Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 November 2024 | 18.18 WIB

Amal yang Dijadikan Konten: Mengungkap 6 Kepribadian Orang yang Berbuat Baik Demi Popularitas di Media Sosial

Ilustrasi orang yang sedang bermain sosial media. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang yang sedang bermain sosial media. (Freepik)

JawaPos.Com - Dewasa ini, mencari validitas dan pengakuan di media sosial semakin marak dilakukan dengan berbagai cara. 
 
Salah satu hal yang cukup ironis yakni, maraknya perbuatan baik dan beramal yang sering kali dijadikan konten. 
 
Pada dasarnya, hal ini memang tidak salah, namun pada kenyataanya tidak semua orang yang membagikan aksi kebaikan di media sosial melakukannya dengan tulus. 
 
Alih-alih berbagi dan memberikan contoh yang baik, kini makin banyak ditemukan bahwa kegiatan tersebut hanya untuk mencari keuntungan dan mencari popularitas. 
 
Meski beberapa orang melakukannya benar-benar dengan hati yang tulus dan ingin menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa.

Namun, penting untuk memahami bahwa niat di balik tindakan adalah aspek yang sangat penting.

Jika kebaikan dilakukan hanya untuk pencitraan atau keuntungan pribadi, maka esensinya berkurang. 

Sebaliknya, jika tujuan utamanya adalah untuk memberikan dampak positif, media sosial bisa menjadi alat yang luar biasa untuk menyebarkan energi positif.

Lantas,  apakah tindakan tersebut benar-benar membawa manfaat bagi orang lain? Ataukah hanya sekadar ajang pamer?

Dikutip dari laman Geediting, inilah enam ciri utama orang yang melakukan kebaikan dan beramal hanya untuk konten dan mencari popularitas semata.

1. Mereka Sangat Membutuhkan Validasi

Salah satu ciri utama dari orang yang berbuat baik demi popularitas adalah kebutuhan akan validasi. Mereka mencari pengakuan dalam bentuk likes, komentar, dan pujian di media sosial.

Misalnya, seseorang mungkin merekam momen saat mereka memberikan makanan kepada tunawisma, bukan hanya untuk membantu tetapi juga untuk memastikan orang lain melihat dan memuji aksi mereka.

Validasi ini memberikan rasa kepuasan yang mendalam, bahkan lebih dari perbuatan baik itu sendiri.

2. Mereka Cenderung Narcissistic

Kepribadian narsistik sering kali menjadi alasan di balik tindakan kebaikan yang dibuat untuk konsumsi publik.

Orang dengan sifat ini ingin memastikan bahwa mereka selalu terlihat sebagai sosok yang hebat di mata orang lain.

Mereka memanfaatkan aksi kebaikan sebagai alat untuk membangun citra diri. Dalam pandangan mereka, semakin banyak orang yang mengapresiasi, semakin tinggi rasa percaya diri mereka.

Sayangnya, fokus mereka sering kali lebih kepada "bagaimana saya terlihat," daripada dampak nyata dari tindakan tersebut.

3. Mereka Ingin Mendapatkan Keuntungan Pribadi

Perbuatan baik yang terlihat di media sosial sering kali dilakukan dengan motif tersembunyi.

Beberapa individu memanfaatkan kebaikan sebagai strategi untuk mendapatkan keuntungan, baik itu dalam bentuk popularitas, dukungan, atau bahkan peluang bisnis.

Sebagai contoh, seorang influencer mungkin mendonasikan sejumlah uang sambil mempromosikan merek tertentu.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore