Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Desember 2024 | 02.23 WIB

Hidup dengan Tenang, 8 Cara Ini Ampuh untuk Mengenali Teman Palsu di Sekitar Anda: Pilih Berhenti atau Melanjutkan Hubungan?

Ilustrasi cara ampuh mengenali teman palsu di sekitar Anda. Freepik - Image

Ilustrasi cara ampuh mengenali teman palsu di sekitar Anda. Freepik

JawaPos.com - Persahabatan adalah hal yang indah untuk dijalani, tetapi tidak terhadap teman palsu dan penipu.

Sederhananya, seorang teman sejati ada untukmu melewati berbagai tantangan yang ada di depan.

Sementara teman palsu, suka bermain peran seolah menari perhatianmu. Namun sebenarnya, mereka tidak terlalu tertarik pada Anda.

Dikutip dari Geediting pada Senin (2/12), persahabatan sejatinya adalah tentang keseimbangan kedua belah pihak. Semisal ketika Anda memberi dan menerima hingga berbagi dan peduli.

Lantas, bagaimana cara terbaik untuk mengenali teman sejati dan palsu di sekitar Anda? Apakah Anda bisa terlepas dari mereka? Simak penjelasannya!

1. Menghilang di Saat Anda Membutuhkan

Ketika Anda mengalami masa-masa sulit, teman sejati adalah orang-orang yang muncul.

Mereka ada di sana untuk mendengarkan, menawarkan melalui kata-kata yang menghibur atau hanya duduk bersama Anda serta diam.

Di sisi lain, teman palsu sering menghilang ketika Anda sangat membutuhkannya. Mereka mungkin membuat alasan, mengubah topik pembicaraan atau hanya tidak menanggapi panggilan serta pesan Anda.

Jadi jika teman Anda secara konsisten tidak hadir di saat Anda membutuhkan, itu adalah indikasi yang jelas bahwa mereka mungkin tidak setulus yang Anda pikirkan.

2. Mereka Bersikap Kompetitif Saat Bersama

Sedikit kompetisi yang bersahabat dapat membawa kegembiraan pada persahabatan. Tetapi ketika itu menjadi sesuatu yang berlebih, hal itu tidak baik.

Teman palsu sering memandang hubungan Anda sebagai kompetisi. Entah itu tentang siapa yang memiliki pekerjaan yang lebih baik, rumah yang lebih bagus, atau bahkan keluarga yang lebih sempurna. Mereka selalu berusaha untuk mengalahkan Anda.

Psikolog menyarankan bahwa sifat kompetitif ini mungkin berasal dari perasaan tidak memadai atau harga diri yang rendah.

Orang-orang seperti itu sering memvalidasi diri mereka sendiri dengan mencoba mengungguli orang lain.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore