
Ilustrasi barongsai (freepik)
JawaPos.com - Barongsai adalah salah satu pertunjukan ikonik yang tak pernah absen dalam perayaan Imlek, menghiasi setiap sudut perayaan dengan warna-warni ceria dan energi yang luar biasa. Tidak hanya sekadar hiburan, tarian ini juga membawa makna mendalam yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi dalam budaya Tionghoa.
Dilansir dari China Highlight, tarian barongsai adalah salah satu tradisi terpenting dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Tarian ini dipercaya dapat membawa kemakmuran dan keberuntungan di tahun yang baru. Selain itu, barongsai juga menjadi cara untuk menciptakan suasana meriah dan menyebarkan kebahagiaan kepada semua yang hadir.
Di berbagai daerah, penampilan barongsai bukan hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga sarat dengan makna filosofis dan sejarah panjang yang patut untuk kita telusuri lebih dalam.
Sebagai salah satu warisan budaya Tionghoa, tarian barongsai memiliki cerita panjang yang dimulai jauh sebelum kedatangannya ke Indonesia. Namun, apa sebenarnya yang melatarbelakangi kehadiran barongsai dalam perayaan Imlek? Mengapa tarian ini selalu menjadi bagian penting dari tradisi tersebut?
Asal Usul dan Sejarah Barongsai
Menurut China Highlight asal-usul tarian barongsai sangat beragam, namun yang paling dapat dipertanggungjawabkan adalah asal usul yang berkaitan dengan mitologi Tiongkok. Dalam kebudayaan Tionghoa tradisional, singa dianggap sebagai hewan mitos yang membawa keberuntungan, mirip dengan naga. Namun, pada masa sebelum Dinasti Han (202 SM–220 M), sebenarnya tidak ada singa asli di Tiongkok. Beberapa ekor singa memang sampai ke Cina melalui jalur perdagangan Sutra dari wilayah barat (sekarang Xinjiang), namun sangat langka.
Pada masa itu, orang-orang Tionghoa mulai meniru gerakan dan penampilan singa yang mereka lihat, sehingga terciptalah apa yang kita kenal sebagai tarian barongsai. Tarian ini pertama kali berkembang pada masa Dinasti Tiga Kerajaan (220–280 M), dan semakin populer seiring dengan berkembangnya agama Buddha pada masa Dinasti Utara dan Selatan (420–589 M). Pada masa Dinasti Tang (618–907 M), tarian barongsai bahkan menjadi bagian dari tarian istana.
Seiring berjalannya waktu, barongsai tidak hanya menjadi bagian dari budaya kerajaan, tetapi juga menjadi pertunjukan rakyat yang sering kali dipentaskan untuk menyambut tahun baru dan berbagai perayaan besar lainnya. Keberadaannya pun terus berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru dunia seiring dengan migrasi orang Tionghoa. Di luar Tiongkok, barongsai menjadi simbol kemakmuran dan keberuntungan, serta dihadirkan pada festival-festival besar seperti Imlek untuk mengusir roh jahat dan mendatangkan keberuntungan.
Sejarah Masuknya Barongsai ke Indonesia
Sejarah barongsai di Indonesia bermula pada abad ke-15 hingga ke-17, bersamaan dengan kedatangan para pedagang Tionghoa ke Nusantara. Selain membawa barang dagangan, mereka juga membawa serta budaya dan tradisi mereka, termasuk tarian barongsai. Dalam komunitas Tionghoa-Indonesia, barongsai tidak hanya dipentaskan untuk hiburan, melainkan juga memiliki nilai spiritual yang dalam.
Meskipun pada masa kolonial Belanda, budaya Tionghoa, termasuk barongsai, sering kali terpinggirkan dan bahkan dibatasi, tradisi ini tetap bertahan dalam lingkup komunitas Tionghoa-Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, barongsai sempat terhalang oleh kebijakan Orde Baru yang melarang kebudayaan Tionghoa ditampilkan secara terbuka. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan adanya reformasi politik, pada akhir 1990-an barongsai kembali muncul ke permukaan, seiring dengan pencabutan larangan terhadap budaya Tionghoa oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 2000.
Sejak saat itu, barongsai menjadi semakin populer, tidak hanya di kalangan komunitas Tionghoa tetapi juga di masyarakat Indonesia secara umum. Pertunjukan barongsai tidak hanya diadakan di tempat-tempat peribadatan atau komunitas Tionghoa, tetapi juga di berbagai acara besar, bahkan sebagai bagian dari perayaan nasional. Bahkan barongsai dianggap sebagai simbol pembawa keberuntungan dan penolak bala, sehingga sering dipentaskan pada perayaan Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, atau upacara keagamaan lainnya.
Kenapa Selalu Ada Barongsai Saat Perayaan Imlek?
Tarian barongsai selalu hadir dalam perayaan Imlek karena diyakini dapat membawa kemakmuran, keberuntungan, dan mengusir roh-roh jahat. Menurut China Highlight, singa dalam budaya Tiongkok melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan keunggulan. Oleh karena itu, barongsai tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga dianggap sebagai media untuk mendatangkan hal-hal positif di tahun yang baru.
Dalam budaya Tiongkok, barongsai dipercaya mampu mengusir roh-roh jahat yang membawa sial dan menggantinya dengan energi positif. Tarian barongsai biasanya dilakukan dengan iringan musik yang keras dan ritmis, serta gerakan-gerakan akrobatik yang spektakuler. Semua ini bertujuan untuk menarik perhatian para dewa, sehingga mereka memberikan berkat di tahun yang baru. Melalui tarian ini, orang-orang berharap bisa meraih keberuntungan, kesehatan, dan kemakmuran.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
