
seseorang yang memiliki banyak tangkapan layar. ( Magnific/Lifestylememory )
JawaPos.com - Di era digital, galeri ponsel bukan lagi sekadar tempat menyimpan foto. Banyak orang kini memiliki ribuan tangkapan layar—kutipan motivasi, chat penting, meme lucu, resep, ide bisnis, thread media sosial, hingga foto produk yang “mungkin nanti dibeli”. Jumlahnya bisa mencapai ribuan, bahkan puluhan ribu.
Menariknya, sebagian besar tangkapan layar itu hampir tidak pernah dibuka kembali.
Fenomena ini terlihat sepele, tetapi psikologi modern melihatnya sebagai sesuatu yang cukup menarik. Kebiasaan menyimpan informasi secara berlebihan ternyata bisa menggambarkan cara seseorang berpikir, mengelola emosi, menghadapi ketidakpastian, hingga memproses identitas diri.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat delapan ciri yang sering dimiliki orang-orang yang mempunyai 10.000 screenshot di ponselnya tetapi jarang melihatnya lagi.
1. Mereka Takut Kehilangan Informasi Penting
Salah satu alasan utama seseorang terus mengambil screenshot adalah rasa takut melewatkan sesuatu yang mungkin berguna di masa depan.
Dalam psikologi, ini berkaitan dengan fear of missing out (FOMO), tetapi bukan hanya soal acara sosial. Ini juga menyangkut informasi.
Mereka berpikir:
“Siapa tahu nanti butuh.”
“Nanti pasti kepakai.”
“Lebih aman disimpan dulu.”
Akhirnya, hampir semua hal dianggap layak disimpan. Ironisnya, semakin banyak yang disimpan, semakin sulit informasi itu ditemukan kembali.
Otak manusia sebenarnya menyukai rasa aman. Menyimpan screenshot memberi ilusi bahwa kita “menguasai” informasi, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.
2. Mereka Memiliki Pikiran yang Sangat Aktif
Orang yang gemar menyimpan screenshot sering kali cepat tertarik pada banyak hal sekaligus.
Hari ini mereka menyimpan ide bisnis. Besok resep makanan. Lalu tips produktivitas, desain kamar, workout, hingga kutipan filsafat.
Pikiran mereka jarang benar-benar diam.
Secara psikologis, ini bisa menunjukkan tingkat rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka terus mengumpulkan kemungkinan, inspirasi, dan referensi karena otaknya selalu memproses ide baru.
Masalahnya, otak yang terlalu aktif kadang membuat seseorang sulit memprioritaskan mana yang benar-benar penting.
Akibatnya, galeri berubah menjadi “gudang kemungkinan”.
3. Mereka Cenderung Menunda Keputusan
Banyak screenshot sebenarnya adalah keputusan yang belum selesai.
Contohnya:
barang yang belum jadi dibeli,
artikel yang belum dibaca,
chat yang belum dibalas,
ide yang belum dijalankan.
Alih-alih menentukan tindakan sekarang, seseorang memilih menyimpannya dulu.
Secara psikologis, ini adalah bentuk decision postponement—menunda keputusan agar tidak perlu menghadapi tekanan saat itu juga.
Screenshot menjadi semacam “parkiran mental”.
Masalahnya, semakin banyak keputusan tertunda, semakin berat beban mental yang terasa, walaupun kita tidak sadar.
4. Mereka Memiliki Kecenderungan Emotional Hoarding
Kita sering mendengar istilah hoarding untuk barang fisik. Namun di era digital, ada juga yang disebut digital hoarding.
Ini adalah kecenderungan menyimpan file, foto, email, atau screenshot secara berlebihan karena sulit melepaskannya.
Menariknya, banyak screenshot sebenarnya memiliki nilai emosional:
chat dari orang tertentu,
momen lucu,
pujian,
kenangan lama,
postingan yang “relate”.
Bahkan ketika tidak pernah dibuka lagi, orang tetap merasa tidak nyaman jika harus menghapusnya.
Secara emosional, screenshot itu terasa seperti bagian kecil dari hidup mereka.
5. Mereka Sering Overthinking
Orang yang punya terlalu banyak screenshot sering kali berpikir terlalu jauh tentang masa depan.
Mereka membayangkan banyak kemungkinan:
“Kalau nanti lupa?”
“Kalau suatu hari butuh?”
“Kalau ini ternyata penting?”
Akhirnya, mereka memilih menyimpan semuanya.
Psikologi menyebut ini sebagai bentuk anticipatory thinking yang berlebihan. Otak mencoba mempersiapkan semua kemungkinan, bahkan yang kecil sekalipun.
Sekilas terlihat produktif, tetapi jika berlebihan bisa membuat pikiran penuh “tab mental” yang tidak pernah ditutup.
6. Mereka Menyukai Rasa Kontrol
Menyimpan screenshot memberi sensasi bahwa hidup lebih terorganisir, meskipun kenyataannya folder screenshot sering sangat berantakan.
Ada kepuasan kecil ketika berhasil “mengamankan” sesuatu.
Ini mirip seperti seseorang yang menulis catatan terlalu banyak agar merasa tidak akan lupa.
Dalam psikologi, manusia memang punya kebutuhan dasar terhadap kontrol dan prediktabilitas. Ketika dunia terasa cepat dan kacau, menyimpan informasi menjadi cara sederhana untuk merasa lebih siap menghadapi hidup.
Walaupun kadang screenshot itu sendiri tidak pernah disentuh lagi.
7. Mereka Sebenarnya Sedang Menyimpan Versi Diri Mereka
Banyak screenshot bukan tentang informasi, melainkan identitas.
Contohnya:
quote tentang ambisi,
tubuh ideal,
desain rumah impian,
gaya fashion,
rutinitas produktif,
perjalanan yang ingin dilakukan.
Screenshot seperti ini sering menjadi cerminan diri yang ingin mereka capai.
Secara psikologis, manusia memang membangun identitas melalui simbol dan aspirasi. Menyimpan gambar tertentu bisa menjadi bentuk visualisasi diam-diam tentang siapa mereka ingin menjadi.
Jadi terkadang, screenshot bukan sekadar file—tetapi “visi diri” yang belum terwujud.
8. Mereka Sulit Benar-Benar Melepaskan Sesuatu
Menghapus ribuan screenshot sering terasa melelahkan secara emosional.
Padahal secara logis, banyak file itu tidak penting lagi.
Namun ada perasaan:
sayang untuk dihapus,
takut menyesal,
merasa ada kenangan di dalamnya.
Ini menunjukkan kecenderungan keterikatan emosional terhadap jejak digital.
Di dunia modern, memori tidak lagi hanya ada di kepala. Ia tersebar di cloud, chat, foto, dan screenshot.
Karena itu, menghapus screenshot bagi sebagian orang terasa seperti menghapus potongan kecil dari masa lalu mereka sendiri.
Kenapa Fenomena Ini Semakin Umum?
Dulu manusia menyimpan barang fisik. Sekarang kita menyimpan data.
Perbedaannya, ruang digital terasa “tak terbatas”, sehingga otak tidak merasa perlu selektif.
Akibatnya:
screenshot menumpuk,
tab browser tidak ditutup,
video disimpan untuk ditonton nanti,
artikel di-bookmark tanpa pernah dibaca.
Kita hidup dalam budaya “save now, process later”.
Sayangnya, “later” sering tidak pernah datang.
Apakah Ini Berbahaya?
Tidak selalu.
Memiliki banyak screenshot bukan otomatis tanda gangguan psikologis. Dalam banyak kasus, itu hanya kebiasaan digital modern.
Namun jika:
membuat stres,
memicu kecemasan,
sulit membuang apa pun,
atau membuat pikiran terasa penuh terus-menerus,
maka itu bisa menjadi tanda bahwa seseorang perlu mulai menyederhanakan konsumsi informasinya.
Kadang ketenangan mental bukan datang dari menyimpan lebih banyak, tetapi dari berani memilih apa yang benar-benar penting.
Memiliki ribuan atau 10.000 screenshot yang jarang dilihat lagi mungkin terdengar lucu, tetapi di baliknya ada banyak hal tentang cara manusia berpikir dan merasa.
Sebagian orang menyimpan screenshot karena takut lupa. Sebagian karena otaknya penuh ide. Sebagian lagi karena sedang menyimpan kenangan, harapan, atau versi diri yang ingin mereka capai.
Pada akhirnya, galeri ponsel sering menjadi cermin kecil dari isi pikiran kita sendiri.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
