JawaPos.com - Datang tepat waktu sering dianggap sebagai ukuran disiplin, profesionalitas, dan rasa hormat terhadap orang lain.
Namun, dalam kenyataannya, ada sebagian orang yang tampaknya ditakdirkan untuk selalu terlambat—meski sudah berusaha keras untuk memperbaikinya.
Mereka pasang alarm lebih awal, menyiapkan kebutuhan dari malam sebelumnya, bahkan membuat janji untuk berangkat lebih cepat.
Tetap saja, pada akhirnya mereka sering datang dengan napas tersengal, disertai permintaan maaf.
Fenomena ini ternyata bukan hanya masalah kebiasaan buruk semata. Psikologi modern menunjukkan bahwa orang-orang yang sering terlambat cenderung memiliki pola kepribadian tertentu.
Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (30/9), beberapa sifat ini bahkan mengejutkan, karena terkadang sifat positif justru menjadi penyebab keterlambatan mereka.
Mari kita telusuri tujuh sifat utama yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang sulit sekali tepat waktu.
1. Optimis Berlebihan terhadap Waktu
Banyak orang yang sering terlambat memiliki kecenderungan time optimism. Mereka yakin bisa menyelesaikan banyak hal dalam waktu singkat, padahal kenyataannya tidak realistis.
Misalnya, mereka berpikir “perjalanan cuma 15 menit” padahal normalnya butuh 30 menit.
Optimisme ini membuat mereka selalu merasa masih punya cukup waktu, sampai akhirnya terlambat lagi.
2. Kecenderungan Perfeksionis
Anehnya, perfeksionis justru sering terlambat. Sebelum berangkat, mereka ingin memastikan pakaian sudah rapi sempurna, dokumen sudah tertata, bahkan sekadar memastikan rumah ditinggalkan dalam kondisi ideal.
Semua detail kecil ini memakan waktu tambahan, sehingga jam keberangkatan selalu mundur.
Perfeksionis tidak suka meninggalkan sesuatu dalam keadaan “setengah jadi,” meski konsekuensinya adalah datang terlambat.
3. Suka Menunda dengan Alasan Kecil
Psikologi menyebut ini procrastination in disguise. Orang-orang ini menunda keberangkatan bukan karena malas, melainkan karena merasa “masih bisa melakukan satu hal kecil lagi.”
Misalnya, mencuci piring sebentar, mengecek email sebentar, atau menonton satu video singkat.
Masalahnya, setiap hal kecil ini menggerus waktu secara signifikan.
4. Mudah Tenggelam dalam Aktivitas (Time Blindness)
Ada istilah psikologis bernama time blindness, yaitu ketidakmampuan mengukur waktu dengan akurat.
Orang yang mengalaminya sering begitu tenggelam dalam satu aktivitas—bekerja, membaca, atau bahkan sekadar scrolling media sosial—hingga tidak sadar bahwa waktu sudah berjalan lebih cepat dari perkiraan.
Mereka baru tersadar ketika waktu sudah sangat mepet.
5. Cenderung Memiliki Jiwa Kreatif dan Impulsif
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara keterlambatan kronis dengan tingkat kreativitas.
Orang yang kreatif sering impulsif, mudah mendapat ide baru, atau tiba-tiba ingin mengeksekusi sesuatu di luar rencana.
Energi kreatif ini membuat mereka kurang disiplin dengan jadwal. Di sisi positif, mereka penuh inovasi. Di sisi negatif, waktu sering menjadi korban.
6. Tidak Suka Terburu-buru atau Tekanan Waktu
Ada juga orang yang secara kepribadian cenderung polikronik, yaitu lebih suka mengalir daripada terikat jadwal ketat.
Mereka merasa hidup lebih bermakna ketika tidak dikejar waktu. Pola pikir ini membuat mereka tidak memberi prioritas besar pada ketepatan waktu.
Alih-alih melihat keterlambatan sebagai masalah besar, mereka menganggapnya hal kecil yang wajar.
7. Mudah Terganggu oleh Stimulus Sekitar
Sifat terakhir yang sering ditemui adalah distraktibilitas tinggi. Bunyi notifikasi ponsel, percakapan singkat dengan orang rumah, atau hal-hal remeh bisa mengalihkan fokus mereka.
Ini sering dikaitkan dengan tipe kepribadian ekstrovert atau bahkan kecenderungan ADHD ringan.
Mereka mudah terdistraksi, lalu kehilangan kendali atas waktu yang sudah berjalan.
Kesimpulan: Antara Kelemahan dan Keunikan Kepribadian
Menariknya, sifat-sifat yang membuat orang sering terlambat ternyata tidak selalu negatif.
Optimisme, perfeksionisme, kreativitas, hingga fleksibilitas justru bisa menjadi kekuatan besar dalam kehidupan dan karier, asalkan diarahkan dengan benar.
Namun, memahami akar psikologis dari kebiasaan terlambat adalah langkah penting untuk memperbaikinya.
Dengan mengenali diri sendiri, seseorang bisa mulai membuat strategi yang lebih efektif—misalnya menambah buffer waktu, mengatur prioritas, atau melatih kesadaran diri terhadap waktu.
Jadi, jika Anda atau orang terdekat Anda termasuk tipe yang sering terlambat, jangan buru-buru menilai itu sebagai kemalasan atau ketidakpedulian.
Bisa jadi, di balik keterlambatan tersebut, tersimpan sifat-sifat mengejutkan yang justru menandakan keunikan kepribadian.
***