Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Oktober 2024 | 20.34 WIB

Sering Meremehkan Perasaan Anak: 9 Ciri Orang Tua yang Anak-anaknya Akan Jarang Berkomunikasi dengan Mereka Setelah Dewasa

Ilustrasi hubungan orang tua yang renggang dengan anaknya (freepik/gratispik)

JawaPos.com - Anak-anak yang sudah dewasa dan memilih untuk memutus komunikasi dan menjauhi orang tua mereka sering melakukannya sebagai pilihan terakhir karena mereka percaya cara orang tua mereka muncul dalam kehidupan mereka lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat.

Meskipun renggangnya hubungan orang tua dan anak-anak tidak selalu permanen, hal ini menunjukkan bahwa hubungan yang terjalin antara orang tua dan anak-anak tidak lagi berfungsi. Dilansir JawaPos.com dari laman YourTango, Selasa (22/10), berikut sembilan ciri orang tua yang anak-anaknya yang sudah dewasa sering tidak pernah berhubungan lagi setelah mereka dewasa.

1. Mereka kurang empati

Orang tua yang anak-anaknya yang sudah dewasa sering tidak berhubungan biasanya kurang memiliki empati, yang berarti mereka kesulitan mengenali emosi orang lain. Seperti yang dijelaskan oleh pelatih kehidupan dan hubungan bersertifikat Mitzi Bockman, seseorang yang kurang memiliki empati sering menghakimi emosi orang lain. 

Mereka tidak mau atau tidak mampu memahami perasaan orang lain, sehingga mereka tidak memiliki kapasitas atau perspektif yang diperlukan untuk memahami perasaan orang lain. Bockman mencatat bahwa orang yang kurang empati sering kali kesulitan mempertahankan hubungan dalam jangka panjang.

2. Mereka mengendalikan

Mengontrol adalah sifat lain dari orang tua yang sering tidak berhubungan dengan anak-anak dewasa mereka setelah mereka dewasa. Sangat mungkin bahwa orang tua yang hadir dan siap sedia saat anak-anak mereka masih kecil menjadi terbiasa membuat keputusan penting bagi mereka dan berjuang untuk mengenali kemandirian mereka saat mereka dewasa. 

Mereka mungkin mencoba untuk mengatur kehidupan anak-anak dewasa mereka secara mendetail, yang menciptakan ketegangan. Sifat mereka yang suka mengontrol dapat terlihat dalam berbagai cara, mereka mungkin tidak setuju dengan jalur karier atau pilihan pasangan anak mereka yang sudah dewasa. 

Mereka bahkan mungkin tidak setuju dengan gaya pengasuhan anak-anak mereka yang sudah dewasa dan mencoba meremehkan cara mereka membesarkan anak-anak mereka. Orang tua yang suka mengontrol mungkin tidak merasa bahwa mereka melakukan kesalahan, tetapi jika mereka tidak mau mundur dan mengubah perilakunya, anak-anak mereka yang sudah dewasa kemungkinan akan menjauhi mereka.

3. Mereka mengabaikan batasan anak-anak mereka

Orang tua yang anak-anaknya yang sudah dewasa sering tidak berhubungan lagi setelah mereka dewasa cenderung mengabaikan batasan. Mereka tidak menghargai kebutuhan anak-anak mereka yang sudah dewasa akan ruang atau keinginan mereka untuk membangun identitas yang otonom, yang terpisah dari cara mereka dibesarkan. 

Orang tua yang tidak memiliki batasan sering kali mengabaikan atau melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh anak-anak mereka yang sudah dewasa, yang pada akhirnya berujung pada kebencian yang terpendam dalam-dalam. Bila orang tua berulang kali menolak mengakui batasan anak-anak mereka yang sudah dewasa, mereka berisiko dikucilkan.

4. Mereka meremehkan perasaan anak-anak mereka

Orang tua yang meremehkan pengalaman emosional anak-anak mereka yang sudah dewasa sering kali berakhir dengan menjauh dari mereka. Mereka meremehkan perasaan anak-anak mereka dengan melabeli anak-anak mereka terlalu sensitif atau mengatakan bahwa mereka bereaksi berlebihan jika mereka mengungkapkan perasaan mereka. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore