
Ilustrasi, orang yang selalu overthinking terhadap penilaian orang lain. (Freepik/ stockking)
JawaPos.com - Tanpa disadari overthinking terhadap penilaian orang lain tentang diri Anda akan melelahkan mental. Anda terus-menerus meragukan diri sendiri dan hidup di bawah mikroskop.
Tapi, dengan kesadaran yang kuat, Anda dapat mengendalikan overthinking ini dan menghadirkan kembali kedamaian dalam diri.
Sekarang, duduklah rileks, dan mulailah pelajari delapan hal yang mampu menghentikan overthinking terhadap penilaian orang lain terhadap diri Anda seperti yang dilansir JawaPos.com dari geediting pada Jumat (17/10), berikut ini.
1. Sejatinya Orang Lebih Fokus pada Diri Mereka Sendiri
Anda terlalu pusing memikirkan pandangan orang lain terhadap Anda, padahal kenyataannya orang-orang terlalu asyik dengan kehidupan pribadinya. Buktinya, berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk memikirkan diri sendiri dibandingkan memikirkan orang lain? Jadi, sebenarnya diri sendirilah pengkritik terbesar itu.
Bila di kepala Anda memberi tahu bahwa semua orang terus-menerus mengamati dan menghakimi setiap tindakan Anda, itu bohong! Mereka lebih peduli dengan masalah, rasa tidak aman, dan kehidupan mereka sendiri.
Mereka tidak menganalisis tindakan atau perkataan Anda sebanyak yang Anda pikirkan. Sadarilah hal itu, Anda akan merasa jauh lebih tenang, meringankan beban Anda, dan lebih fokus menjadi diri sendiri yang autentik.
Jadi, jangan berasumsi kalau orang lain terus-menerus memikirkan Anda. Mereka hanya mencoba menjalani hidup mereka sendiri, sama seperti Anda.
2. Persepsi Anda tentang Diri Sendiri seringkali Bias
Sering kali persepsi pribadi tentang diri sendiri bias, karena dipengaruhi rasa tidak aman yang dirasakan. Alhasil, kekurangan yang ada pada diri sendiri dibesar-besarkan dalam pikiran.
Padahal, kenyataannya sering kali hal tersebut tidak penting, tidak terlihat orang lain, atau justru jadi sesuatu yang orang lain hargai dalam diri Anda. Jadi, jangan terlalu memikirkan kekurangan diri sendiri. Ingat, Anda mungkin melihatnya dari sudut pandang yang terdistorsi.
3. Kesempurnaan adalah Mitos
Mengejar kesempurnaan hanya menyebabkan kesehatan mental memburuk. Bahkan studi menunjukkan, mengejar kesempurnaan berkaitan erat dengan depresi, kecemasan, dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya. Ini disebabkan gagasan 'sempurna' yang pada dasarnya keliru.
Jadi, tidak ada seorang pun yang sempurna. Setiap individu pasti memiliki kekuatan dan kelemahan, kemenangan dan juga kegagalan. Itulah bagian dari menjadi manusia.
Sering kali overthinking tentang bagaimana orang lain memandang Anda bermula dari keinginan untuk terlihat sempurna. Sementara mempertahankan kedok 'sempurna' itu melelahkan dan membuat stres.
Lepaskanlah keinginan untuk menjadi sempurna, maka kedamaian akan menghampiri Anda. Kesadaran ini juga membuat Anda mampu menerima kekurangan dan belajar dari kesalahan alih-alih terobsesi dengannya. Lalu, menerima ketidaksempurnaan pun membuat Anda lebih mudah dipahami dan didekati orang lain.
