Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Maret 2025 | 06.18 WIB

Alasan Seseorang Tidak Bisa Menangis saat Putus Cinta, Menurut Psikologi dan Medis

Ilustrasi alasan seseorang tidak bisa menangis. (Pexels) - Image

Ilustrasi alasan seseorang tidak bisa menangis. (Pexels)

JawaPos.com – Ada alasan seseorang tidak bisa menangis meskipun sedang mengalami kejadian pahit yang betul-betul pilu. Air mata seolah tidak bisa keluar meskipun baru saja putus cinta atau menghadiri pemakaman.

Kamu sedih tapi sulit rasanya meneteskan air mata, apakah kamu sebenarnya kamu tidak memiliki nurani? Tenang, laman Well+Good mengatakan hal ini bukan artinya kamu tak punya hati.

Air mata tak mau jatuh meskipun sedih bisa disebabkan oleh hal ringan seperti dehidrasi atau pun menyangkut permasalahan medis maupun psikologi. Berikut penjelasan mengapa seseorang tidak bisa menangis.

Dilihat dari Kacamata Medis

Dalam kondisi medis tertentu, air mata akan ikut terkena imbasnya. Hal ini berlaku untuk semua jenis air mata, mulai dari air mata basal yang menjaga tetap lembab, air mata refleks untuk membersihkan faktor iritasi, dan juga air mata emosional.

Air mata emosional ini muncul ketika mengalami perasaan bahagia maupun sedih seperti putus cinta. Adapun kondisi medis yang menyebabkan seseorang tidak bisa menangis adalah sindrom mata kering.

Faktornya bisa bermacam-macam, mulai dari kelainan saluran air mata, dehidrasi, dan sindrom Sjögren yakni penyakit autoimun yang mempengaruhi produksi cairan tubuh.

Selain itu, perubahan hormon pun bisa mempengaruhi seseorang tidak bisa menangis. Antara lain kondisi yang merubah hormon ada kehamilan, menopause, dan rendahnya kadar prolaktin atau hormon yang berperan memproduksi air mata.

Alasan Seseorang Tidak Bisa Menangis Menurut Psikologi

Apabila kamu tidak mengalami masalah medis namun tetap kesulitan menangis, bisa jadi ini disebabkan oleh faktor psikologi atau emosional. Lantas, ada apa saja kemungkinan psikologi yang dapat mempengaruhi terhambatnya air mata jatuh?

· Anggapan Menangis Adalah Tanda Kelemahan

Sebagian orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menangis sama saja menunjukan sisi kelemahan. Menurut Monica Amorosi, seorang psikoterapis di Clarity Therapy New York, penekanan seperti ini dapat terbawa hingga dewasa sehingga emosi menjadi tumpul dan bahkan sulit diekspresikan.

Seperti diketahui, pada lingkungan tertentu tumbuh norma sosial yang mengaitkan antara menangis dengan hal buruk. Misalnya saja, pria meyakini tangisan diartikan sebagai sosok tidak jantan.

· Riwayat Trauma

Faktor Psikologi selanjutnya adalah terdapat Riwayat trauma yang berkaitan dengan menangis. Contohnya, ketika masih kecil sering dihukum saat menangis dan ini berpotensi saat dewasa akan otomatis menekan air mata sebagai perlindungan diri.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore