JawaPos.com - Media sosial sudah lama menjadi tempat favorit banyak orang di seluruh dunia. Tak hanya untuk berbagi pengalaman tapi untuk mendapatkan informasi.
Tapi tahukah kamu bahwa cara kita mengonsumsi berita bisa mencerminkan kepribadian kita? Masalahnya, informasi yang tersebar di media sosial tak selalu benar dan lengkap.
Menurut para psikolog, mereka yang menjadikan media sosial sebagai sumber berita utama cenderung memiliki pola pikir tertentu.
Ada yang mengejutkan, ada pula yang sudah bisa ditebak. Berikut adalah 10 ciri yang sering ditemukan pada orang-orang tersebut, dikutip dari News Reports, Senin (17/2).
1. Lebih Percaya pada Sumber yang Dikenal daripada yang Terverifikasi
Orang yang memilih media sosial sebagai sumber informasi tak suka mencari berita dari media yang kredibel. Mereka lebih mudah percaya pada informasi yang muncul di beranda—apalagi jika berasal dari teman, keluarga, atau halaman yang sering mereka ikuti.
Ini sejalan dengan konsep “heuristik ketersediaan” dari psikolog Daniel Kahneman, yang menyebutkan bahwa orang cenderung mempercayai informasi yang mudah diakses, meskipun tidak selalu akurat.
2. Tertarik pada Konten yang Memicu Emosi
Judul berita yang dramatis, gambar yang mengejutkan, atau postingan yang mengundang kemarahan lebih sering menarik perhatian mereka yang suka mencari informasi di media sosial.
Menurut psikolog Paul Ekman, emosi sangat berpengaruh dalam menentukan apa yang kita ingat dan bagaimana kita mengambil keputusan.
Akibatnya, mereka lebih sering mengonsumsi berita yang memprovokasi daripada yang memberikan informasi objektif.
3. Kesulitan Menyaring Informasi
Media sosial penuh dengan berita, opini, meme, hingga clickbait dari berbagai orang dengan latar belakang yang tak terverifikasi.
Terlalu banyak informasi ini membuat otak kewalahan, sehingga mereka cenderung hanya membaca sekilas dan percaya pada apa yang tampak familiar.
Seperti yang dikatakan psikolog Herbert Simon, “Kelebihan informasi menciptakan kelangkaan perhatian.”
4. Lebih Suka Informasi Sederhana daripada Kompleks
Dunia ini penuh dengan isu yang rumit, tapi media sosial justru mendorong narasi hitam-putih yang mudah dipahami saat menyuguhkan informasi tertentu.
Ini seolah baik-baik saja. Tapi sayangnya, membaca informasi yang menyederhanakan sesuatu bisa membuat orang hanya melihat satu sisi cerita tanpa menyadari bahwa kenyataan sering kali lebih rumit.
5. Merasa Sedang Berpikir Kritis
Banyak yang merasa dirinya sebagai pemikir kritis karena tidak mudah percaya pada media mainstream. Tapi kritis sejati bukan hanya tentang mempertanyakan satu pihak, melainkan semua pihak, termasuk sumber yang mereka percayai.
Seperti kata Carl Sagan, “Lebih baik memahami kenyataan apa adanya daripada bertahan dalam ilusi yang nyaman.”
6. Mudah Dipengaruhi oleh Pengulangan Informasi
Semakin sering seseorang melihat klaim tertentu di media sosial, semakin besar kemungkinan mereka memercayainya—meskipun itu tidak benar.
Ini disebut efek “mere exposure” oleh psikolog Robert Zajonc, di mana sesuatu yang sering kita lihat terasa lebih bisa dipercaya.
7. Tidak Menyadari Bias Diri Sendiri
Tanpa disadari, mereka cenderung hanya mengonsumsi berita yang mendukung pandangan mereka.
Psikolog Jonathan Haidt menyebut fenomena ini sebagai "confirmation bias"—kecenderungan seseorang untuk mencari informasi yang memperkuat keyakinannya, sambil mengabaikan yang bertentangan.
8. Menganggap Berita Viral sebagai Kebenaran
Di media sosial berita yang paling banyak disukai, dibagikan, dan dikomentari sering dianggap paling kredibel. Padahal, viralitas tidak selalu berkaitan dengan keakuratan.
Ini akhirnya seringkali membuat seseorang bias dalam menyimpulkan suatu berita.
Seperti yang diingatkan oleh Daniel Kahneman, pengulangan suatu informasi dapat membuatnya terasa benar, meskipun sebenarnya salah.