Ilustrasi seseorang yang membaca pesan tetapi tidak membalasnya selama berhari-hari. (Freepik)
JawaPos.com - Kamu pasti pernah merasa khawatir ketika pesan yang kamu kirimkan dibaca tetapi tidak ada balasan dalam waktu yang lama. Tanda “dibaca” yang muncul pada aplikasi pesan bisa memunculkan berbagai kekhawatiran. Apakah kamu mengirim pesan yang salah? Apa mereka sedang menghindar? Atau apakah mereka memang tidak peduli denganmu?
Para psikolog, sering melihat bagaimana fenomena ini dapat memicu kecemasan yang mendalam dalam sekejap. Meskipun ponsel kita selalu terhubung dengan orang lain, terkadang kita tidak mendapatkan informasi yang cukup untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada orang yang kita hubungi.
Jika kamu pernah merasa kecewa ketika seseorang membaca pesanmu dan menghilang begitu saja, kamu tidak sendirian. Dilansir dari Blog Herald pada Senin (17/2), berikut ini beberapa alasan mengapa seseorang mungkin melakukan hal ini, bagaimana otak kita menginterpretasikannya, dan apa sebenarnya yang bisa terjadi di balik kesunyian tersebut.
Bayangkan berapa banyak pemberitahuan dan notifikasi yang kita terima setiap hari. Beberapa orang merasa begitu terbebani dengan berbagai tugas sehingga membaca pesan tanpa membalasnya bisa menjadi bentuk pelindungan diri.
Mereka melihat pesanmu, berpikir “Saya tidak punya energi untuk merespon dengan baik saat ini,” lalu menunda untuk membalasnya. Masalahnya, pesan tersebut bisa tetap berada di “tungku” selama berhari-hari.
Daniel Goleman, ahli dalam kecerdasan emosional, menggambarkan ini sebagai respons terhadap beban emosional. Pikiran mereka penuh dengan kewajiban, dan mereka tidak bermaksud bersikap tidak sopan—mereka hanya merasa kelelahan. Jika kamu merasa ini yang terjadi, cobalah kirimkan pesan pengingat yang lembut, seperti, “Tidak terburu-buru kok! Cuma ingin mengecek kabar.”
Pernahkah kamu mengirim pesan yang terasa lebih rumit dari sekadar “ya” atau “tidak”? Terkadang, orang menunda membalas karena mereka tidak yakin apa yang harus dijawab. Mereka mungkin merasa cemas akan memberi balasan yang tidak tepat atau bingung seberapa jujur mereka harus bersikap.
Berdasarkan banyak pengalaman, banyak pasangan atau teman yang terjebak dalam kebuntuan karena salah satu pihak merasa bahwa mengabaikan pesan lebih baik daripada mengirimkan kata-kata yang salah. Ini berhubungan dengan rasa takut akan kerentanannya, seperti yang dibahas oleh Brené Brown.
Pernahkah kamu merasa kecewa ketika seseorang mengatakan “saya sibuk,” tetapi melihat mereka aktif di media sosial atau berbicara dengan teman lainnya? Memang menyakitkan, tetapi mungkin saja mereka tidak benar-benar “sibuk” seperti yang kamu bayangkan.
Mereka mungkin merasa percakapan denganmu tidak terlalu mendesak dibandingkan dengan hal lain yang harus mereka urus. Ini bukan berarti mereka tidak menyukaimu, tetapi lebih pada prioritas hubungan dan kewajiban mereka.
Beberapa orang sangat menghindari konfrontasi sehingga mereka memilih untuk tidak merespons pesan yang dapat memicu ketegangan, terutama jika pesan tersebut menyentuh masalah yang lebih sensitif.
Mereka membaca pesanmu, merasakan potensi konflik, dan memilih untuk diam. Ini sering disebut sebagai “stonewalling” oleh John Gottman, yang berarti menarik diri dari interaksi untuk menghindari ketidaknyamanan emosional. Dalam kasus ini, diam bukanlah berarti mengabaikan, tetapi mereka sedang menghindari hal yang dirasa emosional berisiko.
Di era komunikasi instan, mudah untuk lupa bahwa setiap orang memiliki ritme yang berbeda dalam merespons pesan. Beberapa orang merasa membalas dalam seminggu itu normal, sementara yang lainnya mengharapkan jawaban dalam hitungan menit.
Seorang kerap merasa kesal setiap kali temannya membutuhkan berhari-hari untuk membalas pesan, sampai akhirnya dia sadar bahwa temannya datang dari keluarga yang jarang menggunakan pesan teks. Jika kamu merasa ada perbedaan gaya komunikasi, coba untuk menyampaikan ekspektasi kamu dengan lembut, seperti, “Saya terbiasa membalas cepat. Kalau kamu butuh lebih banyak waktu, beri tahu saja.”

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
