Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 Juni 2026 | 05.31 WIB

7 Hal yang Diam-Diam Dihentikan oleh Orang yang Benar-Benar Bahagia Bertahun-Tahun yang Lalu Menurut Psikologi

seseorang yang berhenti membandingkan diri dengan orang lain / foto: Magnific/benzoix - Image

seseorang yang berhenti membandingkan diri dengan orang lain / foto: Magnific/benzoix

JawaPos.com - Kebahagiaan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus dicapai melalui pencapaian besar, kekayaan, popularitas, atau kehidupan yang sempurna. Namun, penelitian psikologi modern menunjukkan gambaran yang berbeda. Orang-orang yang benar-benar bahagia tidak selalu memiliki hidup tanpa masalah. Mereka tetap menghadapi tantangan, kegagalan, dan ketidakpastian seperti orang lain.

Perbedaannya terletak pada kebiasaan mental yang mereka bangun dari waktu ke waktu. Menariknya, banyak dari kebiasaan tersebut bukan tentang apa yang mereka lakukan, melainkan apa yang mereka berhenti lakukan. Mereka secara perlahan meninggalkan pola pikir dan perilaku tertentu yang terbukti menguras energi emosional.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (3/6), terdapat tujuh hal yang diam-diam telah lama dihentikan oleh orang-orang yang benar-benar bahagia menurut berbagai temuan psikologi.

1. Mereka Berhenti Membandingkan Hidupnya dengan Orang Lain

Salah satu pencuri kebahagiaan terbesar adalah perbandingan sosial yang terus-menerus. Psikolog menyebut fenomena ini sebagai social comparison, yaitu kecenderungan manusia menilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.

Di era media sosial, kebiasaan ini menjadi semakin kuat. Kita melihat orang lain liburan ke luar negeri, mendapatkan promosi jabatan, membeli rumah baru, atau membangun bisnis yang sukses. Tanpa sadar, kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan pencapaian mereka.

Orang yang benar-benar bahagia memahami bahwa setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Mereka menyadari bahwa apa yang terlihat di permukaan sering kali tidak menggambarkan keseluruhan cerita.

Alih-alih bertanya, "Mengapa hidupku tidak seperti mereka?" mereka lebih sering bertanya, "Apakah aku berkembang dibanding diriku yang dulu?"

Psikologi menunjukkan bahwa fokus pada pertumbuhan pribadi cenderung menghasilkan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan fokus pada kompetisi sosial.

2. Mereka Berhenti Mencari Persetujuan dari Semua Orang

Banyak orang menghabiskan sebagian besar hidupnya berusaha disukai semua orang. Mereka takut ditolak, takut mengecewakan orang lain, dan takut dianggap buruk.

Akibatnya, mereka sering mengatakan "ya" ketika sebenarnya ingin mengatakan "tidak".

Orang yang bahagia telah memahami sebuah kenyataan sederhana: tidak mungkin memuaskan semua orang.

Mereka tidak menjadikan pujian sebagai sumber harga diri utama. Mereka juga tidak membiarkan kritik menentukan identitas mereka.

Psikolog menemukan bahwa individu yang memiliki internal locus of control—yaitu keyakinan bahwa nilai dirinya berasal dari dalam, bukan dari penilaian orang lain—cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi.

Mereka tetap menghargai masukan orang lain, tetapi tidak menggantungkan kebahagiaan mereka pada persetujuan publik.

3. Mereka Berhenti Menghidupkan Kembali Kesalahan Masa Lalu

Salah satu kebiasaan yang paling melelahkan secara mental adalah terus mengulang kesalahan lama di dalam pikiran.

Mungkin itu keputusan karier yang salah, hubungan yang gagal, peluang yang terlewat, atau ucapan yang disesali.

Psikologi menyebut pola ini sebagai rumination, yaitu kecenderungan memikirkan masalah yang sama berulang kali tanpa menghasilkan solusi.

Orang yang bahagia memahami bahwa masa lalu tidak dapat diubah. Mereka mengambil pelajaran yang diperlukan, lalu melanjutkan hidup.

Ini bukan berarti mereka melupakan semuanya. Mereka hanya berhenti menghukum diri sendiri atas hal-hal yang sudah tidak bisa diperbaiki.

Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mempraktikkan self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri berkaitan erat dengan tingkat kebahagiaan dan kesehatan mental yang lebih baik.

4. Mereka Berhenti Mengejar Kesempurnaan

Perfeksionisme sering disalahartikan sebagai standar tinggi. Padahal, dalam banyak kasus, perfeksionisme justru menciptakan kecemasan kronis.

Orang yang terus mengejar kesempurnaan biasanya merasa tidak pernah cukup baik. Setiap pencapaian selalu terlihat kurang. Setiap kesalahan terasa seperti bencana.

Sebaliknya, orang yang benar-benar bahagia menerima bahwa hidup tidak harus sempurna untuk menjadi bermakna.

Mereka fokus pada kemajuan, bukan kesempurnaan.

Mereka berani mencoba, gagal, belajar, lalu mencoba lagi.

Psikologi positif menunjukkan bahwa penerimaan terhadap ketidaksempurnaan membantu seseorang mengembangkan ketahanan emosional yang lebih kuat dibandingkan obsesi untuk selalu sempurna.

5. Mereka Berhenti Mengkhawatirkan Hal yang Tidak Bisa Mereka Kendalikan

Banyak energi mental terbuang untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita.

Cuaca, ekonomi, opini orang lain, keputusan masa lalu, atau berbagai kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi.

Orang yang bahagia belajar membedakan antara apa yang bisa mereka pengaruhi dan apa yang tidak.

Mereka mengarahkan perhatian pada tindakan nyata yang dapat dilakukan hari ini.

Pendekatan ini selaras dengan berbagai teori psikologi tentang regulasi emosi dan juga prinsip-prinsip yang telah lama dikenal dalam filsafat Stoik.

Ketika seseorang berhenti bertarung melawan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan, ia memiliki lebih banyak energi untuk memperbaiki hal-hal yang memang berada dalam jangkauannya.

6. Mereka Berhenti Menunda Kebahagiaan

Banyak orang hidup dengan pola pikir seperti ini:

"Aku akan bahagia setelah mendapatkan pekerjaan itu."

"Aku akan bahagia setelah menikah."

"Aku akan bahagia setelah punya rumah."

"Aku akan bahagia setelah mencapai target tertentu."

Masalahnya, target selalu berubah. Setelah satu tujuan tercapai, muncul tujuan baru.

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia cepat terbiasa dengan pencapaian baru sehingga tingkat kebahagiaan kembali ke titik awal.

Orang yang benar-benar bahagia memahami bahwa kebahagiaan bukan hadiah di garis akhir.

Mereka belajar menemukan makna dalam proses, menghargai momen kecil, dan menikmati perjalanan sambil tetap memiliki ambisi.

Mereka tidak menunggu hidup menjadi sempurna untuk mulai merasa bersyukur.

7. Mereka Berhenti Mengabaikan Kebutuhan Emosional Mereka Sendiri

Banyak orang ahli merawat orang lain tetapi lupa merawat dirinya sendiri.

Mereka terus bekerja tanpa istirahat, memendam emosi, mengabaikan stres, dan mengorbankan kebutuhan pribadi demi memenuhi tuntutan sekitar.

Dalam jangka panjang, pola ini sering berujung pada kelelahan emosional atau burnout.

Orang yang bahagia memahami bahwa menjaga kesehatan mental bukan tindakan egois.

Mereka memberi ruang untuk beristirahat, menetapkan batasan yang sehat, dan mengakui perasaan mereka tanpa rasa bersalah.

Psikologi menunjukkan bahwa kemampuan mengenali dan mengelola emosi secara sehat merupakan salah satu faktor penting dalam kesejahteraan jangka panjang.

Mereka tidak menunggu sampai benar-benar kelelahan untuk mulai memperhatikan diri sendiri.

Penutup

Kebahagiaan yang bertahan lama jarang datang dari keberuntungan semata. Lebih sering, kebahagiaan muncul dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan berulang kali selama bertahun-tahun.

Orang-orang yang benar-benar bahagia tidak memiliki kehidupan yang sempurna. Mereka hanya telah belajar melepaskan beberapa kebiasaan mental yang selama ini menguras energi dan ketenangan batin.

Mereka berhenti membandingkan diri dengan orang lain, berhenti mencari validasi dari semua orang, berhenti terjebak dalam masa lalu, berhenti mengejar kesempurnaan, berhenti mengkhawatirkan hal yang tidak bisa dikendalikan, berhenti menunda kebahagiaan, dan berhenti mengabaikan kebutuhan emosional mereka sendiri.

Pada akhirnya, kebahagiaan bukan hanya tentang apa yang kita tambahkan ke dalam hidup. Terkadang, kebahagiaan justru muncul ketika kita berani melepaskan hal-hal yang sudah lama tidak lagi melayani diri kita.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore