
seseorang yang terlihat baik-baik (Freepik/freepik)
JawaPos.com - Di kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu orang-orang yang tampak kuat, ceria, dan “baik-baik saja.” Mereka tetap bekerja, bercanda, dan menjalani rutinitas seperti biasa. Namun, psikologi menunjukkan bahwa tidak semua penderitaan terlihat jelas di permukaan. Banyak orang yang justru paling pandai menyembunyikan luka terdalamnya.
Fenomena ini sering disebut sebagai high-functioning distress—kondisi di mana seseorang tetap berfungsi secara normal, tetapi mengalami tekanan emosional yang berat di dalam dirinya.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat 7 perilaku halus yang sering muncul pada orang yang terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang hancur secara batin.
1. Terlalu Sering Mengatakan “Aku Baik-Baik Saja”
Ini mungkin terdengar sepele, tetapi menjadi tanda paling umum.
Orang yang benar-benar baik biasanya tidak perlu terus-menerus meyakinkan orang lain bahwa dirinya baik-baik saja. Sebaliknya, mereka yang sedang terluka sering menggunakan kalimat ini sebagai “tameng” untuk menghindari pertanyaan lebih dalam.
Secara psikologis, ini adalah bentuk emotional avoidance—usaha menghindari menghadapi atau mengungkapkan emosi yang menyakitkan.
2. Tetap Produktif Secara Berlebihan
Mereka tampak sibuk, bahkan sangat sibuk. Jadwal penuh, pekerjaan selesai tepat waktu, bahkan sering overachieve.
Namun, di balik itu, produktivitas ini sering menjadi cara untuk:
Mengalihkan pikiran dari rasa sakit
Menghindari kesepian
Menekan emosi yang belum terselesaikan
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai overcompensation, yaitu mencoba “menutup” kekosongan emosional dengan pencapaian eksternal.
3. Menjadi Pendengar yang Sangat Baik, tetapi Tidak Pernah Bercerita
Orang seperti ini selalu ada untuk orang lain. Mereka mendengarkan, memberi saran, dan terlihat sangat empatik.
Namun anehnya:
Mereka jarang membuka diri
Mereka menghindari berbicara tentang diri sendiri
Mereka cepat mengalihkan topik jika ditanya
Ini bisa menjadi tanda bahwa mereka merasa:
Bebannya terlalu berat untuk dibagikan
Atau takut dianggap lemah
4. Humor yang Terlalu Sering Digunakan sebagai Pelindung
Mereka sering bercanda, bahkan tentang hal-hal yang menyakitkan. Orang lain mungkin melihatnya sebagai pribadi yang santai dan menyenangkan.
Namun, dalam banyak kasus, humor digunakan sebagai:
Mekanisme pertahanan (defense mechanism)
Cara untuk menghindari emosi yang sebenarnya
Istilahnya dikenal sebagai self-deprecating humor, yaitu bercanda tentang diri sendiri untuk menyembunyikan rasa sakit yang nyata.
5. Menghindari Momen Sendiri Terlalu Lama
Orang yang sedang hancur di dalam sering merasa tidak nyaman saat sendirian.
Ketika sendiri:
Pikiran negatif muncul
Emosi yang ditekan mulai terasa
Rasa kosong menjadi lebih nyata
Akibatnya, mereka cenderung:
Terus mencari distraksi (media sosial, kerja, hiburan)
Menghindari refleksi diri
6. Tampak Tenang, tetapi Mudah Lelah Secara Emosional
Di luar, mereka terlihat stabil dan terkendali. Namun, di dalam, mereka mengalami kelelahan emosional yang mendalam.
Tanda-tandanya:
Cepat merasa lelah tanpa alasan jelas
Kehilangan energi untuk hal-hal kecil
Sulit merasa benar-benar bahagia
Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan emotional burnout—kelelahan akibat menahan emosi terlalu lama.
7. Perfeksionisme yang Diam-Diam Menyiksa
Mereka menetapkan standar tinggi untuk diri sendiri:
Harus selalu kuat
Tidak boleh gagal
Tidak boleh terlihat lemah
Perfeksionisme ini sering menjadi cara untuk:
Mengontrol sesuatu ketika hidup terasa kacau
Mencari validasi dari luar
Namun ironisnya, ini justru memperburuk kondisi mental karena:
Mereka tidak pernah merasa cukup
Mereka terus menekan diri sendiri
Kenapa Banyak Orang Menyembunyikan Rasa Sakitnya?
Menurut psikologi, ada beberapa alasan utama:
Takut dihakimi atau dianggap lemah
Tidak ingin membebani orang lain
Terbiasa menekan emosi sejak kecil
Tidak tahu cara mengekspresikan perasaan dengan sehat
Akibatnya, mereka memilih untuk “terlihat baik-baik saja,” meskipun di dalamnya berantakan.
Penutup: Tidak Semua yang Terlihat Kuat Itu Baik-Baik Saja
Salah satu pelajaran penting dari psikologi adalah:
penampilan luar tidak selalu mencerminkan kondisi batin seseorang.
Orang yang paling sering tersenyum bisa jadi adalah orang yang paling lelah.
Orang yang paling kuat terlihat bisa jadi sedang berjuang sendirian.
Jika kamu mengenali tanda-tanda ini pada diri sendiri atau orang lain:
Cobalah untuk lebih jujur terhadap perasaan
Beri ruang untuk berbicara dan didengar
Jangan ragu mencari bantuan profesional jika diperlukan
