Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Juni 2026 | 02.21 WIB

Dari Rahim hingga Dunia: Ini Rahasia Tumbuh Kembang Anak yang Dimulai Sejak Sebelum Lahir

ilustrasi photo dari pinterest

 
JawaPos.com - Perjalanan tumbuh kembang anak sesungguhnya dimulai jauh sebelum tangisan pertamanya terdengar di ruang persalinan.
 
Saat masih berada di dalam kandungan, bayi telah berinteraksi dengan dunia melalui berbagai rangsangan yang diterimanya.
 
Suara lembut sang ibu, irama detak jantung, hingga gerakan tubuh yang dirasakan setiap hari menjadi pengalaman awal yang membantu membentuk fondasi perkembangan mereka.
 
Dalam sebuah podcast inspiratif, dr. Yoga Yandika, Sp.A bersama Novia Candra mengupas pentingnya stimulasi sensori sebagai kunci utama tumbuh kembang anak.
 
Mereka menegaskan bahwa perkembangan anak tidak hanya diukur dari tinggi badan, berat badan, atau kemampuan akademis semata.
 
Di balik semua pencapaian tersebut, terdapat sistem sensori yang bekerja sebagai fondasi utama bagi perkembangan otak dan perilaku anak.
 
Dr. Yoga menggambarkan sistem sensori sebagai mesin canggih yang telah dimiliki setiap manusia sejak lahir.
 
Namun, secanggih apa pun mesin tersebut, ia membutuhkan bahan bakar agar dapat bekerja secara optimal.
 
Di sinilah stimulasi berperan penting. Semakin tepat stimulasi yang diberikan, semakin baik pula kemampuan anak dalam mengenali, memahami, dan merespons lingkungan di sekitarnya.
 
Menariknya, proses stimulasi sudah dapat dimulai sejak bayi masih berada dalam kandungan. Janin mampu mengenali suara yang berulang, merasakan sentuhan dari luar perut ibu, hingga merespons perubahan suasana di sekitarnya.
 
Setelah lahir, pengalaman sensori semakin kaya melalui sentuhan hangat, pelukan orang tua, suara, aroma, warna, hingga berbagai aktivitas bermain yang menyenangkan.
 
Menurut dr. Yoga, terdapat tujuh sistem sensori utama yang menjadi fondasi perkembangan anak.
 
Sistem tersebut meliputi penglihatan, pendengaran, perasa, sentuhan, keseimbangan, kesadaran posisi tubuh, serta kemampuan mengenali kondisi tubuh dari dalam.
 
Ketujuh sistem ini bekerja layaknya sebuah orkestra yang saling melengkapi untuk membantu anak belajar, bergerak, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan lingkungan.
 
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tantangan baru pun muncul. Penggunaan gadget yang berlebihan dapat membuat anak menerima terlalu banyak stimulasi visual dan auditori, namun minim pengalaman gerak dan eksplorasi fisik.
 
Akibatnya, keseimbangan perkembangan sensori menjadi terganggu. Kondisi ini sering kali berujung pada perilaku mudah tantrum, sulit berkonsentrasi, kurang sabar, hingga kesulitan mengendalikan emosi.
 
Kabar baiknya, stimulasi sensori yang efektif tidak harus mahal atau rumit. Berbagai aktivitas sederhana di rumah justru dapat memberikan manfaat luar biasa bagi perkembangan anak.
 
Bermain balok, menyusun puzzle, membaca buku interaktif, bermain peran, hingga menggunakan busy book dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan sekaligus memperkaya pengalaman sensorinya.
 
Yang terpenting bukanlah harga mainannya, melainkan kualitas interaksi antara anak dan orang tua saat bermain bersama.
 
Salah satu konsep menarik yang dibahas dalam podcast ini adalah pentingnya membiarkan anak merasakan bosan.
 
Di era serba instan, banyak orang tua tergoda memberikan gadget setiap kali anak mulai kehilangan aktivitas. Padahal, rasa bosan sering kali menjadi pintu lahirnya kreativitas.
 
Saat tidak terus-menerus disuguhi hiburan, anak akan terdorong untuk berimajinasi, menciptakan permainan baru, dan menemukan cara unik untuk mengisi waktunya sendiri.
 
Pada akhirnya, bermain bukanlah sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan bahasa alami yang digunakan otak anak untuk belajar dan berkembang.
 
Setiap sentuhan, gerakan, tawa, dan eksplorasi yang dilakukan anak merupakan bagian dari proses membangun jutaan koneksi penting di dalam otaknya.
 
Karena itu, kehadiran orang tua menjadi hadiah paling berharga dalam proses tumbuh kembang anak.
 
Dengan memberikan stimulasi sensori yang tepat sejak dalam kandungan hingga masa kanak-kanak, orang tua sedang menanam benih bagi masa depan yang lebih cerah.
 
Sebab, anak yang tumbuh dengan fondasi sensori yang kuat akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan, mengembangkan potensinya, dan tumbuh menjadi pribadi yang sehat, kreatif, serta percaya diri.
 
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore