Ilustrasi siklus love bombing yang perlu diketahui agar terhindar dari hubungan toxic/freepik.com
JawaPos.com - Love bombing sering menjadi fase pembuka pada siklus hubungan yang manipulatif, terutama dalam hubungan dengan seseorang yang memiliki kecenderungan narsistik. Di tahap ini, pelaku akan membanjiri pasangannya dengan perhatian, pujian, dan kasih sayang yang berlebihan semuanya terlihat indah di permukaan.
Akan tetapi, topeng ini tidak akan bertahan lama. Ketika pelaku mulai kehilangan kendali atau tidak memperoleh respons yang mereka inginkan, sikap mereka bisa berubah drastis.
Melansir Choosing Therapy, berikut ini beberapa siklus love bombing yang perlu diketahui supaya terhindar dari hubungan toxic dan membuat kehidupan tidak baik.
Baca Juga: Kenali Sejak PDKT! Begini 7 Tanda Seseorang Melakukan Love Bombing dalam Sebuah Hubungan Percintaan
1. Idealis
Pada tahap awal hubungan, pelaku love bombing biasanya memasuki fase idealisasi fase di mana mereka memberikan perhatian dan kasih sayang secara berlebihan demi menciptakan kesan sempurna di mata calon pasangannya. Di sinilah love bombing diluncurkan, dengan tujuan membangun koneksi emosional yang kuat, menumbuhkan rasa percaya, dan menciptakan kedekatan yang intens dalam waktu singkat.
Namun sayangnya, di balik semua perhatian dan kasih sayang berlebihan yang diberikan di awal hubungan, umumnya tidak ada cinta tulus di sana. Semua itu lebih merupakan bagian dari taktik manipulatif yang dirancang dengan cermat guna mengikat pasangan secara emosional sejak awal.
Pelaku love bombing tahu bahwa semakin cepat mereka bisa membangun rasa kedekatan dan ketergantungan, semakin besar pula kendali yang dapat mereka miliki atas pasangannya. Inilah mengapa hubungan yang tampaknya romantis dan sempurna di permukaan, bisa saja menyimpan pola manipulasi emosional yang berbahaya di baliknya.
Baca Juga: Wajib Tahu! Perhatikan 5 Cara Melindungi Dirimu dari Love Bombing yang Dilakukan oleh Pasangan
2. Merendahkan
Jika love bombing terasa seperti hujan kasih sayang yang deras dan penuh pujian, maka merendahkan adalah kebalikannya yang menyakitkan. Setelah fase idealisasi selesai, pelaku manipulatif sering mulai memperlihatkan sisi aslinya dengan cara meremehkan, mengkritik secara berlebihan, sampai melontarkan hinaan yang mampu mengikis harga diri korban sedikit demi sedikit.
Merendahkan bukan sekadar ucapan tajam ini merupakan bentuk kekerasan emosional yang bertujuan mengontrol dan melemahkan korban. Pelaku menggunakan kritik dan komentar menyakitkan untuk menciptakan ketergantungan emosional, membuat korban merasa tidak berharga tanpa validasi dari mereka.
Ironisnya, fase merendahkan ini umumnya berjalan beriringan dengan teknik manipulasi lain seperti gaslighting di mana korban dibuat meragukan persepsi dan ingatannya sendiri.
Pelaku bisa dengan mudah beralih dari memuji secara berlebihan (love bombing) ke merendahkan dan memanipulasi pikiran, menciptakan siklus toxic yang sulit diputuskan oleh korban. Memahami pola ini sangat penting agar kita dapat lebih waspada terhadap hubungan yang tampak indah di awal, namun perlahan berubah menjadi jebakan emosional.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
