Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Juni 2026 | 05.14 WIB

1 dari 5 Gen Z Berinvestasi Tanpa Pahami Risiko, Efek FOMO Jadi Sorotan

Penjelasan mengenai fenomena fear of missing out (FOMO) masih mewarnai perilaku investasi generasi muda. (Istimewa) - Image

Penjelasan mengenai fenomena fear of missing out (FOMO) masih mewarnai perilaku investasi generasi muda. (Istimewa)

JawaPos.com - Fenomena fear of missing out (FOMO) masih mewarnai perilaku investasi generasi muda. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat inklusi keuangan anak muda usia 18-25 tahun telah menyentuh angka 89,96 persen, namun tingkat literasi finansial mereka baru berada di kisaran 73,22 persen.

Kesenjangan (gap) sebesar 16,74 persen poin ini mengindikasikan bahwa 1 dari 5 anak muda telah menggunakan produk keuangan tanpa memahami risiko serta mekanisme kerjanya. Dampak lanjutannya, dari total puluhan juta SID yang terdaftar, hanya sekitar 1 dari 14 investor yang aktif bertransaksi dalam hitungan bulan.

President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The mengidentifikasi empat hambatan utama industri yang memicu fenomena ini. Pertama, Platform-driven frictionless onboarding atau proses pembukaan akun digital yang terlampau instan hingga menghilangkan momentum penting bagi investor untuk berhenti sejenak dan mempelajari instrumen risiko (force a pause-and-learn moment).

Kedua, social referral tanpa pengetahuan, yakni tren keputusan investasi yang didorong oleh narasi ikut-ikutan lingkar pertemanan tanpa transfer pengetahuan fundamental yang valid. Ketiga, insentif industri yang kurang selaras, dimana orientasi industri yang cenderung diukur secara kuantitatif berdasarkan jumlah pembukaan rekening baru (KPI kuantitas akun), bukan pada kompetensi dan keaktifan transaksi jangka panjang.

"Keempat, fenomena "cukup tahu" akibat TikTok fication atau konsumsi konten edukasi kilat berdurasi 60 detik yang menciptakan ilusi kompetensi semu tanpa pemahaman mendalam yang substansial," ungkapnya, Rabu (17/6).

Menurut Moleonoto The, masih banyak anak muda yang mulai berinvestasi karena dorongan tren, rekomendasi teman, atau informasi singkat di media sosial tanpa memahami risiko dan prinsip dasar pengelolaan keuangan.

"Kondisi ini membuat tingkat partisipasi meningkat lebih cepat dibandingkan peningkatan literasi finansial," jelasnya.

Pada perhelatan turnamen E-sports Kapolda Jateng Cup 2026 nanti, pihaknya ikut serta dalam menjangkau literasi keuangan anak muda. Dengan program strategis “Cerdas Finansial Bersama IPOT”, pihaknya memberikan akses edukasi berkualitas bagi kelompok demografi yang selama ini kurang terjangkau (underserved), sekaligus membentengi generasi muda dari ancaman investasi bodong, kejahatan siber (phishing), dan jeratan platform judi online.

"Komunitas esports memiliki banyak karakteristik yang dibutuhkan dalam dunia investasi, seperti disiplin, fokus, dan kemampuan membaca strategi. Melalui Kapolda Jateng Cup 2026, kami ingin membantu generasi muda mengubah kemampuan tersebut menjadi kompetensi finansial yang relevan untuk masa depan," ujar Moleonoto.

Selama turnamen berlangsung di De Tjolomadoe, Surakarta, pihaknya bekerja sama dengan produsen teknologi global akan mengeksekusi aktivitas kampanye hingga edukasi investasi lewat penggunaan AI yang menarik.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore