Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 April 2026 | 18.34 WIB

7 Kebiasaan Defensif Orang yang Tidak Bisa Menerima Kritik, Menurut Psikologi

seseorang yang tidak bisa menerima kritik. (Freepik/namii9) - Image

seseorang yang tidak bisa menerima kritik. (Freepik/namii9)



JawaPos.com - Menerima kritik adalah salah satu keterampilan emosional yang tidak mudah dimiliki semua orang. Bagi sebagian individu, kritik terasa seperti serangan pribadi, bukan sebagai masukan yang membangun.

Dalam perspektif psikologi, reaksi defensif terhadap kritik biasanya bukan muncul begitu saja, melainkan merupakan hasil dari pola pikir, pengalaman masa lalu, dan mekanisme perlindungan diri.

Orang yang sulit menerima kritik sering kali menunjukkan kebiasaan-kebiasaan tertentu yang bersifat defensif. Kebiasaan ini bukan hanya memengaruhi hubungan sosial, tetapi juga menghambat perkembangan diri.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh kebiasaan defensif yang umum ditemukan menurut kajian psikologi.

1. Langsung Menolak atau Membantah Kritik

Alih-alih mendengarkan, mereka cenderung langsung berkata “tidak benar” atau “itu bukan salah saya.” Reaksi ini biasanya terjadi secara otomatis, bahkan sebelum mereka benar-benar memahami isi kritik tersebut.

Dalam psikologi, ini dikenal sebagai bentuk ego defense mechanism—cara pikiran melindungi diri dari rasa tidak nyaman. Penolakan ini membuat seseorang merasa aman sesaat, tetapi menghambat refleksi diri.

2. Menganggap Kritik sebagai Serangan Pribadi

Orang yang defensif sering kali tidak bisa memisahkan antara kritik terhadap tindakan dan kritik terhadap diri mereka sebagai individu.

Akibatnya, komentar sederhana seperti “presentasimu kurang jelas” bisa diterjemahkan menjadi “kamu tidak kompeten.” Persepsi ini memicu emosi negatif seperti marah, malu, atau tersinggung.

3. Membalikkan Kesalahan ke Orang Lain

Salah satu kebiasaan paling umum adalah blaming. Ketika dikritik, mereka akan mencari kesalahan pihak lain untuk mengalihkan perhatian.

Contohnya:
“Aku terlambat karena kamu tidak mengingatkan.”

Dalam psikologi sosial, ini berkaitan dengan self-serving bias, yaitu kecenderungan melindungi harga diri dengan menghindari tanggung jawab atas kesalahan.

4. Memberikan Pembelaan Berlebihan

Alih-alih menerima sebagian kebenaran dalam kritik, mereka akan menjelaskan panjang lebar untuk membenarkan diri.

Penjelasan ini sering kali bukan untuk klarifikasi, melainkan untuk mempertahankan citra diri. Mereka merasa harus selalu “benar,” sehingga kritik dianggap sebagai ancaman terhadap identitas mereka.

5. Menarik Diri atau Menghindar

Tidak semua reaksi defensif terlihat agresif. Beberapa orang justru memilih diam, menjauh, atau menghindari situasi yang berpotensi mengandung kritik.

Ini disebut sebagai avoidance coping—strategi menghindari ketidaknyamanan. Meskipun terlihat tenang, pola ini tetap merugikan karena menghambat komunikasi yang sehat.

6. Menyimpan Dendam atau Rasa Kesal

Alih-alih memproses kritik secara objektif, mereka menyimpannya sebagai luka emosional. Kritik dianggap sebagai penghinaan yang sulit dilupakan.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat merusak hubungan interpersonal karena munculnya sikap pasif-agresif atau ketidakpercayaan terhadap orang lain.

7. Sulit Mengakui Kesalahan

Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian dan rasa aman secara emosional. Orang yang defensif sering kali merasa bahwa mengakui kesalahan berarti “kalah” atau “lemah.”

Padahal, dalam psikologi perkembangan, kemampuan mengakui kesalahan justru merupakan tanda kedewasaan emosional dan growth mindset.

Mengapa Seseorang Menjadi Defensif?

Kebiasaan defensif biasanya berakar pada beberapa faktor, seperti:

Harga diri yang rapuh
Pengalaman masa lalu yang penuh kritik keras
Pola asuh yang tidak memberi ruang untuk salah
Perfeksionisme berlebihan
Ketakutan terhadap penolakan sosial

Otak secara alami berusaha menghindari rasa tidak nyaman. Kritik, terutama yang disampaikan dengan cara kurang tepat, bisa memicu respons “lawan atau lari” (fight or flight).

Cara Mengurangi Sikap Defensif

Mengubah kebiasaan ini bukan hal instan, tetapi sangat mungkin dilakukan. Beberapa langkah yang bisa dicoba:

Berhenti sejenak sebelum merespons
Beri waktu untuk memahami kritik tanpa reaksi emosional langsung.
Pisahkan kritik dari identitas diri
Kritik adalah tentang tindakan, bukan nilai diri sebagai manusia.
Latih self-awareness
Sadari pola reaksi defensif yang sering muncul.
Fokus pada manfaat kritik
Tanyakan: “Apa yang bisa saya pelajari dari ini?”
Bangun rasa aman dalam diri
Semakin kuat rasa percaya diri, semakin kecil kebutuhan untuk bersikap defensif.
Penutup

Tidak semua kritik menyenangkan, tetapi hampir selalu ada sesuatu yang bisa dipelajari darinya. Sikap defensif mungkin melindungi perasaan dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang justru menghambat pertumbuhan pribadi dan hubungan sosial.

Belajar menerima kritik bukan berarti menerima semuanya tanpa filter, melainkan membuka ruang untuk evaluasi diri secara sehat. Pada akhirnya, kemampuan ini adalah kunci untuk berkembang—baik secara pribadi maupun profesional.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore