
Potret pasangan orang tua yang berbahagia.
JawaPos.com – Siapa, sih, seseorang yang tidak ingin menjadi bahagia? Semua orang di dunia pasti berusaha dan berbondong-bondong untuk mencari, mempertahankan, dan mengharapkan kebahagiaan untuk diri kita dan untuk orang-orang yang kita cintai.
Kita juga menggunakan kebahagiaan sebagai tolok ukur untuk mengambil keputusan dalam hidup. Jika sebuah pekerjaan tidak membuat kita bahagia, kita akan berhenti bekerja. Jika sebuah hubungan tidak lagi membuat kita bahagia, kita akan meninggalkannya.
Kebahagiaan telah menjadi kunci dalam kehidupan kita dan kita membuat beberapa pilihan drastis untuk mencapainya. Hal ini banyak terjadi pada orang-orang berusia 30-an dan 40-an.
Melansir dari Los Angeles Times, Rabu (2/10), dalam sebuah survei terbaru terhadap lebih dari 1.500 penduduk San Diego yang berusia 21 hingga 99 tahun, para peneliti melaporkan bahwa orang-orang berusia 20-an adalah yang paling stres dan tertekan, sementara mereka yang berusia 90-an adalah yang paling bahagia.
Sebaliknya, para ilmuwan menemukan hubungan yang jelas dan linier antara usia dan kesehatan mental, bahwa semakin tua usia seseorang, semakin bahagia perasaan mereka. “Dalam literatur, hal ini disebut paradoks penuaan,” kata direktur Stanford Center on Longevity, Laura Carstensen.
Jadi, jika kita merasa tidak bahagia hari ini, bisakah kita berharap untuk hari esok yang lebih baik? Untungnya, penelitian menunjukkan bahwa hal ini bisa diharapkan, karena terlepas dari perbedaan individu, kita mengalami beberapa perubahan alami dalam hidup yang mempengaruhi kebahagiaan kita.
Melansir The Conversation, inilah alasan mengapa kebahagiaan manusia cenderung seiring bertumbuhnya usia.
1. Perspektif waktu
Pada sebagian masyarakat di Indonesia, kita cenderung menghabiskan usia 20-an dan 30-an untuk merangkai dan menciptakan masa depan.
Pada akhir usia 30-an dan awal 40-an, ketika kita menyadari bahwa kita belum mencapai apa yang kita harapkan, masa depan kita menyusut dengan cepat, kita memiliki dua pilihan. Kita bisa mulai panik, atau kita bisa menyesuaikan diri dengan semua perubahan ini dengan mengarahkan pikiran kita ke masa lalu yang positif.
Inilah yang dilakukan oleh sebagian besar dari kita, yang membuat kita merasa lebih aman dan lebih bahagia, saat kita memasuki tahap-tahap selanjutnya dalam hidup kita.
2. Kehidupan emosional
Ketika kita masih muda, kita membiarkan emosi kita menjadi liar. Perihal emosi, kita memang perlu belajar dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengendalikannya.
Ketika kita memasuki usia 50-an, emosi kita menjadi lebih stabil dan kita mulai mencapai ketenangan dalam hidup. Selain itu, kita lebih tertarik pada hal-hal positif dan mampu mempertahankannya lebih lama, yang merupakan alasan lain mengapa kita merasa lebih bahagia seiring bertambahnya usia.
3. Jaringan sosial

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
