Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Oktober 2025 | 06.30 WIB

Fenomena iPhone dan Mentalitas Gengsi: Mengapa Banyak Orang Rela Miskin Demi Terlihat Kaya

Ilustrasi Orang Rela Miskin Demi Terlihat Kaya (lookstudio/freepik) - Image

Ilustrasi Orang Rela Miskin Demi Terlihat Kaya (lookstudio/freepik)

JawaPos.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa seseorang dengan penghasilan pas-pasan bisa bergaya seperti orang kaya?


Mereka memiliki ponsel terbaru, mengenakan pakaian bermerek, dan bahkan tak ragu mencicil barang mewah yang nilainya jauh di atas kemampuan finansialnya.

Fenomena ini sering memunculkan anggapan bahwa mereka hanya haus gengsi dan tidak pandai mengelola uang. Namun, kebenarannya jauh lebih kompleks dari sekadar pamer.

Di balik perilaku tersebut, ada tekanan sosial, kebutuhan validasi, dan bahkan pengaruh sistem ekonomi yang diam-diam membentuk cara berpikir seseorang.

Bagi sebagian orang, membeli barang mahal bukan hanya tentang kemewahan, tetapi juga tentang rasa aman, harga diri, dan pelarian dari realitas kehidupan yang penuh tekanan.

Melalui pendekatan psikologi keuangan, mari kita kupas alasan mengapa banyak orang kelas menengah ke bawah tampak “tidak rasional” dalam mengambil keputusan finansial.

Serta strategi agar Anda bisa bijak menghadapi godaan gaya hidup modern yang dihimpun dari kanal YouTube Satu Persen-Indonesian Life School.

1. Psikologi Kemiskinan: Otak yang Dipaksa Fokus pada Jangka Pendek

Kondisi kekurangan atau scarcity tidak hanya berdampak pada dompet, tetapi juga pada cara kerja otak.

Saat seseorang hidup dalam tekanan finansial, pikirannya terus-menerus mencari cara bertahan dari hari ke hari.

Mereka menjadi ahli mengatur uang pas-pasan, namun sulit berpikir untuk jangka panjang.

Akibatnya, keputusan yang tampak tidak masuk akal bagi orang berkecukupan seperti mencicil iPhone sebenarnya adalah hasil dari otak yang sudah lelah oleh stres dan kecemasan finansial.

Dalam kondisi mental seperti itu, membeli barang mewah bisa menjadi bentuk “pelarian” sementara.

Rasa bangga, validasi sosial, dan kebahagiaan singkat dari kepemilikan benda mahal terasa jauh lebih berharga dibandingkan menabung untuk masa depan yang tampak samar.

Itulah mengapa bagi mereka, membeli iPhone tidak hanya soal barang, tetapi tentang harga diri.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore