Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 7 Desember 2024 | 16.46 WIB

7 Kebiasaan Buruk Mahasiswa yang Harus Segera Dihentikan agar Tidak Memberikan Dampak Negatif

Ilustrasi kebiasaan buruk (Kaboompics.com/pexels.com) - Image

Ilustrasi kebiasaan buruk (Kaboompics.com/pexels.com)

JawaPos.com - Masa kuliah merupakan fase krusial yang mempengaruhi perkembangan pribadi, akademik, dan profesional seseorang. Selain sebagai tempat menimba ilmu, perkuliahan juga menjadi ajang dalam membentuk karakter, keterampilan, dan jaringan yang akan mendukung karier di masa depan.

Sayangnya, banyak mahasiswa yang tidak menyadari bahwa kebiasaan buruk yang mereka lakukan selama kuliah bisa menghambat kemajuan mereka. Kebiasaan-kebiasaan ini, meski terkesan sepele, nyatanya mampu berdampak negatif apabila dibiarkan.

Oleh sebab itu, penting bagi mahasiswa mengenali kebiasaan tersebut dan berupaya mengubahnya demi mencapai kesuksesan di masa depan.

Merangkum apa.org, berikut ini beberapa kebiasaan buruk mahasiswa yang harus segera dihentikan agar tidak memberikan dampak negatif.

1. Belajar keras untuk ujian

Begadang semalaman bisa membuat ingatanmu mengenai materi yang dipelajari lebih sulit diingat, sebab asosiasi antara informasi dan waktu atau lingkungan tertentu, menurut Willingham. Ini menjadi masalah bagi mereka yang belajar larut malam, karena ujian biasanya tidak dilaksanakan pada pukul 2 pagi dengan energi dari Red Bull.

Belajar secara terdistribusi sepanjang semester lebih efektif sebab otak tidak mengasosiasikan informasi dengan waktu atau tempat tertentu, tetapi mempelajarinya pada berbagai titik waktu. Penelitian meta-analisis dalam Psychological Bulletin (2006) menunjukkan bahwa peserta yang belajar di dua waktu berbeda mengingat lebih banyak materi dibandingkan yang belajar dalam satu sesi panjang tanpa gangguan.

2. Pola makan yang tidak sehat

Akibat keterbatasan waktu dan uang, mahasiswa sering melewatkan makan siang atau memilih camilan tidak sehat seperti makanan berlemak tinggi. Makanan ini tidak memberikan energi yang cukup dan bisa merugikan otak. Sebuah studi di Journal of Alzheimer's Disease mengaitkan diet tinggi lemak jenuh dengan penurunan daya ingat.

Sementara meta-analisis di Nature Reviews Neuroscience menunjukkan bahwa asam lemak omega-3, yang ada dalam salmon dan kenari bisa meningkatkan ingatan dan pembelajaran. Alison Miller, psikolog klinis, menyarankan mengonsumsi buah dan sayuran segar setiap hari serta mengganti camilan tidak sehat dengan buah kering dan kacang-kacangan.

3. Multitasking

Ungkapan "banyak tugas, sedikit waktu" sering terdengar, dan banyak mahasiswa mencoba multitasking agar lebih produktif. Namun, multitasking justru mengurangi kualitas dan efisiensi kerja. Penelitian menunjukkan otak kita kesulitan fokus saat mengerjakan banyak tugas, sehingga membuat waktu yang dibutuhkan lebih lama dan hasilnya kurang optimal.

Dalam mengatasi ini, kita perlu beralih dari multitasking ke fokus penuh pada satu tugas. Caranya, buatlah lingkungan belajar yang bebas gangguan, seperti menutup aplikasi yang mengganggu, mematikan notifikasi ponsel, dan menjauhkan media sosial. Dengan meminimalkan distraksi, kita bisa memberi perhatian penuh pada tugas yang sedang dikerjakan.

4. Tidak berolahraga

Melewatkan waktu olahraga demi mengejar target belajar mungkin terlihat seperti pilihan yang bijak, tetapi itu justru kesalahan besar. Penelitian menunjukkan bahwa olahraga tidak hanya baik bagi kesehatan fisik, tetapi juga meningkatkan kemampuan otak untuk belajar dan mengingat.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore