Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 April 2026 | 22.33 WIB

Jika Anda Hanya Menonton Instagram Stories Orang Lain tetapi Tidak Pernah Memposting, Anda Mungkin Menyembunyikan 7 Rasa Tidak Aman Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menonton instagram stories (Freepik/pressfoto) - Image

seseorang yang menonton instagram stories (Freepik/pressfoto)


JawaPos.com - Di era media sosial, perilaku kita di platform seperti Instagram sering kali mencerminkan lebih dari sekadar kebiasaan digital—ia bisa menjadi cerminan kondisi psikologis yang lebih dalam.

Salah satu pola yang cukup umum adalah menjadi “penonton pasif”: rajin melihat Instagram Stories orang lain, tetapi hampir tidak pernah memposting apa pun sendiri.

Sekilas, ini mungkin terlihat sebagai preferensi pribadi yang biasa saja. Namun, menurut perspektif psikologi, kebiasaan ini bisa mengindikasikan adanya rasa tidak aman (insecurity) yang tersembunyi. Bukan berarti semua orang yang tidak memposting pasti mengalami hal ini, tetapi ada pola emosional tertentu yang sering muncul.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh rasa tidak aman yang mungkin tersembunyi di balik kebiasaan tersebut:

1. Takut Dinilai oleh Orang Lain

Salah satu alasan paling umum adalah ketakutan terhadap penilaian sosial. Anda mungkin berpikir:

“Nanti orang mikir apa ya?”
“Postinganku cukup bagus nggak?”

Ketakutan ini berkaitan dengan social anxiety, di mana seseorang terlalu memikirkan bagaimana dirinya dipersepsikan. Akibatnya, lebih aman menjadi pengamat daripada menjadi bagian dari “panggung”.

2. Merasa Tidak Cukup Menarik atau Layak Dibagikan

Beberapa orang merasa hidup mereka tidak cukup menarik dibandingkan orang lain. Ketika melihat Stories yang penuh dengan liburan, pencapaian, atau momen estetik, muncul perasaan:

“Hidupku biasa banget.”
“Nggak ada yang layak diposting.”

Ini berkaitan dengan rendahnya self-worth atau penghargaan terhadap diri sendiri.

3. Perfeksionisme yang Berlebihan

Perfeksionisme bisa menjadi penghambat besar. Anda mungkin hanya ingin memposting sesuatu jika itu “sempurna”—dari pencahayaan, caption, hingga timing.

Masalahnya, standar yang terlalu tinggi justru membuat Anda tidak pernah memposting sama sekali.

4. Takut Ditolak atau Diabaikan

Jumlah views, likes, atau respons sering menjadi ukuran validasi sosial. Jika Anda khawatir postingan Anda:

Sepi penonton
Tidak mendapat reaksi

maka Anda mungkin memilih untuk tidak memposting sama sekali demi menghindari rasa “ditolak” secara sosial.

5. Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Menonton Stories tanpa memposting sering kali memperkuat kebiasaan social comparison. Anda terus melihat kehidupan orang lain tanpa pernah menampilkan sisi Anda sendiri.

Ini bisa memicu pikiran seperti:

“Mereka lebih sukses dari aku.”
“Aku ketinggalan jauh.”

Padahal, yang Anda lihat hanyalah highlight, bukan realita utuh.

6. Kurangnya Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri yang rendah membuat seseorang ragu untuk “muncul” di ruang publik, termasuk media sosial. Bahkan hal sederhana seperti memposting foto atau cerita bisa terasa menegangkan.

Alih-alih mengambil risiko, Anda memilih posisi aman sebagai penonton.

7. Kebutuhan untuk Mengontrol Citra Diri

Beberapa orang sangat berhati-hati dalam menjaga citra diri. Mereka takut jika postingan mereka:

Disalahartikan
Tidak sesuai dengan “image” yang ingin ditampilkan

Akibatnya, mereka memilih untuk tidak memposting sama sekali daripada kehilangan kendali atas bagaimana mereka dipersepsikan.

Jadi, Apakah Ini Hal yang Buruk?

Tidak selalu.

Menjadi penonton pasif bukan berarti Anda “bermasalah”. Bisa jadi Anda memang pribadi yang lebih privat, atau tidak merasa perlu berbagi kehidupan secara online.

Namun, jika keputusan untuk tidak memposting didorong oleh rasa takut, cemas, atau rendah diri, itu bisa menjadi sinyal untuk refleksi diri.

Jika Anda merasa relate dengan beberapa poin di atas, berikut beberapa langkah kecil yang bisa dicoba:

Mulai dari hal sederhana (tidak harus sempurna)
Ingat bahwa orang lain juga tidak sesempurna yang terlihat
Fokus pada ekspresi diri, bukan validasi
Batasi perbandingan sosial yang berlebihan
Penutup

Media sosial adalah alat—bukan ukuran nilai diri. Baik Anda aktif memposting atau hanya menonton, yang terpenting adalah bagaimana hal itu memengaruhi kesejahteraan mental Anda.

Jika Anda memilih untuk tetap menjadi penonton, pastikan itu karena pilihan sadar, bukan karena rasa takut yang tersembunyi.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore