
seseorang yang berhenti membandingkan diri dengan orang lain / foto: Magnific/benzoix
JawaPos.com - Kebahagiaan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus dicapai melalui pencapaian besar, kekayaan, popularitas, atau kehidupan yang sempurna. Namun, penelitian psikologi modern menunjukkan gambaran yang berbeda. Orang-orang yang benar-benar bahagia tidak selalu memiliki hidup tanpa masalah. Mereka tetap menghadapi tantangan, kegagalan, dan ketidakpastian seperti orang lain.
Perbedaannya terletak pada kebiasaan mental yang mereka bangun dari waktu ke waktu. Menariknya, banyak dari kebiasaan tersebut bukan tentang apa yang mereka lakukan, melainkan apa yang mereka berhenti lakukan. Mereka secara perlahan meninggalkan pola pikir dan perilaku tertentu yang terbukti menguras energi emosional.
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (3/6), terdapat tujuh hal yang diam-diam telah lama dihentikan oleh orang-orang yang benar-benar bahagia menurut berbagai temuan psikologi.
1. Mereka Berhenti Membandingkan Hidupnya dengan Orang Lain
Salah satu pencuri kebahagiaan terbesar adalah perbandingan sosial yang terus-menerus. Psikolog menyebut fenomena ini sebagai social comparison, yaitu kecenderungan manusia menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.
Di era media sosial, kebiasaan ini menjadi semakin kuat. Kita melihat orang lain liburan ke luar negeri, mendapatkan promosi jabatan, membeli rumah baru, atau membangun bisnis yang sukses. Tanpa sadar, kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian mereka.
Orang yang benar-benar bahagia memahami bahwa setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Mereka menyadari bahwa apa yang terlihat di permukaan sering kali tidak menggambarkan keseluruhan cerita.
Alih-alih bertanya, "Mengapa hidupku tidak seperti mereka?" mereka lebih sering bertanya, "Apakah aku berkembang dibanding diriku yang dulu?"
Psikologi menunjukkan bahwa fokus pada pertumbuhan pribadi cenderung menghasilkan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan fokus pada kompetisi sosial.
2. Mereka Berhenti Mencari Persetujuan dari Semua Orang
Banyak orang menghabiskan sebagian besar hidupnya berusaha disukai semua orang. Mereka takut ditolak, takut mengecewakan orang lain, dan takut dianggap buruk.
Akibatnya, mereka sering mengatakan "ya" ketika sebenarnya ingin mengatakan "tidak".
Orang yang bahagia telah memahami sebuah kenyataan sederhana: tidak mungkin memuaskan semua orang.
Mereka tidak menjadikan pujian sebagai sumber harga diri utama. Mereka juga tidak membiarkan kritik menentukan identitas mereka.
Psikolog menemukan bahwa individu yang memiliki internal locus of control—yaitu keyakinan bahwa nilai dirinya berasal dari dalam, bukan dari penilaian orang lain—cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Racing de Santander vs Alaves di Liga Spanyol: Harapan Baba Zorros di El Sardinero
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Augsburg vs Bayer Leverkusen di Liga Jerman: Die Werkself Buru Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Persija vs Persib di Super League 2026/2027: Macan Kemayoran Menang Dramatis!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022