
seseorang yang tidak bisa menerima kritik. (Freepik/namii9)
JawaPos.com - Menerima kritik adalah salah satu keterampilan emosional yang tidak mudah dimiliki semua orang. Bagi sebagian individu, kritik terasa seperti serangan pribadi, bukan sebagai masukan yang membangun.
Dalam perspektif psikologi, reaksi defensif terhadap kritik biasanya bukan muncul begitu saja, melainkan merupakan hasil dari pola pikir, pengalaman masa lalu, dan mekanisme perlindungan diri.
Orang yang sulit menerima kritik sering kali menunjukkan kebiasaan-kebiasaan tertentu yang bersifat defensif. Kebiasaan ini bukan hanya memengaruhi hubungan sosial, tetapi juga menghambat perkembangan diri.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh kebiasaan defensif yang umum ditemukan menurut kajian psikologi.
1. Langsung Menolak atau Membantah Kritik
Alih-alih mendengarkan, mereka cenderung langsung berkata “tidak benar” atau “itu bukan salah saya.” Reaksi ini biasanya terjadi secara otomatis, bahkan sebelum mereka benar-benar memahami isi kritik tersebut.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai bentuk ego defense mechanism—cara pikiran melindungi diri dari rasa tidak nyaman. Penolakan ini membuat seseorang merasa aman sesaat, tetapi menghambat refleksi diri.
2. Menganggap Kritik sebagai Serangan Pribadi
Orang yang defensif sering kali tidak bisa memisahkan antara kritik terhadap tindakan dan kritik terhadap diri mereka sebagai individu.
Akibatnya, komentar sederhana seperti “presentasimu kurang jelas” bisa diterjemahkan menjadi “kamu tidak kompeten.” Persepsi ini memicu emosi negatif seperti marah, malu, atau tersinggung.
3. Membalikkan Kesalahan ke Orang Lain
Salah satu kebiasaan paling umum adalah blaming. Ketika dikritik, mereka akan mencari kesalahan pihak lain untuk mengalihkan perhatian.
Contohnya:
“Aku terlambat karena kamu tidak mengingatkan.”
Dalam psikologi sosial, ini berkaitan dengan self-serving bias, yaitu kecenderungan melindungi harga diri dengan menghindari tanggung jawab atas kesalahan.
4. Memberikan Pembelaan Berlebihan
Alih-alih menerima sebagian kebenaran dalam kritik, mereka akan menjelaskan panjang lebar untuk membenarkan diri.
Penjelasan ini sering kali bukan untuk klarifikasi, melainkan untuk mempertahankan citra diri. Mereka merasa harus selalu “benar,” sehingga kritik dianggap sebagai ancaman terhadap identitas mereka.
5. Menarik Diri atau Menghindar
Tidak semua reaksi defensif terlihat agresif. Beberapa orang justru memilih diam, menjauh, atau menghindari situasi yang berpotensi mengandung kritik.
Ini disebut sebagai avoidance coping—strategi menghindari ketidaknyamanan. Meskipun terlihat tenang, pola ini tetap merugikan karena menghambat komunikasi yang sehat.
6. Menyimpan Dendam atau Rasa Kesal
Alih-alih memproses kritik secara objektif, mereka menyimpannya sebagai luka emosional. Kritik dianggap sebagai penghinaan yang sulit dilupakan.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat merusak hubungan interpersonal karena munculnya sikap pasif-agresif atau ketidakpercayaan terhadap orang lain.
7. Sulit Mengakui Kesalahan
Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian dan rasa aman secara emosional. Orang yang defensif sering kali merasa bahwa mengakui kesalahan berarti “kalah” atau “lemah.”
Padahal, dalam psikologi perkembangan, kemampuan mengakui kesalahan justru merupakan tanda kedewasaan emosional dan growth mindset.
Mengapa Seseorang Menjadi Defensif?
Kebiasaan defensif biasanya berakar pada beberapa faktor, seperti:
Harga diri yang rapuh
Pengalaman masa lalu yang penuh kritik keras
Pola asuh yang tidak memberi ruang untuk salah
Perfeksionisme berlebihan
Ketakutan terhadap penolakan sosial
Otak secara alami berusaha menghindari rasa tidak nyaman. Kritik, terutama yang disampaikan dengan cara kurang tepat, bisa memicu respons “lawan atau lari” (fight or flight).
Cara Mengurangi Sikap Defensif
Mengubah kebiasaan ini bukan hal instan, tetapi sangat mungkin dilakukan. Beberapa langkah yang bisa dicoba:
Berhenti sejenak sebelum merespons
Beri waktu untuk memahami kritik tanpa reaksi emosional langsung.
Pisahkan kritik dari identitas diri
Kritik adalah tentang tindakan, bukan nilai diri sebagai manusia.
Latih self-awareness
Sadari pola reaksi defensif yang sering muncul.
Fokus pada manfaat kritik
Tanyakan: “Apa yang bisa saya pelajari dari ini?”
Bangun rasa aman dalam diri
Semakin kuat rasa percaya diri, semakin kecil kebutuhan untuk bersikap defensif.
Penutup
Tidak semua kritik menyenangkan, tetapi hampir selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari darinya. Sikap defensif mungkin melindungi perasaan dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang justru menghambat pertumbuhan pribadi dan hubungan sosial.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
