatu saat mereka juga akan menjadi bahan pembicaraan.

Sebaliknya, orang yang berkelas menjaga integritas dalam percakapan. Mereka menghindari menyebarkan rumor, tidak mudah percaya pada kabar yang belum jelas, dan lebih memilih membicarakan ide, pengalaman, atau hal-hal yang memberikan nilai positif.

Kebiasaan sederhana ini membuat seseorang terlihat lebih dewasa dan dapat dipercaya.

8. Tidak Pernah Mau Belajar Hal Baru

Usia bukan alasan untuk berhenti berkembang.

Salah satu ciri orang yang benar-benar berkelas adalah memiliki pola pikir berkembang (growth mindset). Mereka percaya bahwa kemampuan dapat terus diasah melalui belajar dan pengalaman.

Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sudah mengetahui segalanya sering kali sulit menerima perubahan dan tertinggal dari perkembangan zaman.

Belajar tidak selalu berarti kembali ke bangku sekolah. Membaca buku, mengikuti pelatihan, mempelajari teknologi baru, atau mendengarkan sudut pandang yang berbeda merupakan bentuk pembelajaran yang membuat seseorang tetap relevan.

Keinginan untuk terus belajar menunjukkan kerendahan hati sekaligus rasa percaya diri yang sehat.

Menjadi Berkelas Berawal dari Kebiasaan Kecil

Pada akhirnya, menjadi pribadi yang berkelas bukanlah soal status sosial, usia, ataupun jumlah harta yang dimiliki. Kelas sejati tercermin dari bagaimana seseorang mengendalikan emosinya, memperlakukan orang lain dengan hormat, serta terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

Meninggalkan delapan kebiasaan di atas memang tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semakin dewasa seseorang, semakin penting kualitas karakter dibanding sekadar penampilan. Orang-orang mungkin akan melupakan apa yang Anda kenakan atau apa yang Anda miliki, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana Anda membuat mereka merasa.

Karena itu, jika ingin dipandang lebih berkelas seiring bertambahnya usia, mulailah dengan membangun kebiasaan yang mencerminkan kematangan, empati, dan integritas. Itulah kualitas yang tidak lekang oleh waktu dan selalu dihargai dalam hubungan pribadi maupun profesional.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore