
Ilustrasi orang yang berpura-pura bahagia di media sosial padahal sengsara di kehidupan nyata. (Freepik)
JawaPos.com – Beberapa orang yang tampak paling bahagia dan sukses di media sosial sebenarnya sedang berjuang dalam kehidupan nyata.
Mereka memiliki foto-foto Instagram yang sempurna, pembaruan LinkedIn yang menginspirasi, dan aliran suka dan komentar yang tak ada habisnya.
Namun di balik layar? Banyak dari mereka yang merasa cemas, tidak puas, dan bahkan sangat tidak bahagia.
Menurut psikologi, kesenjangan antara kesuksesan daring dan kesengsaraan di dunia nyata bukanlah sesuatu yang acak—melainkan mengikuti pola tertentu.
Dalam artikel yang dikutip dari Geediting, Jumat (28/2), berikut perilaku umum yang sering ditunjukkan orang-orang yang tampak bahagia saat daring tetapi mengalami kesulitan saat sendiri.
Jika anda pernah bertanya-tanya mengapa beberapa bintang media sosial merasa hampa meskipun mereka sukses, atau jika anda sendiri pernah merasakannya, ini untuk anda. Mari kita mulai.
Salah satu tanda terbesar bahwa seseorang sukses secara daring tetapi kesulitan dalam kehidupan nyata adalah seberapa besar upaya yang mereka lakukan dalam mengatur kehidupan mereka alih-alih benar-benar menjalaninya.
Alih-alih menikmati suatu momen, mereka berpikir tentang cara membingkainya, menyaringnya, dan menyajikannya agar dapat melibatkan banyak orang secara maksimal.
Makan malam sederhana berubah menjadi sesi pemotretan. Liburan menjadi cuplikan yang menarik. Bahkan perjuangan pribadi pun disusun dengan cermat menjadi konten yang "relatable".
Jika anda mendapati diri anda melakukan hal ini, cobalah sebuah eksperimen: Lain kali anda mengalami sesuatu yang indah atau bermakna, tahan keinginan untuk mendokumentasikannya. Hadirlah saja.
Anda mungkin menemukan bahwa kebahagiaan sejati datang dari menjalani momen tersebut, bukan membaginya.
Jika anda terus-menerus menyegarkan notifikasi atau merasa sedih saat tidak mendapat respons yang diharapkan, tanyakan pada diri sendiri, Apakah saya melakukan ini untuk diri sendiri, atau untuk validasi? Jawabannya mungkin lebih penting daripada yang anda kira.
Psikolog menyebutnya teori perbandingan sosial, gagasan bahwa kita menentukan harga diri kita sendiri berdasarkan cara kita menilai orang lain.
Dan berkat media sosial, kini kita memiliki kesempatan tak terbatas untuk membandingkan diri kita sendiri setiap hari.
Jika anda merasa tidak memenuhi standar karena apa yang anda lihat secara daring, ingatlah, anda membandingkan apa yang terjadi di balik layar dengan cuplikan sorotan orang lain. Dan itu bukanlah perbandingan yang adil.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
