Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 Juni 2026 | 02.53 WIB

Mengulik Alasan Tersembunyi Tren Lari Maraton Pada Gen Z, Ubah FOMO Jadi Investasi Kesehatan Jangka Panjang

Ilustrsi berlari/Magnific - Image

Ilustrsi berlari/Magnific

JawaPos.com-Fenomena lari Marathon dan tren joki STRAVA kini menjadi hal yang lumrah di media sosial.

Berlari kini tidak hanya sekedar olahraga biasa, tetapi juga telah menjadi bagian dari lifestyle modern.

Terutama Gen Z yang kerap diketahui membagikan momen  sedang mengikuti event lari marathon. Bahkan sebagian Gen Z rela terbang ke luar kota demi mengikuti event lari marathon.

Di balik tren viral ini, tren lari marathon juga membawa dampak positif. Selain meningkatkan kesadaran pada kesehatan, lari juga dapat membantu mental health, memperluas relasi, sampai mendorong seseorang untuk lebih aktif daripada menatap gadget. 

Meski demikian, banyak muncul pertanyaan maraknya tren lari di kalangan Gen Z ini. Apa yang sebenarnya memotivasi begitu banyak Gen Z yang mengikuti tren lari ini.

Lantas apakah fenomena lari ini membawa dampak positif? atau justru menekan Gen Z untuk selalu mengikuti tren?.

Berikut beberapa alasan mengapa Gen Z hobi lari dan bagaimana sebaiknya menyikapi fenomena ini, yang sudah kami rangkum dari laman  keslan.kemkes.go.id dan mpoin.co pada Rabu (3/6). 

Lari marathon kerap menjadi konten di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Strava. Mulai dari konten persiapan sebelum lari, pengalaman mengikuti lari marathon, jenis sepatu lari, sampai inspirasi outfit berlari. Konten lari marathon yang dibagikan influencer secara konsisten seperti ini kemudian membuat banyak orang menginginkan untuk ikut merasakan pengalaman yang sama. 

Dibandingkan dengan olahraga lain, lari marathon cenderung menghabiskan biaya yang murah. Peralatannya juga tidak mahal, hanya cukup sepatu dan pakaian olahraga. Kemudahan pelaksanaan olahraga yang satu inilah yang menjadi alasan lari marathon lebih mudah diikuti oleh banyak orang.

Banyak orang berlari marathon untuk menguji ketahanan diri. Berawal dari jarak 10.000 km, lalu bertahap menjadi 21.000 km, sampai akhirnya berhasil menyelesaikan full marathon di 42.195 km. Saat anda berhasil menyelesaikan full marathon dapat memberikan rasa puas dan bangga. Terutama jika berhasil mendapatkan medali, membuktikan bahwa kelelahan tubuh akhirnya bisa terbayarkan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore