Fenomena doomscrolling berdampak pada kesehatan mental, dari stres hingga kelelahan, tapi bisa diatasi dengan strategi bijak bermedia sosial.
JawaPos.com – Pernahkah Anda tanpa sadar terus menggulir layar ponsel hanya untuk membaca berita buruk atau informasi negatif? Kebiasaan ini dikenal dengan istilah doomscrolling. Fenomena ini semakin banyak ditemui seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan akses informasi tanpa batas.
Menurut penjelasan Alodokter, doomscrolling adalah kecenderungan seseorang untuk terus mencari, membaca, dan mengonsumsi konten negatif secara berlebihan, meskipun sadar bahwa hal itu bisa berdampak buruk pada kesehatan mental.
Aktivitas ini sering dilakukan di malam hari sebelum tidur, saat seseorang merasa ingin tetap “update” dengan informasi terbaru.
Mengapa Doomscrolling Terjadi?
Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan, kebiasaan ini muncul karena otak manusia memiliki bias terhadap informasi negatif. Secara psikologis, manusia cenderung lebih fokus pada hal-hal yang berbahaya atau mengancam, sebagai bentuk mekanisme bertahan hidup. Sayangnya, di era digital, pola ini justru membuat orang sulit berhenti menggulir berita buruk yang bertebaran di media sosial.
Hal serupa disampaikan Psikolog IPB University (2025), yang menyebut doomscrolling sering beriringan dengan zombiescrolling, yaitu kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan jelas. Keduanya dapat memicu fenomena brain rot atau kelelahan otak akibat paparan informasi berlebihan, terutama yang bernuansa negatif.
Baca Juga: Hati-Hati Doomscrolling, Kebiasaan Scroll Berita Buruk Bisa Picu Cemas dan Gangguan Mental
Dampak Psikologis Doomscrolling
Kebiasaan ini tidak hanya membuang waktu, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan mental. Artikel Harvard Health Publishing menegaskan bahwa doomscrolling dapat meningkatkan kecemasan, rasa khawatir berlebihan, stres kronis, hingga gangguan tidur.
Sementara itu, penelitian yang dimuat dalam Jurnal FLE (2022) menunjukkan adanya hubungan antara doomscrolling dengan meningkatnya gejala depresi, terutama pada kelompok usia muda yang paling aktif menggunakan media sosial.
Psikiater UGM juga mengingatkan bahwa kebiasaan ini bisa menurunkan produktivitas. Alih-alih mendapatkan informasi yang bermanfaat, individu justru terjebak dalam lingkaran kecemasan yang melelahkan. Selain itu, paparan berita buruk yang terus-menerus dapat membuat seseorang memiliki pandangan dunia yang lebih pesimis, bahkan meningkatkan risiko learned helplessness atau rasa tidak berdaya menghadapi keadaan.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, doomscrolling juga berpotensi memengaruhi kualitas hubungan sosial. Individu yang sering cemas karena berita negatif cenderung menarik diri, mudah lelah, dan sulit fokus ketika berinteraksi dengan orang lain. Hal ini tentu berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan.
Bagaimana Cara Mengatasinya?

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
