Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Desember 2024 | 13.10 WIB

Bentuk Anak Jadi Sombong dan Manja, Hindari 9 Kebiasaan Berikut Menurut Psikologi

Ilustrasi anak yang kelak bakal punya masa depan cemerlang dan menjadi orang sukses. - Image

Ilustrasi anak yang kelak bakal punya masa depan cemerlang dan menjadi orang sukses.

JawaPos.com - Pola asuh yang diterapkan orang tua memang memberikan pengaurh besar terhadap perkembangan karakter anak. Namun sayangnya, ada beberapa kebiasaan dalam pola asuh yang ternyata bisa membentuk nilai minus pada anak.
 
 
Nilai minus ini meliputi sikap sombong dan manja dikemudian hari. Bahkan, anak bisa tumbuh menajdi anak yang kurang empati. 
 
Dilansir dari Personal Branding Blog, ada sembilan kebiasaan orang tua yang sering dianggap biasa, tapi bisa membentuk karakter kurang baik pada anak. Apa saja?
 
 
 

1. Terlalu Memanjakan Anak

Memanjakan anak dengan memenuhi setiap keinginan mereka tanpa mempertimbangkan batasan adalah salah satu kesalahan yang sering terjadi. Orang tua mungkin melakukannya dengan alasan kasih sayang atau untuk menghindari konflik, tetapi ini dapat menciptakan masalah serius di kemudian hari. 

Anak yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan tanpa usaha cenderung tumbuh dengan mentalitas 'berhak' atas segala hal. Mereka menjadi kurang menghargai nilai kerja keras, pengorbanan, dan kesabaran.

Lebih jauh lagi, anak yang terbiasa dimanjakan akan kesulitan memahami konsep menunda kepuasan.  Di masa depan, ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan, bertahan dalam situasi sulit, dan mencapai tujuan jangka panjang. 

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menyeimbangkan kasih sayang dengan batasan yang jelas.

2. Kurangnya Tanggung Jawab

Mengajarkan tanggung jawab kepada anak sejak dini adalah langkah penting dalam membentuk kepribadian yang mandiri. Sayangnya, banyak orang tua yang tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar bertanggung jawab. 

Misalnya, anak tidak diberi tugas rumah tangga sederhana atau tidak diminta untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah mereka sendiri. Ketika anak tidak diajarkan menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka, mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa segala sesuatunya akan selalu diurus oleh orang lain. 

Hal ini dapat menciptakan individu yang tidak mandiri, kurang percaya diri, dan sulit beradaptasi dalam kehidupan dewasa. Sebaliknya, memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan usia anak akan membantu mereka belajar menjadi pribadi yang andal dan bertanggung jawab.

3. Disiplin yang Tidak Konsisten

Konsistensi adalah kunci dalam mendisiplinkan anak. Namun, banyak orang tua yang secara tidak sadar memberikan sinyal campuran kepada anak. 

Misalnya, perilaku buruk anak dibiarkan pada satu waktu, tetapi di lain waktu, perilaku yang sama mendapat hukuman. Inkonsistensi semacam ini membuat anak bingung dan tidak memahami aturan yang jelas.

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan tanpa aturan yang konsisten cenderung mencoba memanipulasi situasi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka juga mungkin kehilangan rasa hormat terhadap aturan dan otoritas, baik di rumah maupun di lingkungan sosial lainnya. 

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menetapkan aturan yang jelas dan konsisten serta menegakkannya dengan tegas namun penuh kasih sayang.

4. Gagal Mengajarkan Rasa Syukur

Rasa syukur adalah salah satu nilai penting yang harus diajarkan kepada anak sejak dini. Namun banyak orang tua yang mengabaikan hal ini, sehingga anak tumbuh menjadi individu yang serakah dan sulit merasa puas. 

Anak yang tidak diajarkan bersyukur cenderung selalu ingin lebih, tanpa menghargai apa yang telah mereka miliki. Untuk mengajarkan rasa syukur, orang tua dapat menjadi teladan dengan menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. 

Misalnya, mengungkapkan rasa terima kasih atas makanan yang tersedia di meja atau atas bantuan kecil yang diberikan oleh orang lain. Dengan cara ini, anak akan belajar menghargai apa yang mereka miliki dan tumbuh menjadi individu yang rendah hati serta penuh penghargaan terhadap orang lain.

5. Tidak Mengizinkan Konsekuensi Alami

Keinginan untuk melindungi anak dari rasa sakit atau kegagalan adalah hal yang sangat wajar bagi setiap orang tua. Namun jika orang tua selalu campur tangan untuk mencegah anak menghadapi konsekuensi alami dari tindakan mereka, anak tidak akan pernah belajar dari kesalahan. 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore