Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Desember 2024 | 15.55 WIB

Anda Sering Mengunggah Kata-kata Motivasi di Media Sosial? Simak 4 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

4 ciri kepribadian orang yang sering mengunggah kata-kata motivasi di media sosial (Freepik) - Image

4 ciri kepribadian orang yang sering mengunggah kata-kata motivasi di media sosial (Freepik)

JawaPos.com - Saat Anda punya waktu di akhir pekan, tanyakan pada diri Anda apakah Anda suka mengunggah kata-kata motivasi dari buku atau guru Anda di media sosial?

Tahukah Anda perilaku ini menandakan bahwa Anda sendiri perlu memperbaiki kehidupan diri sendiri yang tadinya penuh tekanan? Atau Anda seorang agen perubahan sejati yang berusaha mengubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik?

Postingan tentang kata-kata motivasi mungkin merupakan cerminan pola pikir, temperamen, wawasan, atau situasi seseorang. Namun apakah Anda tahu makna dan ciri kepribadian orang yang sering mengunggah kata-kata motivasi.

Dilansir dari laman Indian Express oleh JawaPos.com, Jumat (20/12) berikut ini 4 makna dan ciri kepribadian orang yang sering mengunggah kata-kata motivasi di media sosial:

1. Ketidakbahagiaan

Jika Anda sering mengunggah kata-kata motivasi bisa jadi Anda adalah orang yang tidak bahagia. Mengapa demikian?

Menurut Piya Mukherjee, direktur VES Leadership Academy and Research Centre (VESLARC) di Mumbai, orang-orang seperti itu mungkin atau mungkin tidak didorong oleh ketidakbahagiaan dalam hidup mereka sendiri.

Tetapi mereka telah menempuh jalan kepedihan dan mengembangkan rasa belas kasih yang tajam untuk lingkaran pertemanan mereka yang lebih luas di media sosial.

2. Penyembuh

Menurut Mukherjee, ketika seseorang mengalami rasa sakit dan memutuskan untuk mengulurkan tangan membantu orang lain, dua hal terjadi, yakni ada rasa empati dan keterhubungan langsung dengan orang lain yang mungkin menderita, yang mengarah pada perspektif yang lebih baik tentang ketidakbahagiaan seseorang.

Kedua, tindakan membantu orang lain memungkinkan orang tersebut keluar dari rasa mengasihani diri sendiri dan putus asa, dan merasa bahwa dirinya melakukan sesuatu yang bermanfaat.

"Apakah tindakan tersebut benar-benar bermanfaat atau tidak adalah hal yang sekunder. Persepsi yang ditimbulkannya dalam pikiran pelaku adalah hal yang penting," ucapnya.

Orang-orang seperti itu biasanya adalah penyembuh, guru, dan konselor, terlepas dari sebutan profesi yang mereka lakukan.

“Peran mereka adalah membawa sedikit makanan untuk pikiran ke dalam kehidupan teman-teman mereka, dan mereka melakukan ini dengan niat yang tulus,” kata Mukherjee.

3. Kesepian

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore