
seseorang yang mendengarkan lagu berulang-ulang (Magnific/benzoix)
JawaPos.com - Kebiasaan mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang sampai “hafal di luar kepala” atau bahkan bosan sering dianggap aneh oleh sebagian orang.
Tapi dalam psikologi, perilaku ini justru cukup umum dan bisa memberi gambaran tentang cara seseorang mengelola emosi, fokus, dan kebiasaan kognitifnya.
Tentu saja, ini bukan “diagnosis kepribadian” yang kaku. Psikologi tidak menyederhanakan manusia hanya dari satu kebiasaan. Namun, pola ini bisa berkaitan dengan beberapa ciri yang sering muncul pada orang dengan preferensi tersebut.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat penjelasan lebih dalam tentang 8 ciri kepribadian yang sering dikaitkan dengan orang yang suka mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang.
1. Tingkat kenyamanan tinggi terhadap rutinitas
Orang yang mengulang lagu biasanya merasa nyaman dengan hal-hal yang sudah familiar. Musik yang sama memberi rasa “aman” karena tidak ada kejutan yang perlu diproses ulang oleh otak.
Dalam psikologi kognitif, ini berkaitan dengan preferensi terhadap prediktabilitas. Otak manusia memang cenderung menyukai pola yang bisa ditebak, tetapi pada sebagian orang, kebutuhan ini lebih kuat.
2. Regulasi emosi yang kuat melalui musik
Banyak orang menggunakan musik sebagai alat untuk mengatur suasana hati. Namun pada sebagian individu, satu lagu tertentu bisa menjadi “alat emosional utama”.
Misalnya:
Lagu yang menenangkan saat cemas
Lagu yang memotivasi saat butuh fokus
Lagu yang menguatkan saat sedih
Orang seperti ini cenderung menggunakan musik sebagai strategi coping emosional yang spesifik dan efektif.
3. Kecenderungan introspektif (suka berpikir ke dalam)
Mengulang lagu yang sama sering memberi ruang untuk refleksi. Karena tidak perlu “memproses hal baru”, pikiran jadi lebih bebas melayang.
Orang dengan ciri ini biasanya:
Suka merenung
Memiliki dunia batin yang aktif
Menikmati makna di balik lirik atau suasana musik
4. Sensitivitas emosional yang lebih tinggi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang sangat responsif terhadap musik sering memiliki sensitivitas emosi yang lebih tinggi.
Mereka bisa merasakan nuansa kecil dalam lagu yang mungkin tidak disadari orang lain, sehingga satu lagu bisa terasa “lengkap” secara emosional untuk didengarkan berulang-ulang.
5. Kecenderungan fokus dan “flow state”
Mengulang lagu yang sama bisa membantu seseorang masuk ke kondisi fokus mendalam atau flow state.
Hal ini sering terjadi pada:
Pelajar yang belajar dengan musik yang sama
Pekerja kreatif
Orang yang butuh konsentrasi stabil
Musik yang sudah familiar tidak mengganggu perhatian, sehingga otak bisa bekerja lebih optimal.
6. Preferensi terhadap kedalaman daripada variasi
Alih-alih mencari banyak hal baru, orang seperti ini sering memilih untuk “menyelami” satu hal sampai benar-benar habis dieksplorasi.
Dalam konteks musik, ini berarti:
Menyukai memahami setiap detail lagu
Menangkap lapisan instrumen, lirik, atau emosi
Merasa tidak puas sebelum benar-benar “menguasai” pengalaman lagu tersebut
7. Kecenderungan neurotik ringan (bukan negatif sepenuhnya)
Dalam psikologi kepribadian, ada dimensi yang disebut neurotisisme, yaitu kecenderungan mudah merasakan emosi negatif seperti cemas atau overthinking.
Mengulang lagu bisa menjadi cara untuk:
Menenangkan pikiran yang terlalu aktif
Mengurangi ketidakpastian emosional
Memberikan rasa kontrol
Namun ini bukan sesuatu yang buruk—justru bisa menjadi mekanisme adaptif jika tidak berlebihan.
8. Ikatan emosional kuat dengan pengalaman tertentu
Sering kali, lagu yang diputar berulang bukan sekadar lagu, tapi terkait dengan:
Kenangan tertentu
Orang tertentu
Masa hidup tertentu
Perasaan spesifik yang sulit diulang
Akibatnya, lagu itu menjadi “wadah emosi”, bukan hanya hiburan.
Kesimpulan
Mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang bukan tanda kebiasaan aneh atau monoton, melainkan bisa mencerminkan cara seseorang:
Mengelola emosi
Mencari kenyamanan
Memproses pikiran
Menjaga fokus
Mengalami dunia secara lebih dalam
Namun penting diingat: tidak semua orang yang melakukan ini memiliki semua ciri di atas. Psikologi melihat perilaku manusia sebagai spektrum, bukan kotak-kotak yang kaku.
Kalau kamu sendiri punya kebiasaan ini, kemungkinan besar itu adalah cara alami otakmu mencari keseimbangan antara emosi, kenyamanan, dan fokus.
***

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
