Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 Desember 2024 | 23.35 WIB

8 Kebiasaan di Media Sosial yang Menunjukkan Seseorang Adalah Narsistik yang Haus Perhatian, Menurut Psikologi

10 ciri mengejutkan orang yang narsis di media sosial (Freepik) - Image

10 ciri mengejutkan orang yang narsis di media sosial (Freepik)

JawaPos.com - Penggunaan media sosial sudah menjadi barang lumrah untuk mengetahui bagaimana kepribadian orang sesungguhnya. Salah satunya untuk mengidentifikasi orang itu narsistik atau bukan.
 
Psikologi mengklasifikasikan beberapa hal yang dilakukan orang narsistik di media sosial ketika mereka haus perhatian. Secara tak sadar, Anda pasti sering memperhatikan hal ini.
 
Orang-orang narsistik biasanya menunjukkan jati dirinya di media sosial.
 
Dikutip dari Small Business Bonfire, Rabu (4/12), berikut adalah 8 kebiasaan di media sosial ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang narsistik yang haus perhatian.
 
 
1) Mereka terlalu banyak berbagi
 
Tiddak ada yang salah dengan memberi kabar terbaru kepada teman dan keluarga di media sosial, namun kaum narsistik membawa hal ini ke tingkat yang lebih jauh lagi.
 
Psikologi memberi tahu kita bahwa orang narsistij memiliki rasa penting diri yang berlebihan. Hal ini sering kali berujung pada berbagi berlebihan secara daring, terutama saat mereka sedang haus perhatian.
 
Anda akan menemukan mereka sering memposting tentang kehidupan sehari-hari, prestasi, dan pengalaman mereka, seringkali dengan sangat rinci.
 
Dari kopi pagi mereka hingga pikiran larut malam mereka, tidak ada detail yang terlalu kecil atau tidak penting diunggah dan dibagikannya.
 
Tujuannya adalah agar mereka tetap menjadi pusat perhatian. Mereka menginginkan reaksi, komentar, like, dan share atau apa pun yang membuktikan pentingnya mereka.
 
2) Mereka selalu mengalihkan pembicaraan kembali ke diri mereka sendiri
 
Pernahkah Anda mengobrol dengan seseorang yang selalu membawa topik kembali ke dirinya sendiri?
 
 
Psikologi memberi tahu kita bahwa ini adalah perilaku narsistik klasik. Saat mereka mendambakan perhatian, mereka akan mencari cara untuk mengalihkan fokus kembali ke diri mereka sendiri, bahkan dengan mengorbankan perasaan orang lain.
 
Kebutuhan seorang narsistik akan perhatian sering kali lebih besar daripada pertimbangannya terhadap orang lain.
 
3) Mereka suka kontroversi dan drama
 
Orang narsistik punya bakat untuk menimbulkan kekacauan dan menciptakan drama, terutama saat mereka mencari perhatian daring.
 
Sebab, konflik dan kontroversi secara alami menarik perhatian. Coba lihat setiap perdebatan sengit di internet, Anda mungkin akan menemukan seorang narsisis di tengahnya yang mengobarkan api perdebatan.
 
Mereka akan membagikan opini yang kontroversial, postingan yang memecah belah, atau terlibat dalam perdebatan sengit, bukan semata karena mereka percaya pada suatu hal, tetapi karena hal tersebut membuat mereka diperhatikan.
 
4) Mereka ahli dalam hal merendahkan diri
 
Pernahkah Anda menjumpai seseorang yang secara halus membanggakan prestasinya dengan kedok merendahkan diri atau bersikap rendah hati? Itu sebenarnya tanda orang narsistik.
 
Misalnya, seseorang memposting, “Saya tidak percaya saya membuat kesalahan konyol dalam presentasi saya hari ini, tetapi entah bagaimana, saya tetap memenangkan penghargaan Presenter Terbaik!”
 
Ini adalah contoh klasik dari merendahkan diri yang sebenarnya tak bertujuan begitu. Mereka tampak seperti sedang merendahkan diri atas kesalahan mereka, tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk menonjolkan pencapaian mereka.
 
Orang narsistik menggunakan taktik ini untuk mencari perhatian tanpa terlihat terlalu sombong.
 
5) Mereka jarang terlibat dalam percakapan yang bermakna
 
 
Sementara internet menyediakan platform untuk dialog yang bermakna dan koneksi yang mendalam, kaum narsistik sering menggunakannya sebagai panggung untuk menyiarkan kehidupan dan pendapat mereka tanpa terlibat dalam percakapan yang sebenarnya.
 
Anda akan mendapati mereka memposting tentang pandangan dan pengalaman mereka, tetapi saat membahas ide atau perasaan orang lain, mereka sering kali tidak hadir.
 
Komentar pada unggahan mereka hanya ditanggapi dengan respons umum, jika memang ada.
 
Dan ketika mereka mengomentari unggahan orang lain, biasanya mereka bermaksud mengarahkan pembicaraan kembali ke diri mereka sendiri.
 
Perilaku ini berasal dari keinginan mereka untuk mendapatkan perhatian dan validasi.
 
Terlibat dalam dialog yang bermakna membutuhkan tingkat empati dan kerentanan yang tidak sejalan dengan kecenderungan mementingkan diri sendiri .
 
Ini adalah tanda penting yang harus diwaspadai saat mengidentifikasi perilaku narsistik daring.
 
6) Mereka kurang memiliki empati dalam berinteraksi
 
Media sosial adalah ruang di mana kita berbagi suka dan duka, kemenangan dan kegagalan. Itu adalah tempat di mana kita mencari kenyamanan dan validasi dari orang lain.
 
Namun, kaum narsistik sering kali gagal memberikan empati ini, terutama saat mereka mencari perhatian.
 
Alih-alih menawarkan kata-kata penghiburan atau pengertian, mereka mungkin meremehkan perasaan atau pengalaman orang-orang, atau lebih buruk lagi, meremehkannya.
 
Mereka bahkan mungkin mengabaikan postingan yang memerlukan respons empati , dan memilih untuk terlibat dengan konten yang sesuai dengan agenda mereka.
 
Kurangnya empati dapat membuat interaksi dengan kaum narsisis terasa hampa dan berat sebelah.
 
7) Mereka terus-menerus mencari validasi
 
 
Orang narsistik senang dengan validasi. Mereka mendambakan peneguhan dan pujian untuk meningkatkan harga dirinya.
 
Anda akan sering menemukan mereka memposting konten yang dirancang khusus untuk mendapatkan suka, komentar, dan berbagi.
 
Swafoto yang sempurna, hidangan lezat, liburan mewah, postingan mereka dibuat dengan cermat untuk menggambarkan kehidupan yang sempurna dan menarik kekaguman.
 
Kebutuhan untuk validasi berakar kuat pada rasa harga diri mereka.
 
Namun, upaya terus-menerus untuk mendapatkan persetujuan ini bisa jadi cukup membebani bagi orang-orang di sekitar mereka.
 
8) Mereka sering kali perfeksionis
 
Orang mungkin berasumsi bahwa orang narsistik dengan rasa penting diri yang berlebihan akan merasa nyaman memamerkan kekurangan mereka. Anehnya, hal itu jarang terjadi.
 
Orang narsistik justru sering kali perfeksionis, terutama dalam hal kepribadian daring mereka. Mereka dengan cermat mengatur kehadiran daring mereka untuk menampilkan citra kesempurnaan.
 
Setiap unggahan, setiap foto, setiap komentar dibuat dengan cermat untuk memastikannya selaras dengan gambar yang sempurna ini.
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore