
Ilustrasi seorang profesional yang sedang berbicara di rapat dengan rekan kerja, menggunakan bahasa tubuh yang terbuka namun penuh ketegasan./Freepik
JawaPos.com - Di lingkungan profesional, kata-kata yang Anda pilih memiliki bobot yang sangat besar terhadap bagaimana otoritas Anda dipersepsikan.
Bahkan frasa yang terdengar sopan sekalipun bisa secara tidak sadar merusak kredibilitas dan posisi Anda di kantor. Seorang pelatih eksekutif telah mengidentifikasi tujuh ungkapan yang sebaiknya kita hindari.
Melansir dari Geediting.com Senin (6/10), kebanyakan kebocoran otoritas terjadi dalam lima kata pertama yang kita ucapkan. Mengubah kebiasaan linguistik ini adalah langkah fundamental untuk membangun kehadiran yang lebih kuat dan percaya diri. Mari kita ulas ketujuh ungkapan tersebut dan alasan di baliknya.
1. "Maaf, hanya sebentar bertanya..."
Menggunakan kata "maaf" di awal pertanyaan membuat kontribusi Anda terdengar seperti gangguan semata. Ungkapan "hanya" dan "sebentar" lebih lanjut mengecilkan kehadiran Anda dalam percakapan penting. Hal ini membuat rekan kerja secara tidak sadar menganggap ide-ide Anda hanyalah pilihan sampingan.
2. "Mungkin saya salah, tetapi..."
Ungkapan ini atau yang setara dengannya seperti memagari perkataan yang dapat mengaburkan pemikiran Anda. Orang lain akan fokus pada keraguan Anda, bukannya pada ide atau pandangan yang disampaikan. Menggunakan bahasa kondisional seperti ini justru membuat otoritas Anda melemah.
3. "Apakah ini masuk akal?"
Kalimat ini sering diucapkan untuk meminta validasi. Ungkapan ini mengalihkan fokus dari ide yang disampaikan ke kejelasan kemampuan berbicara Anda. Lebih baik tanyakan umpan balik spesifik dengan frasa seperti, "Pertanyaan apa yang muncul dari bahasan ini?".
4. "Saya bukan ahli, tetapi..."
Mengawali pandangan dengan menyangkal keahlian Anda adalah bentuk hedging atau pembatasan diri. Hal ini dapat membuat orang lain meragukan hak Anda untuk berada dalam diskusi tersebut. Lebih baik nyatakan pandangan Anda secara tegas tanpa perlu meminta maaf atau merendahkan diri.
5. "Kita harus..." (tanpa pemilik atau tenggat waktu)
Frasa ini terdengar tegas namun pada dasarnya melarutkan tanggung jawab yang ada di dalamnya. Tim akan mendengar "seseorang akan melakukannya", sehingga akhirnya tidak ada yang benar-benar mengambil tindakan. Keputusan harus selalu mencakup nama penanggung jawab dan tanggal penyelesaian yang pasti.
6. "Jika itu baik-baik saja untuk semua orang..."
Ungkapan ini menunjukkan kurangnya keyakinan pada keputusan yang diajukan. Bahasa yang terlalu bergantung pada persetujuan orang lain akan menempatkan otoritas di luar kendali Anda. Sebagai gantinya, sampaikan keputusan sebagai tindakan yang perlu diambil, bukan sebagai permintaan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
