Ilustrasi hubungan tidak sehat dan membosankan. (Freepik/cookie_studio)
JawaPos.com - Ayahku sering berkata, " Darah lebih kental dari air.” Tapi jujur saja, hubungan keluarga tidak selalu seperti pelangi dan kupu-kupu. Terkadang, mereka bisa sangat beracun. Tetapi psikologi memiliki beberapa jawaban untuk Anda. Soalnya, berurusan dengan keluarga yang beracun tidak berarti Anda harus memutuskan hubungan sepenuhnya atau menjalani kehidupan yang penuh ketegangan.
Ada beberapa cara untuk menavigasi perairan yang penuh gejolak ini dan tetap menjaga kewarasan Anda. Jadi kencangkan sabuk pengaman. Saya akan membagikan tujuh strategi bertahan hidup yang didukung oleh psikologi yang dapat membantu Anda mengatasi dinamika keluarga yang menantang dengan lebih baik.
1)Menetapkan batasan yang jelas
Kita sering mendengar tentang pentingnya batasan dalam hubungan. Tapi kalau menyangkut keluarga, ini bisa terasa agak rumit, bukan?
Ini kesepakatannya. Batasan bukan tentang mendorong orang menjauh. Mereka tentang menciptakan ruang yang aman untuk diri sendiri. Sebuah ruang di mana anda dapat bernapas, tumbuh, dan menjadi diri sejati anda tanpa takut akan penilaian atau kritik.
Menurut psikologi, menetapkan batasan dapat secara signifikan mengurangi dampak dinamika keluarga yang beracun terhadap kesehatan mental anda. Jadi bagaimana anda melakukannya? Mulailah dengan mengidentifikasi apa yang dapat anda terima dan apa yang tidak.
Kemudian komunikasikan hal ini dengan jelas (dan tegas) kepada anggota keluarga anda. Dan ya, mungkin terasa canggung pada awalnya. Tapi seiring berjalannya waktu, itu akan menjadi lebih alami. Plus, anda akan merasa lebih berdaya dan tidak terlalu stres.
Jadi lanjutkan, mulailah menggambar garis-garis itu. Bagaimanapun, itu hak Anda.
2) Berlatih perawatan diri
Ini mungkin tampak seperti no-brainer, tapi percayalah, ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Ketika anda terjebak dalam lingkungan keluarga yang beracun, mudah untuk melupakan kebutuhan anda sendiri.
Anda bahkan mungkin merasa bersalah karena meluangkan waktu untuk diri sendiri. Saya tahu saya melakukannya. Izinkan saya berbagi sedikit cerita saya sendiri. Beberapa tahun yang lalu, saya berurusan dengan beberapa masalah keluarga. Rasanya seperti saya berada di roller coaster emosional setiap hari.
Saya terus-menerus stres, kurang tidur, dan kesehatan saya mulai memburuk. Suatu hari, setelah pertengkaran sengit lainnya, saya menyadari sesuatu. Saya sangat sibuk mencoba memperbaiki orang lain, sehingga saya benar-benar mengabaikan diri saya sendiri.
Saat itulah saya memutuskan untuk mengubah banyak hal. Saya mulai meluangkan waktu setiap hari untuk diri saya sendiri, meskipun hanya setengah jam. Saya akan membaca buku, berjalan-jalan atau hanya duduk diam. Dan kau tahu apa? Itu bekerja dengan sangat baik bagi saya. Psikologi juga mendukung hal ini. Saat kita mempraktikkan perawatan diri, kita lebih siap untuk menangani stres dan juga dapat mencegah kelelahan. Tidak egois untuk menjaga diri sendiri. Itu perlu. Dan itu salah satu cara terbaik untuk menghadapi lingkungan keluarga yang beracun.
3)Mencari bantuan profesional

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
