
seseorang yang sukses dalam hal yang ditekuni / foto: Magnific/jcomp
JawaPos.com - Kesuksesan sering kali dianggap sebagai hasil dari bakat, kecerdasan, atau keberuntungan. Namun, penelitian psikologi menunjukkan bahwa faktor yang lebih menentukan justru terletak pada kebiasaan sehari-hari dan kemampuan seseorang untuk mengevaluasi dirinya secara berkala.
Menariknya, orang-orang yang berhasil dalam berbagai bidang kehidupan—baik karier, bisnis, pendidikan, maupun hubungan sosial—bukan hanya fokus pada apa yang harus mereka lakukan. Mereka juga sangat sadar tentang apa yang perlu mereka tinggalkan.
Akhir bulan menjadi momen penting untuk melakukan refleksi. Ini adalah waktu ketika individu yang berprestasi meninjau kembali pola pikir, kebiasaan, dan perilaku yang tidak lagi mendukung tujuan mereka. Mereka memahami bahwa pertumbuhan bukan hanya tentang menambahkan hal-hal baru, tetapi juga melepaskan hal-hal yang menghambat.
Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (6/6), terdapat delapan hal yang biasanya ditinggalkan oleh orang-orang sukses setiap akhir bulan, berdasarkan prinsip-prinsip psikologi dan pengembangan diri.
1. Penyesalan yang Tidak Produktif
Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Namun, orang yang sukses tidak menghabiskan waktu berlebihan untuk memikirkan kegagalan yang sudah terjadi.
Dalam psikologi, terlalu lama terjebak dalam penyesalan disebut sebagai rumination atau perenungan negatif yang berulang. Kebiasaan ini dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan menurunkan kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan secara efektif.
Di akhir bulan, mereka mengevaluasi kesalahan yang terjadi, mengambil pelajaran yang diperlukan, lalu melanjutkan langkah berikutnya. Mereka tidak membawa beban emosional yang sama ke bulan berikutnya.
Alih-alih bertanya, “Mengapa saya gagal?”, mereka lebih sering bertanya, “Apa yang bisa saya pelajari dari pengalaman ini?”
2. Target yang Sudah Tidak Relevan
Banyak orang menganggap konsistensi berarti terus mengejar tujuan yang sama tanpa perubahan. Padahal, psikologi tujuan (goal-setting psychology) menunjukkan bahwa tujuan yang tidak lagi relevan justru dapat menguras energi mental.
Orang-orang sukses secara rutin meninjau target mereka. Jika sebuah tujuan tidak lagi sesuai dengan prioritas, kondisi, atau visi jangka panjang mereka, mereka tidak ragu untuk mengubah atau menghapusnya.
Melepaskan target yang tidak relevan bukanlah tanda menyerah. Sebaliknya, itu adalah bentuk adaptasi yang cerdas terhadap perubahan.
Mereka memahami bahwa fokus adalah sumber daya yang terbatas. Semakin sedikit energi yang terbuang untuk tujuan yang tidak penting, semakin besar peluang untuk berhasil pada hal yang benar-benar bermakna.
3. Kebiasaan Kecil yang Menguras Energi
Tidak semua kebiasaan buruk terlihat jelas. Terkadang, justru kebiasaan kecil yang tampak sepele menjadi penyebab utama produktivitas menurun.
Contohnya:
Terlalu sering memeriksa media sosial.
Menunda pekerjaan selama beberapa menit yang akhirnya menjadi berjam-jam.
Tidur terlalu larut tanpa alasan penting.
Terus-menerus mengecek notifikasi.
Psikologi perilaku menjelaskan bahwa kebiasaan terbentuk melalui pengulangan. Karena itu, orang sukses secara berkala mengidentifikasi kebiasaan kecil yang diam-diam menghabiskan waktu dan energi mereka.
Mereka sadar bahwa perubahan besar sering kali berasal dari perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten.
4. Kebutuhan untuk Menyenangkan Semua Orang
Salah satu hambatan terbesar terhadap kesuksesan adalah keinginan berlebihan untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain.
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai people-pleasing behavior. Individu yang terlalu fokus pada penerimaan sosial sering kali kesulitan menetapkan batasan, mengatakan tidak, atau mengambil keputusan yang sesuai dengan kepentingan jangka panjang mereka.
Di akhir bulan, orang sukses mengevaluasi hubungan dan komitmen yang mereka miliki. Mereka bertanya:
Apakah saya melakukan ini karena memang penting?
Ataukah hanya karena takut mengecewakan orang lain?
Mereka memahami bahwa tidak semua orang akan setuju dengan pilihan mereka, dan itu bukan masalah.
5. Perbandingan Sosial yang Tidak Sehat
Di era digital, membandingkan diri dengan orang lain menjadi semakin mudah. Namun, psikologi menunjukkan bahwa perbandingan sosial yang berlebihan dapat menurunkan kepuasan hidup dan kepercayaan diri.
Orang sukses tidak sepenuhnya menghindari perbandingan. Mereka hanya menggunakannya sebagai sumber inspirasi, bukan sebagai alat untuk menghakimi diri sendiri.
Pada akhir bulan, mereka lebih fokus pada pertanyaan:
“Apakah saya lebih baik dibandingkan versi diri saya bulan lalu?”
Daripada bertanya:
“Mengapa saya tidak sehebat orang lain?”
Fokus pada perkembangan pribadi menciptakan motivasi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
6. Ekspektasi yang Tidak Realistis
Memiliki ambisi adalah hal yang baik. Namun, psikologi juga menunjukkan bahwa ekspektasi yang terlalu tinggi dan tidak realistis dapat menyebabkan frustrasi kronis.
Orang yang sukses biasanya memiliki standar tinggi, tetapi mereka juga memahami pentingnya fleksibilitas.
Ketika akhir bulan tiba, mereka menilai apakah harapan mereka masih sesuai dengan kenyataan. Jika diperlukan, mereka menyesuaikan strategi tanpa merasa gagal.
Mereka tahu bahwa kemajuan sering kali terjadi secara bertahap, bukan melalui perubahan dramatis dalam semalam.
Dengan meninggalkan ekspektasi yang tidak realistis, mereka dapat mempertahankan motivasi dalam jangka panjang.
7. Konflik dan Emosi Negatif yang Tidak Perlu
Menyimpan kemarahan, dendam, atau konflik yang sudah tidak relevan dapat menghabiskan banyak energi mental.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa emosi negatif yang dipelihara terus-menerus dapat meningkatkan tingkat stres dan memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.
Orang sukses tidak selalu melupakan setiap kesalahan orang lain, tetapi mereka berusaha melepaskan beban emosional yang tidak memberikan manfaat.
Mereka memahami bahwa energi mental adalah aset yang berharga.
Daripada terus memikirkan konflik lama, mereka memilih mengalokasikan perhatian untuk hal-hal yang lebih produktif dan membangun.
8. Identitas Lama yang Membatasi Diri
Ini mungkin merupakan hal terpenting yang mereka tinggalkan.
Banyak orang terjebak pada identitas lama seperti:
“Saya bukan orang yang disiplin.”
“Saya tidak berbakat dalam bisnis.”
“Saya selalu gagal dalam hal ini.”
“Saya memang tidak cocok menjadi pemimpin.”
Dalam psikologi, keyakinan seperti ini dikenal sebagai limiting beliefs atau keyakinan yang membatasi diri.
Orang-orang sukses secara sadar menantang narasi tersebut. Mereka tidak mendefinisikan diri berdasarkan kegagalan masa lalu.
Setiap akhir bulan menjadi kesempatan untuk memperbarui cara mereka memandang diri sendiri.
Mereka memahami bahwa identitas bukan sesuatu yang tetap. Identitas dapat berkembang seiring pengalaman, pembelajaran, dan tindakan yang dilakukan secara konsisten.
Penutup
Kesuksesan bukan hanya tentang menambah keterampilan, memperluas jaringan, atau bekerja lebih keras. Sering kali, kesuksesan juga merupakan hasil dari kemampuan untuk melepaskan hal-hal yang tidak lagi mendukung pertumbuhan diri.
Setiap akhir bulan, orang-orang yang berhasil dalam berbagai aspek kehidupan meluangkan waktu untuk melakukan evaluasi. Mereka meninggalkan penyesalan yang tidak produktif, target yang tidak relevan, kebiasaan yang menguras energi, kebutuhan untuk menyenangkan semua orang, perbandingan sosial yang tidak sehat, ekspektasi yang tidak realistis, konflik yang tidak perlu, dan identitas lama yang membatasi diri.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
