Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Agustus 2025 | 05.43 WIB

4 Siklus Love Bombing yang Perlu Diketahui supaya Terhindar dari Hubungan Toxic dan Membuat Kehidupan Tidak Baik

 Ilustrasi siklus love bombing yang perlu diketahui agar terhindar dari hubungan toxic/freepik.com

JawaPos.com - Love bombing sering menjadi fase pembuka pada siklus hubungan yang manipulatif, terutama dalam hubungan dengan seseorang yang memiliki kecenderungan narsistik. Di tahap ini, pelaku akan membanjiri pasangannya dengan perhatian, pujian, dan kasih sayang yang berlebihan semuanya terlihat indah di permukaan.

Akan tetapi, topeng ini tidak akan bertahan lama. Ketika pelaku mulai kehilangan kendali atau tidak memperoleh respons yang mereka inginkan, sikap mereka bisa berubah drastis.

Melansir Choosing Therapy, berikut ini beberapa siklus love bombing yang perlu diketahui supaya terhindar dari hubungan toxic dan membuat kehidupan tidak baik.

1. Idealis

Pada tahap awal hubungan, pelaku love bombing biasanya memasuki fase idealisasi fase di mana mereka memberikan perhatian dan kasih sayang secara berlebihan demi menciptakan kesan sempurna di mata calon pasangannya. Di sinilah love bombing diluncurkan, dengan tujuan membangun koneksi emosional yang kuat, menumbuhkan rasa percaya, dan menciptakan kedekatan yang intens dalam waktu singkat.

Namun sayangnya, di balik semua perhatian dan kasih sayang berlebihan yang diberikan di awal hubungan, umumnya tidak ada cinta tulus di sana. Semua itu lebih merupakan bagian dari taktik manipulatif yang dirancang dengan cermat guna mengikat pasangan secara emosional sejak awal.

Pelaku love bombing tahu bahwa semakin cepat mereka bisa membangun rasa kedekatan dan ketergantungan, semakin besar pula kendali yang dapat mereka miliki atas pasangannya. Inilah mengapa hubungan yang tampaknya romantis dan sempurna di permukaan, bisa saja menyimpan pola manipulasi emosional yang berbahaya di baliknya.

2. Merendahkan

Jika love bombing terasa seperti hujan kasih sayang yang deras dan penuh pujian, maka merendahkan adalah kebalikannya yang menyakitkan. Setelah fase idealisasi selesai, pelaku manipulatif sering mulai memperlihatkan sisi aslinya dengan cara meremehkan, mengkritik secara berlebihan, sampai melontarkan hinaan yang mampu mengikis harga diri korban sedikit demi sedikit.

Merendahkan bukan sekadar ucapan tajam ini merupakan bentuk kekerasan emosional yang bertujuan mengontrol dan melemahkan korban. Pelaku menggunakan kritik dan komentar menyakitkan untuk menciptakan ketergantungan emosional, membuat korban merasa tidak berharga tanpa validasi dari mereka.

Ironisnya, fase merendahkan ini umumnya berjalan beriringan dengan teknik manipulasi lain seperti gaslighting di mana korban dibuat meragukan persepsi dan ingatannya sendiri.

Pelaku bisa dengan mudah beralih dari memuji secara berlebihan (love bombing) ke merendahkan dan memanipulasi pikiran, menciptakan siklus toxic yang sulit diputuskan oleh korban. Memahami pola ini sangat penting agar kita dapat lebih waspada terhadap hubungan yang tampak indah di awal, namun perlahan berubah menjadi jebakan emosional.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore