
Ilustrasi orang yang sering dipuji saat waktu kecil. (Freepik)
JawaPos.com - Jika seseorang yang terus-menerus dihujani pujian saat kecil, kemungkinan besar orang tersebut akan tumbuh dengan sikap-sikap tertentu.
Namun, hal itu tidak selalu mudah. Pengalaman masa kecil membentuk perilaku dan kepribadian kita dalam berbagai cara yang rumit. Mereka yang sering dipuji semasa kecil sering kali memiliki sifat-sifat tertentu saat dewasa.
Berikut 5 sikap seseorang yang terlalu sering dipuji waktu kecil saat telah dewasa, seperti dilansir dari laman Hack Spirit.
1. Mencari validasi
Orang-orang yang terlalu banyak dipuji di masa kecil mereka sering kali tumbuh dengan keinginan untuk diakui. Mereka sudah terbiasa dipuji sehingga mereka mulai menginginkannya saat dewasa.
Kebutuhan konstan untuk mendapatkan persetujuan ini bisa sangat membebani, hampir seperti dahaga yang tak terpuaskan yang tidak pernah terpuaskan. Mereka selalu mencari kepastian dari orang lain, membutuhkan tepukan di punggung agar merasa berharga.
Sifat seperti ini sebenarnya dapat mendorong mereka untuk melampaui batas dan meraih hal-hal hebat. Meskipun ada kekurangannya, kebutuhan akan pujian yang terus-menerus ini bisa menjadi tiket mereka menuju kesuksesan.
2. Cenderung perfeksionis
Seseorang yang terlalu banyak dipuji saat masih kecil, Mereka terus-menerus diberitahu bahwa mereka adalah yang terbaik, jadi mereka mulai percaya bahwa mereka harus sempurna dalam segala hal yang mereka lakukan.
Hal ini dapat mengakibatkan tekanan yang berlebihan untuk tidak hanya meraih keberhasilan, tetapi juga untuk unggul. Ironisnya, dorongan untuk mencapai kesempurnaan kadang kala dapat berujung pada penundaan.
Ketakutan tidak mampu memperoleh hasil sempurna dapat menyebabkan mereka menunda tugas tanpa batas waktu, suatu perilaku yang sering disebut sebagai ‘kelumpuhan perfeksionis’.
Perfeksionisme itu sendiri tidak selalu merupakan sifat negatif. Perfeksionisme dapat mendorong seseorang untuk menghasilkan pekerjaan berkualitas tinggi.
3. Ketakutan akan kegagalan
Tekanan untuk terus-menerus berprestasi sering kali berubah menjadi rasa takut gagal yang mendalam. Anak-anak yang terlalu banyak dipuji terbiasa berada di atas tumpuan.
Mereka terbiasa menang dan meraih penghargaan. Pikiran tentang kegagalan saja bisa menakutkan. Ketika mereka menghadapi situasi yang berpotensi membuat mereka gagal, mereka mungkin memilih untuk keluar sepenuhnya daripada mengambil risiko gagal.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
