
Ilustrasi produksi film. (Freepik)
JawaPos.com–Film adalah jendela dunia, satu di antara media yang kuat menyampaikan pesan. Namun, representasi tokoh dalam film sering kali tidak lepas dari bias gender.
Sebuah studi baru oleh para peneliti di Signal Analysis and Interpretation Lab (SAIL) di USC Viterbi School of Engineering menunjukkan bahwa tindakan tokoh dalam film cenderung mencerminkan stereotip gender yang tersebar luas, beberapa di antaranya mungkin berbahaya.
Dengan menggunakan kerangka kerja pembelajaran mesin yang baru, para peneliti di Pusat Kecerdasan Media Komputasi SAIL telah mampu mengidentifikasi tindakan karakter dari deskripsi adegan yang ditemukan dalam naskah film. Model tersebut menganalisis lebih dari 1,2 juta deskripsi adegan untuk 912 naskah film dalam 31 genre yang diproduksi selama kurun waktu lebih dari 100 tahun (dari 1909-2013), mengidentifikasi lima puluh ribu tindakan yang dilakukan oleh dua puluh ribu karakter.
Penelitian ini menggunakan machine learning untuk menganalisis naskah film. Tujuannya adalah mengidentifikasi pola-pola representasi gender yang mungkin terlewatkan. Analisis mendalam ini membuka tabir bias yang mungkin tidak disadari penonton awam. Temuan studi ini memberikan bukti kuantitatif tentang tren media terkait gender.
Peneliti Victor Martinez, Krishna Somandepalli, dan Profesor Shrikanth Narayanan berharap dapat menjelaskan bagaimana perilaku nonverbal karakter dapat mengomunikasikan bias. Tokoh perempuan cenderung ditampilkan dengan agensi yang lebih rendah dibanding laki-laki. Mereka lebih sering menjadi objek pandangan karakter lain, bukan subjek yang aktif. Hal ini mengindikasikan adanya bias dalam penokohan perempuan di film.
”Menganalisis partisipasi dan jumlah karakter perempuan di layar tidaklah cukup,” kata Narayanan, penulis senior makalah tersebut dan direktur USC SAIL Lab.
Tokoh perempuan juga lebih sering menjadi fokus perhatian visual. Kamera dan narasi film seringkali menempatkan mereka sebagai objek yang diamati. Kondisi ini memperkuat stereotip bahwa perempuan lebih dinilai dari penampilan fisik. Representasi ini secara tidak langsung membatasi peran perempuan dalam cerita.
”Meningkatkan kehadiran mereka penting, tetapi pada saat yang sama juga sangat penting untuk bertanya: Bagaimana mereka digambarkan dalam cerita? Tindakan apa yang mereka lakukan dalam film? Status apa yang diberikan kepada mereka dan bagaimana mereka diperlakukan oleh karakter lain? Karena meskipun Anda mungkin memiliki banyak karakter perempuan, jika Anda membuat mereka melakukan tindakan stereotip, dengan lebih sedikit agensi atau hanya sebagai karakter latar belakang, maka penggambaran tersebut tetap dapat merugikan,” ujar Narayanan.
Sebaliknya, studi menemukan bahwa tokoh laki-laki juga terjebak stereotip. Tokoh laki-laki cenderung kurang menampilkan emosi dan afeksi. Mereka jarang digambarkan menunjukkan kelembutan atau kasih sayang. Stereotip ini membatasi ekspresi emosional laki-laki di layar lebar.
Representasi laki-laki yang kurang emosional ini juga bermasalah. Hal ini dapat membentuk persepsi bahwa laki-laki harus selalu kuat dan tegar. Stereotip ini bisa berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional laki-laki. Film sebagai media populer memiliki peran penting dalam mengubah stereotip ini.
Menariknya, studi ini menemukan bahwa stereotip gender ini konsisten lintas dekade. Pola-pola representasi yang bias ini tetap bertahan dari waktu ke waktu. Hal ini menunjukkan bahwa stereotip gender sangat kuat dan sulit dihilangkan. Temuan ini dikutip dari viterbischool.usc.edu Jumat (14/2).
Temuan studi ini memberikan bukti kuantitatif tren media terkait gender yang telah lama dicatat dalam penelitian ilmu sosial.
Kewenangan karakter: Karakter pria diberi lebih banyak kewenangan daripada karakter wanita. Mereka cenderung tidak membiarkan karakter pria lain melakukan sesuatu kepada mereka.
Teori tatapan laki-laki: Karakter perempuan lebih mungkin untuk melongo atau memandang oleh karakter lain.
Penggambaran emosi: Tokoh laki-laki cenderung tidak tersedu, isak, atau menangis. Mereka jarang berteriak, tertawa, atau tersenyum pada tokoh laki-laki lain.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
