Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 April 2026 | 23.14 WIB

Cara Agar Anak Menghormati Anda Saat Mereka Dewasa, Tinggalkan 7 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

Seseorang yang dihormati oleh anak-anak yang telah dewasa. (Freepik/freepik) - Image

Seseorang yang dihormati oleh anak-anak yang telah dewasa. (Freepik/freepik)


JawaPos.com - Banyak orang tua berharap satu hal sederhana dari anak-anak mereka ketika dewasa nanti, yakni dihormati.

Bukan karena takut, bukan karena kewajiban, tetapi karena adanya rasa hormat yang tulus. Namun, rasa hormat seperti ini tidak muncul begitu saja. Ia terbentuk dari pengalaman masa kecil, pola interaksi, dan kebiasaan yang dibangun orang tua sejak dini.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa hubungan orang tua–anak yang sehat bukan ditentukan oleh seberapa “keras” atau “lunak” Anda mendidik, melainkan oleh konsistensi, empati, dan rasa saling menghargai. Sayangnya, ada beberapa kebiasaan umum yang justru merusak fondasi tersebut tanpa disadari.

Dilansir dari Expert Editor, jika Anda ingin anak Anda tumbuh menjadi pribadi yang tetap menghormati Anda hingga dewasa, berikut tujuh kebiasaan yang sebaiknya mulai Anda tinggalkan.

1. Selalu Ingin Benar dan Tidak Mau Minta Maaf

Banyak orang tua merasa bahwa mengakui kesalahan di depan anak akan menurunkan wibawa. Padahal, justru sebaliknya.

Ketika Anda bersedia mengatakan, “Maaf, tadi Mama/Papa salah,” Anda sedang mengajarkan kerendahan hati dan kejujuran emosional. Anak belajar bahwa menghormati orang lain tidak berarti harus selalu benar.

Jika Anda terus mempertahankan ego dan tidak pernah mengakui kesalahan, anak mungkin akan patuh saat kecil, tetapi menyimpan jarak emosional saat dewasa.

2. Menggunakan Rasa Takut sebagai Alat Didik

Ancaman, bentakan, atau hukuman berlebihan mungkin efektif dalam jangka pendek. Anak jadi menurut. Tapi dalam jangka panjang, ini merusak hubungan.

Psikologi menunjukkan bahwa rasa takut tidak membangun rasa hormat—ia hanya menciptakan kepatuhan sementara. Ketika anak tumbuh dewasa dan tidak lagi bergantung pada Anda, rasa takut itu hilang, dan seringkali tidak digantikan dengan rasa hormat.

Yang tersisa justru bisa berupa jarak, atau bahkan penolakan.

3. Tidak Mendengarkan Anak dengan Sungguh-Sungguh

Banyak orang tua mendengar, tapi tidak benar-benar mendengarkan. Anak berbicara, tetapi responsnya sekadar cepat memberi nasihat, mengoreksi, atau bahkan mengabaikan.

Padahal, didengarkan adalah salah satu kebutuhan emosional paling dasar manusia.

Jika sejak kecil anak merasa suaranya tidak penting, mereka akan berhenti berbagi. Dan saat dewasa, hubungan itu menjadi kering—tidak ada kedekatan, hanya formalitas.

4. Terlalu Mengontrol Semua Hal dalam Hidup Anak

Mengatur jadwal, memilihkan teman, menentukan pilihan hidup—semua demi “yang terbaik.” Niatnya baik, tetapi jika berlebihan, ini menghambat kemandirian.

Anak yang tumbuh di bawah kontrol ketat sering kali:

Tidak percaya diri mengambil keputusan
Atau justru memberontak saat punya kesempatan

Rasa hormat sejati tumbuh ketika anak merasa dipercaya, bukan dikendalikan.

5. Membandingkan Anak dengan Orang Lain

“Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?”
“Lihat temanmu, nilainya lebih bagus.”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya dalam. Perbandingan membuat anak merasa tidak cukup baik dan tidak diterima apa adanya.

Dalam jangka panjang, ini bisa merusak harga diri dan hubungan dengan orang tua. Anak mungkin tetap “berprestasi,” tetapi bukan karena hormat—melainkan karena ingin memenuhi ekspektasi atau menghindari kritik.

6. Tidak Konsisten dalam Aturan dan Sikap

Hari ini boleh, besok tidak. Kadang tegas, kadang sangat longgar. Ketidakkonsistenan membuat anak bingung tentang batasan dan nilai.

Psikologi menunjukkan bahwa konsistensi adalah kunci rasa aman. Anak yang merasa aman lebih mudah mengembangkan rasa percaya—dan dari situlah rasa hormat tumbuh.

Tanpa konsistensi, anak bisa melihat orang tua sebagai tidak dapat diandalkan.

7. Mengabaikan Kebutuhan Emosional Anak

Memberikan makanan, pendidikan, dan fasilitas saja tidak cukup. Anak juga membutuhkan kehangatan emosional: pelukan, perhatian, validasi perasaan.

Kalimat seperti:

“Ah, kamu terlalu lebay.”
“Gitu saja nangis.”

bisa membuat anak merasa emosinya tidak valid.

Anak yang tumbuh tanpa validasi emosional cenderung menjaga jarak secara emosional saat dewasa. Mereka mungkin tetap berinteraksi, tetapi tanpa kedekatan yang hangat.

Penutup: Hormat Tidak Bisa Dipaksa, Harus Dibangun

Rasa hormat dari anak kepada orang tua bukanlah hasil dari otoritas semata, melainkan dari hubungan yang sehat dan penuh respek sejak awal.

Dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan di atas, Anda tidak hanya membangun kedisiplinan, tetapi juga menciptakan hubungan yang kuat, hangat, dan saling menghargai.

Pada akhirnya, tujuan utama bukan sekadar membuat anak patuh saat kecil—melainkan tetap dekat, peduli, dan menghormati Anda ketika mereka sudah dewasa dan mandiri.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore