
seseorang yang toxic di dalam keluarga (Magnific/prostock-studio)
JawaPos.com - Keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang—ruang di mana kita merasa diterima, didukung, dan dicintai tanpa syarat. Namun dalam kenyataannya, tidak semua dinamika keluarga berjalan sehat. Terkadang, tanpa disadari, seseorang justru menjadi sumber ketegangan dan luka emosional bagi anggota keluarga lainnya. Dalam psikologi, perilaku seperti ini sering dikategorikan sebagai “toxic”.
Menjadi “toxic” bukan berarti seseorang adalah orang jahat secara permanen. Lebih sering, ini adalah hasil dari pola perilaku yang terbentuk dari pengalaman masa lalu, kurangnya kesadaran diri, atau ketidakmampuan mengelola emosi. Kabar baiknya, perilaku ini bisa dikenali—dan diubah.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat 8 perilaku yang menunjukkan bahwa seseorang mungkin bersikap toxic dalam keluarga menurut perspektif psikologi:
1. Selalu Ingin Mengontrol Segala Hal
Salah satu tanda paling umum adalah kebutuhan berlebihan untuk mengontrol orang lain. Anda mungkin merasa harus mengatur keputusan anggota keluarga—mulai dari pilihan karier, pasangan, hingga gaya hidup.
Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan kecemasan atau rasa tidak aman. Namun bagi orang lain, perilaku ini terasa mengekang dan melelahkan.
Ciri khasnya:
Sulit menerima keputusan orang lain
Memberi “nasihat” yang sebenarnya berupa paksaan
Merasa paling tahu apa yang terbaik
2. Sering Mengkritik Tanpa Henti
Kritik memang penting jika disampaikan secara konstruktif. Namun jika Anda terus-menerus menemukan kesalahan orang lain tanpa memberikan dukungan, itu bisa menjadi racun dalam hubungan keluarga.
Komentar negatif yang terus diulang dapat merusak harga diri seseorang, terutama jika datang dari orang terdekat.
Contoh:
“Kamu selalu salah.”
“Kenapa sih kamu nggak pernah bisa seperti orang lain?”
3. Bermain Peran sebagai Korban (Victim Mentality)
Orang toxic sering merasa dirinya selalu menjadi korban, bahkan ketika situasinya tidak demikian. Mereka cenderung menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi.
Dalam psikologi, ini disebut sebagai external locus of control—yaitu kecenderungan melihat semua masalah berasal dari luar diri.
Dampaknya:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022