Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 Maret 2025 | 18.04 WIB

Dopamin dan Media Sosial: Efeknya pada Otak dan Alasan Sulit Berhenti Menggulir Menurut Ilmu Saraf

Ilustrasi orang yang sulit berhenti scroll media sosial (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Menjelajahi media sosial bisa terasa menyenangkan, tetapi sulit untuk berhenti. Aktivitas ini memicu zat kimia dalam otak yang berperan dalam menciptakan rasa puas dan ingin mengulanginya kembali.

Dopamin merupakan neurotransmitter yang berfungsi dalam sistem penghargaan otak. Zat ini dilepaskan saat mengalami sesuatu yang menyenangkan, seperti mendapatkan notifikasi atau melihat konten menarik.

Mengetahui bagaimana dopamin bekerja membantu memahami alasan sulitnya mengendalikan penggunaan media sosial. Kesadaran ini berguna dalam mengatur kebiasaan digital agar tidak berdampak negatif.

Dilansir dari laman Psypost, Minggu (16/3), ilmu saraf menjelaskan tentang dopamin dan media sosial serta efeknya pada otak yang menyebabkan sulitnya seseorang untuk berhenti menggulir.

Nukleus akumbens merupakan bagian otak yang berperan dalam sistem penghargaan. Ketika menerima notifikasi atau melihat sesuatu yang menarik, otak melepaskan dopamin.

Sensasi ini mirip dengan perasaan puas setelah makan makanan favorit atau menang dalam permainan. Pelepasan dopamin membuat seseorang ingin mengulangi pengalaman serupa.

Semakin sering terjadi, semakin kuat dorongan untuk terus mengakses media sosial. Mekanisme ini menjelaskan mengapa sulit untuk berhenti menggulir layar.

2. Efek Jangka Panjang pada Otak

Penggunaan media sosial yang berulang kali dapat mengubah struktur otak. Jalur penghargaan menjadi lebih pendek, membuat otak lebih cepat merespons kepuasan.

Perubahan ini meningkatkan impulsivitas dan menurunkan kemampuan untuk mengendalikan keinginan. Jika tidak dikelola, kebiasaan ini dapat berdampak pada pengambilan keputusan sehari-hari.

Penelitian menunjukkan bahwa individu yang sering terpapar media sosial lebih sulit mengontrol dorongan. Ini menjadi alasan mengapa penggunaan berlebihan dapat berpengaruh pada keseimbangan emosi.

3. Hubungan dengan Kecanduan

Mekanisme di balik penggunaan media sosial mirip dengan kecanduan zat tertentu. Dopamin yang dilepaskan memberikan rasa puas seperti yang dirasakan saat mengkonsumsi alkohol atau berjudi.

Sistem ini membuat seseorang terus mencari pengalaman serupa tanpa menyadari dampaknya. Seiring waktu, otak terbiasa dengan stimulasi ini dan menuntut lebih banyak untuk mencapai kepuasan yang sama.

Inilah yang menyebabkan kecanduan dan kesulitan untuk berhenti. Mengetahui pola ini membantu dalam mengontrol kebiasaan digital.

4. Dampak pada Kesehatan Mental

Ketergantungan pada media sosial dapat mempengaruhi suasana hati dan tingkat kepercayaan diri. Platform digital seringkali membuat seseorang mencari validitas melalui like dan komentar.

Jika ekspektasi tidak terpenuhi, perasaan cemas atau stres dapat meningkat. Studi menunjukkan bahwa mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial cenderung lebih mudah mengalami gangguan emosional.

Sebaliknya, mengurangi interaksi digital dapat membantu meningkatkan stabilitas emosional. Mengelola penggunaan dengan lebih baik dapat mengurangi dampak negatif pada kesehatan mental.

5. Fenomena Delay Discounting

Delay discounting terjadi saat seseorang memilih imbalan instan dibandingkan manfaat jangka panjang. Dalam konteks media sosial, lebih mudah menggulir layar daripada menyelesaikan tugas penting.

Otak cenderung memilih kesenangan sesaat meskipun berdampak pada produktivitas. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang sering terpapar media sosial lebih sulit menunda kepuasan.

Kebiasaan ini dapat berpengaruh pada kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pengambilan keputusan. Memahami mekanisme ini membantu dalam mengatur penggunaan media sosial secara lebih bijak.

6. Gangguan pada Jaringan Mode Default

Default Mode Network (DMN) adalah sistem otak yang berperan dalam pemrosesan informasi saat tidak fokus pada tugas tertentu. Studi menggunakan Electroencephalography (EEG) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan dapat mengganggu jaringan ini.

Gangguan pada DMN berpengaruh terhadap konsentrasi, kontrol emosi, dan pola pikir jangka panjang. Pengguna yang terlalu sering mengakses media sosial cenderung lebih sulit fokus pada pekerjaan.

Dampaknya juga terlihat dalam kemampuan berpikir kritis dan refleksi diri. Mengurangi paparan media sosial dapat membantu menjaga keseimbangan fungsi otak.

7. Menjaga Keseimbangan Penggunaan

Mengatur waktu penggunaan media sosial menjadi langkah penting untuk mencegah dampak negatif. Menetapkan batasan waktu dan menggantinya dengan aktivitas lain dapat membantu menjaga keseimbangan.

Beralih ke interaksi sosial langsung juga memberikan manfaat bagi kesehatan mental. Studi menunjukkan bahwa mereka yang mengurangi waktu penggunaan media sosial cenderung lebih produktif.

Mengembangkan kebiasaan digital yang sehat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup. Kesadaran akan dampak media sosial menjadi kunci dalam pengelolaan penggunaan yang lebih baik.

Kesadaran akan cara kerja dopamin dalam penggunaan media sosial memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik. Pengaturan kebiasaan digital membantu menjaga kesehatan mental serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore