Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Maret 2026 | 22.43 WIB

9 Hal yang Diam-Diam Dibawa oleh “Anak Baik” dalam Keluarga hingga Dewasa yang Jarang Dipahami oleh Anak Kesayangan

seseorang yang menjadi anak baik dalam keluarga. (Freepik/freepik) - Image

seseorang yang menjadi anak baik dalam keluarga. (Freepik/freepik)


JawaPos.com - Dalam banyak keluarga, ada satu peran yang sering dianggap “ideal”: anak baik. Ia patuh, tidak membantah, tidak merepotkan, dan sering menjadi kebanggaan orang tua. Di sisi lain, ada juga “anak kesayangan” yang lebih dimaklumi, lebih diperhatikan, atau bahkan lebih dimanjakan.

Sekilas, menjadi anak baik tampak seperti posisi yang menguntungkan. Namun menurut perspektif psikologi perkembangan, peran ini sering membawa beban emosional yang tidak terlihat—dan justru terbawa hingga dewasa.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (25/3), terdapat 9 hal yang diam-diam dibawa oleh “anak baik” hingga dewasa, yang sering kali tidak pernah benar-benar dipahami oleh anak kesayangan dalam keluarga.

1. Kecenderungan Memendam Emosi

Sejak kecil, anak baik belajar bahwa menjadi “baik” berarti tidak marah, tidak mengeluh, dan tidak menyusahkan. Akibatnya, mereka terbiasa menekan emosi negatif.

Saat dewasa, hal ini bisa berubah menjadi:

Sulit mengekspresikan perasaan
Menahan marah hingga meledak
Merasa tidak nyaman saat konflik

Sementara itu, anak kesayangan sering lebih bebas mengekspresikan emosi—dan tidak memahami kenapa saudara mereka terlihat “dingin” atau tertutup.

2. Rasa Bersalah yang Berlebihan

Anak baik sering dikondisikan untuk menjaga harmoni keluarga. Mereka merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain.

Dampaknya:

Mudah merasa bersalah meski tidak salah
Sulit berkata “tidak”
Mengorbankan diri sendiri demi orang lain

Hal ini sering tidak dipahami oleh anak kesayangan yang terbiasa menjadi prioritas, bukan penjaga keseimbangan.

3. Takut Mengecewakan Orang Lain

Anak baik tumbuh dengan identitas: “aku dicintai karena aku tidak mengecewakan.”

Akibatnya:

Perfeksionisme
Overthinking sebelum mengambil keputusan
Takut gagal secara berlebihan

Bagi anak kesayangan, kegagalan mungkin tidak terasa mengancam hubungan dengan orang tua—berbeda dengan anak baik.

4. Kesulitan Mengenali Kebutuhan Diri Sendiri

Karena terlalu fokus memenuhi harapan orang lain, anak baik sering kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri.

Saat dewasa:

Bingung menentukan keinginan pribadi
Tidak tahu apa yang sebenarnya membuatnya bahagia
Terbiasa mengikuti, bukan memilih

Ini membuat mereka terlihat “pasif”, padahal sebenarnya mereka hanya tidak terbiasa didengarkan.

5. Kebiasaan Menjadi “People Pleaser”

Anak baik sering tumbuh menjadi seseorang yang selalu ingin menyenangkan orang lain.

Ciri-cirinya:

Menghindari konflik
Mengiyakan sesuatu meski tidak ingin
Mengutamakan kenyamanan orang lain dibanding diri sendiri

Sementara anak kesayangan lebih terbiasa menjadi pusat perhatian, anak baik justru menjadi penyesuai.

6. Beban Tanggung Jawab yang Tidak Terlihat

Dalam banyak keluarga, anak baik sering “diandalkan” tanpa disadari:

Menjadi penengah konflik
Menjadi contoh bagi saudara lain
Memikul ekspektasi tinggi

Namun beban ini jarang diakui secara eksplisit. Mereka terlihat kuat—padahal lelah.

Anak kesayangan sering tidak menyadari bahwa ada distribusi peran yang tidak seimbang sejak awal.

7. Kesulitan Menerima Diri Apa Adanya

Karena terbiasa dinilai dari perilaku “baik”, anak baik sering merasa:
“Aku berharga hanya jika aku memenuhi ekspektasi.”

Akibatnya:

Self-worth bergantung pada validasi eksternal
Sulit menerima kekurangan
Takut menunjukkan sisi “tidak sempurna”

Berbeda dengan anak kesayangan yang sering merasa dicintai tanpa syarat.

8. Hubungan Dewasa yang Tidak Seimbang

Saat dewasa, pola masa kecil sering terbawa ke hubungan:

Menjadi pasangan yang terlalu memberi
Menarik pasangan yang dominan atau bergantung
Sulit menetapkan batasan (boundaries)

Ini bukan kebetulan, melainkan pola yang terbentuk sejak kecil.

9. Kerinduan untuk Didengar, Bukan Hanya Diandalkan

Di balik semua “kebaikan”, ada kebutuhan sederhana yang sering tidak terpenuhi:
ingin didengar, dipahami, dan diterima apa adanya.

Anak baik sering tumbuh dengan perasaan:

“Aku harus kuat”
“Aku tidak boleh merepotkan”
“Perasaanku tidak sepenting orang lain”

Sementara anak kesayangan mungkin tidak pernah merasakan kekosongan ini karena sejak awal sudah mendapatkan ruang emosional.

Penutup

Menjadi “anak baik” bukanlah kesalahan. Itu adalah bentuk adaptasi terhadap lingkungan keluarga. Namun, ketika peran itu menjadi satu-satunya identitas, ia bisa berubah menjadi beban yang tidak terlihat.

Memahami dinamika ini bukan untuk menyalahkan siapa pun—melainkan untuk membuka kesadaran bahwa setiap anak dalam keluarga memiliki pengalaman emosional yang berbeda.

Dan bagi mereka yang tumbuh sebagai anak baik, perjalanan dewasa sering kali adalah tentang belajar:

Mengakui perasaan sendiri
Menetapkan batasan

Dan akhirnya… memilih diri sendiri tanpa rasa bersalah***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore