JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa lelah secara emosional di penghujung hari tanpa alasan yang jelas? Bisa jadi penyebabnya adalah kebiasaan online yang kita lakukan tanpa sadar.
Meski tampak sepele, aktivitas digital di dunia maya tertentu bisa menyedot energi emosional kita dan membuat kita kelelahan.
Kabar baiknya, setelah kita menyadari kebiasaan-kebiasaan ini, kita bisa mulai mengubahnya dan mengelola energi kita dengan lebih baik.
Dikutip dari News Reports, Minggu (9/2), berikut adalah delapan kebiasaan online yang tanpa disadari bisa menguras emosi, serta cara mengatasinya.
1. Terus-Menerus Membaca Berita Negatif
Sering tidak sadar menghabiskan waktu membaca berita buruk? Ini disebut doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir berita negatif tanpa henti.
Menurut penelitian, paparan terus-menerus terhadap berita buruk bisa meningkatkan stres, kecemasan, dan bahkan perasaan tidak berdaya.
Otak kita memang secara alami lebih fokus pada ancaman sebagai mekanisme bertahan hidup, tetapi di era digital, ini bisa membuat kita terjebak dalam lingkaran kecemasan.
Solusi: Tetapkan batas waktu untuk membaca berita dan pilih sumber yang juga menyajikan perspektif positif atau solusi, bukan hanya berita buruk.
2. Membandingkan Diri dengan Kehidupan Orang Lain di Media Sosial
Pernah merasa hidupmu biasa saja setelah melihat postingan liburan, pekerjaan keren, atau momen bahagia orang lain di media sosial?
Fenomena ini dijelaskan dalam teori perbandingan sosial yang menyebutkan bahwa kita cenderung menilai diri sendiri berdasarkan standar orang lain.
Padahal, yang kita lihat di media sosial hanyalah potongan terbaik dari hidup seseorang, bukan gambaran utuhnya.
Solusi: Batasi waktu di media sosial dan ingat bahwa yang ditampilkan adalah versi terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseharian mereka secara keseluruhan.
3. Mengecek Ponsel Begitu Bangun Tidur
Bangun tidur langsung memeriksa notifikasi? Kebiasaan ini bisa membuat otak kita langsung stres karena menerima terlalu banyak informasi dalam waktu singkat.
Studi menunjukkan bahwa mengecek media sosial, email, atau berita begitu bangun tidur bisa meningkatkan kadar kortisol, hormon stres dalam tubuh. Akibatnya, kita memulai hari dengan perasaan kewalahan.
Solusi: Coba berikan jeda sekitar 30 menit setelah bangun sebelum memegang ponsel. Mulailah hari dengan aktivitas yang lebih tenang seperti olahraga ringan atau meditasi.
4. Terlalu Sering Berpindah-Pindah Tugas
Membuka banyak tab, mengecek pesan sambil bekerja, atau sering beralih dari satu tugas ke tugas lain bisa membuat otak cepat lelah.
Psikologi menyebut ini task switching, di mana setiap kali kita berpindah tugas, otak harus menyesuaikan diri kembali. Hal ini menghabiskan banyak energi mental dan menurunkan fokus serta produktivitas.
Solusi: Gunakan metode time blocking, yaitu mengerjakan satu tugas dalam periode waktu tertentu tanpa gangguan.
5. Terlibat dalam Perdebatan Online
Godaan untuk membalas komentar yang memicu emosi memang besar, tetapi perdebatan online jarang membuahkan hasil yang positif.
Saat seseorang merasa diserang, mereka cenderung mempertahankan pendapatnya dengan lebih kuat, bukan berubah pikiran. Akibatnya, energi kita hanya habis untuk adu argumen yang tidak menghasilkan perubahan nyata.
Solusi: Pilih diskusi yang benar-benar berarti dan bermanfaat. Jika sebuah perdebatan hanya akan menambah stres, lebih baik tinggalkan dan fokus pada hal lain yang lebih produktif.
6. Merasa Harus Selalu Merespons Pesan dengan Cepat
Tekanan untuk langsung membalas pesan atau email bisa membuat kita selalu siaga, bahkan saat sedang istirahat.
Kondisi ini bisa menyebabkan kelelahan emosional karena kita merasa tidak pernah benar-benar bebas dari tuntutan komunikasi.
Solusi: Tetapkan waktu khusus untuk mengecek pesan dan nonaktifkan notifikasi yang tidak penting. Dengan begitu, kita bisa tetap produktif tanpa merasa terbebani.
7. Menggulung Media Sosial Tanpa Tujuan Jelas
Mungkin kita berpikir menggulir media sosial bisa menjadi hiburan setelah hari yang melelahkan. Tapi tanpa sadar, kita justru semakin lelah.
Psikologi menyebut kebiasaan ini sebagai passive consumption, di mana kita mengonsumsi konten tanpa tujuan. Ini justru membuat otak tetap aktif dan sulit beristirahat.
Solusi: Alih-alih menggulir tanpa arah, pilih aktivitas digital yang lebih bermakna, seperti membaca artikel yang bermanfaat atau menonton sesuatu yang benar-benar menarik perhatian kita.
8. Tidak Pernah Benar-Benar Beristirahat dari Dunia Digital
Selalu terhubung secara online bisa membuat kita merasa harus selalu mengikuti perkembangan terbaru dan selalu tersedia bagi orang lain.
Namun, tanpa jeda yang cukup, otak kita tidak mendapatkan kesempatan untuk beristirahat, yang akhirnya menyebabkan kelelahan emosional.
Solusi: Ambil waktu untuk benar-benar unplug dari dunia digital, misalnya dengan berjalan-jalan di luar tanpa ponsel atau menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga tanpa gangguan layar.
Kesimpulan: Beri Ruang bagi Pikiran untuk Bernapas
Kebiasaan digital yang tidak terkontrol bisa berdampak langsung pada kesehatan emosional kita. Bukan hanya karena terlalu banyak aktivitas, tetapi juga karena kurangnya ketenangan bagi otak untuk beristirahat.
Dengan lebih sadar dalam mengelola interaksi digital seperti menetapkan batasan, mengurangi perbandingan sosial, dan mengambil waktu untuk benar-benar offline, kita bisa menjaga energi emosional agar tetap stabil dan sehat.
Energi emosional kita terbatas, jadi gunakanlah dengan bijak. Bukan soal memutuskan hubungan dari dunia digital, tetapi tentang menciptakan keseimbangan yang membuat kita tetap waras dan bahagia.