
Ilustrasi platform media sosial (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Alex Navarro, seorang penggemar psikologi dan pengembangan diri, pernah merasa pikirannya terus-menerus dipenuhi oleh kebisingan media sosial. Bukan suara yang mengganggu, tapi semacam dengungan latar belakang yang selalu ada—seperti gatal yang tak bisa digaruk.
Hingga suatu hari, ia menyadari betapa banyak energi mentalnya terkuras hanya untuk menelusuri feed tanpa akhir, melihat unggahan orang-orang yang nyaris tak dikenalnya, serta mengonsumsi meme dan berita acak.
Setiap kali mencoba fokus pada sesuatu yang lebih mendalam, pikirannya malah tertarik kembali ke layar.
Jadi, ia mengambil keputusan drastis: berhenti total dari media sosial. Awalnya, rencananya hanya sebulan. Namun, setelah merasakan efeknya, sebulan berubah menjadi dua, lalu tiga, hingga akhirnya satu tahun penuh. Inilah yang ia pelajari, dikutip dari Blog Herald, Senin (24/3).
1. Waktu yang Dulu Habis untuk Scroll, Kini Jadi Waktu Nyata
Di minggu-minggu pertama, ia sering mengalami "anggota tubuh hantu"—refleks tanpa sadar untuk meraih ponsel dan membuka aplikasi yang sudah dihapus.
Ia bahkan sempat merasa bosan karena tak tahu harus mengisi waktu luangnya dengan apa.
Namun, kebosanan itulah yang justru membuka ruang baru. Tanpa kebiasaan menggulir layar, pikirannya mulai mengembara lebih bebas.
Ia mulai mencoret-coret ide di buku catatan, menulis lebih banyak, dan bahkan memulai proyek-proyek yang sebelumnya hanya ada dalam bayangannya.
Tentu, itu bukan transisi yang mudah. Ada kebiasaan yang sudah terbentuk bertahun-tahun: otot ibu jarinya secara otomatis mengetuk bagian layar tempat aplikasi dulu berada. Ia pun menyadari betapa media sosial telah menjadi semacam pengalihan otomatis dari setiap momen kosong dalam hidupnya.
Namun, begitu berhasil melewati fase itu, pikirannya mulai terasa lebih jernih.
2. Kreativitas yang Mengalir Lebih Bebas
Salah satu hal paling mengejutkan adalah bagaimana ide-ide baru muncul di saat-saat yang dulu diisi dengan scrolling tanpa tujuan.
Saat sedang duduk di kafe tanpa distraksi layar, pikirannya lebih bebas berimajinasi. Saat berjalan santai tanpa sibuk mengecek notifikasi, ia mendapati dirinya terinspirasi oleh hal-hal sederhana di sekitarnya.
Ternyata, diam dan membiarkan pikiran mengembara adalah cara terbaik untuk menemukan ide segar. Sesuatu yang hampir mustahil dilakukan ketika setiap detik luang langsung diisi dengan mengecek kabar terbaru di media sosial.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
