
Pernikahan bukan hanya soal cinta, tetapi juga tentang rasa dihargai, komunikasi yang sehat, dan kebersamaan. (Freepik)
JawaPos.com-Setiap pasangan tentu pernah merasa jengkel atau tidak puas terhadap hal-hal kecil dalam rumah tangga.
Mengeluh adalah hal wajar, bahkan bisa menjadi sarana untuk melepaskan emosi. Namun, ketika keluhan suami berubah menjadi pola berulang yang menyasar hal-hal mendasar dalam pernikahan, di situlah tanda bahaya mulai terlihat.
Psikolog pernikahan John Gottman menjelaskan bahwa keluhan sebaiknya dijadikan sarana komunikasi yang sehat: mengutarakan perasaan, menyebutkan situasi spesifik, dan meminta pasangan melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.
Sayangnya, tidak semua pasangan mampu mengelola keluhan dengan cara konstruktif.
Jika seorang suami mulai mengeluh tentang 11 hal berikut ini, kemungkinan besar pernikahannya sedang merosot.
Mari kita bahas satu per satu secara mendalam, dilansir dari laman Your Tango.
Ikatan emosional adalah pondasi pernikahan. Tanpa adanya kedekatan batin, hubungan mudah retak meski dari luar terlihat baik-baik saja.
Banyak suami yang mengeluh bahwa mereka tidak lagi merasa "nyambung" dengan istrinya. Mereka merasa tidak didengarkan, tidak dimengerti, bahkan kehilangan rasa aman untuk membuka diri.
Menurut pelatih kehidupan Wayne Parker, pasangan yang saling melindungi dari rasa sakit hati cenderung membangun keintiman emosional yang kuat. Jika seorang suami mengeluh tentang hal ini, bisa jadi ia merasa sendirian dalam pernikahannya.
Sinyal bahaya: ketika kehangatan digantikan oleh jarak emosional, hubungan mulai kehilangan daya tahannya.
Setiap orang butuh validasi dan penghargaan, terutama dari pasangan hidupnya. Suami yang sering berkata, “Aku merasa tidak dianggap,” sebenarnya sedang mengekspresikan luka batin yang dalam.
Bisa jadi ia merasa hanya dianggap sebagai mesin pencetak uang, atau usahanya membantu keluarga tidak pernah dilihat. Penulis kesehatan Jenna Fletcher menegaskan bahwa rasa tidak dihargai bisa merusak harga diri seseorang dan menimbulkan kebencian.
Dampak jangka panjang: suami yang terus merasa diabaikan akan kehilangan motivasi untuk memberi yang terbaik dalam pernikahan.
Masalah keuangan adalah salah satu pemicu perceraian terbesar. Ketika suami mulai mengeluh istrinya terlalu boros, itu bisa berarti ada ketidakselarasan dalam visi finansial rumah tangga.
Pakar keuangan James McWhinney menyarankan pasangan untuk menyamakan persepsi tentang pengeluaran dan tujuan jangka panjang. Tanpa kesepakatan, perbedaan cara mengelola uang bisa menjadi bom waktu dalam pernikahan.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
