
Ilustrasi orang tua berbicara dengan anak. Sumber foto: freepik/sherry
JawaPos.com - Para orang tua sering kali menggunakan kalimat-kalimat sepele tanpa menyadarinya ketika berkomunikasi dengan anak-anak mereka.
Namun, sebagian dari kalimat-kalimat ini dapat memiliki dampak yang tidak diinginkan pada perkembangan emosional dan psikologis anak.
Oleh karena itu, penting bagi para orang tua untuk memahami pentingnya bahasa yang digunakan dalam berinteraksi dengan anak-anak mereka.
Dilansir dari Huff Post pada Senin (25/3), terdapat 6 kalimat sepele yang tampaknya sederhana, namun lebih baik dihindari ketika berbicara dengan anak-anak, dan simak bagaimana penggunaannya perlu diperhatikan secara lebih cermat.
Baca Juga: Orang Tua Harus Tahu! 7 Tips Memahami Psikologi Remaja
1. Menggunakan frasa pertanyaan untuk meminta bantuan
Frasa-frasa ini sering digunakan untuk meminta bantuan atau izin dengan sopan. Namun, bagi anak-anak, hal itu bisa membingungkan karena frasa seperti itu dapat memberikan kesan pada mereka bahwa mereka memiliki pilihan untuk menolak.
Misalnya, ketika Anda meminta anak untuk membereskan mainan dengan mengatakan, "Apakah kamu bisa membereskan mainan itu?" Dimana anak merasa bahwa mereka bisa menolak atau tidak mematuhi perintah tersebut. Ini bisa mengakibatkan kebingungan dan kurangnya ketaatan.
Sebagai alternatif, lebih baik menggunakan perintah langsung yang jelas dan tidak memberi ruang bagi penolakan, seperti "rapihkan mainan itu, tolong" atau "Waktunya membereskan mainan sekarang."
Dengan cara ini, anak memahami bahwa mereka diharapkan untuk melakukan tugas tersebut sebagai bagian dari rutinitas dan tidak ada pilihan untuk menolaknya.
Ini membantu memperjelas instruksi dan meningkatkan ketaatan anak tanpa menyebabkan kebingungan.
Baca Juga: Orang Tua Wajib Baca, Kenali 7 Cara Mendukung Kesehatan Mental Anak Sejak Dini, Begini Penjelasan UNICEF
2. Frasa "aku tidak akan membantumu"
Frasa "Aku tidak akan membantumu" bisa membuat anak merasa putus asa dan enggan meminta bantuan di lain waktu.
Sebagai alternatifnya, disarankan untuk mengatakan "Coba dulu, jika tidak berhasil kita bisa melakukannya bersama." Ini menunjukkan bahwa Anda mempercayai kemampuan anak tetapi tetap siap memberikan dukungan jika diperlukan.
3. Frasa pujian seperti "bagus sekali"
Frasa "Bagus sekali!" sering digunakan untuk memberi pujian kepada anak-anak. Namun, pujian yang terlalu umum seperti ini tidak memberikan wawasan yang cukup kepada anak tentang apa yang mereka lakukan dengan baik.
Sebagai gantinya, disarankan untuk memberikan pujian yang lebih spesifik agar anak tahu perilaku mana yang dihargai dan perlu diulang di masa depan.
Misalnya, alih-alih hanya mengatakan "Bagus sekali!" Anda bisa mengatakan sesuatu seperti, "Saya melihat kamu merapihkan mainan dan meletakkannya di tempatnya, itu sangat membantu!" dengan cara ini, anak akan lebih memahami apa yang telah mereka lakukan dengan baik dan akan merasa dihargai atas usaha mereka.
Baca Juga: Anak yang Cerdas Cenderung Menunjukkan 7 Hal Ini, Para Orang Tua Wajib Tahu
4. Frasa untuk menenangkan anak saat anak rewel misalnya "tenanglah" atau "diamlah"
Instruksi "Tenanglah" seringkali diucapkan kepada anak yang sedang berteriak atau dalam keadaan emosional. Namun, frasa ini tidak efektif untuk diucapkan karena tidak ada yang langsung tenang hanya karena diminta demikian.
Sebaliknya, memberikan pelukan, melatih anak mengambil napas dalam, atau mengalihkan perhatian bisa lebih membantu anak untuk merasa tenang dan mengatasi perasaan mereka. Keberadaan Anda yang tenang juga bisa menjadi dukungan yang penting bagi mereka.
5. Kalimat "loh kok tidak bilang dari tadi"
Kalimat sepeerti itu menunjukkan ketidakpuasan atau kekecewaan karena informasi tersebut tidak disampaikan lebih awal oleh sang anak.
Namun, menyatakan hal ini kepada anak dapat membuat mereka merasa bersalah atau takut untuk berbagi informasi di masa depan.
Sebagai gantinya, menyampaikan rasa terima kasih atas keberanian anak dalam berbicara serta menekankan bahwa Anda siap mendengarkan adalah pendekatan yang lebih baik untuk menciptakan lingkungan yang aman dan terbuka bagi komunikasi.
Baca Juga: Fakta Kepribadian Unik Anak Tengah dari Tiga Bersaudara, Perlu Diketahui Orang Tua
6. Frasa menghentinkan sesuati yang dilakukan pada anak seperti "berhenti" atau "hentikan itu"
Frasa "hentikan itu" sering digunakan untuk menghentikan perilaku anak yang tidak diinginkan.
Namun, dalam konteks ini, disarankan untuk menggunakan perintah yang lebih positif dan spesifik daripada hanya sekadar mengatakan "berhenti."
Hal ini membantu anak memahami apa yang seharusnya dilakukan daripada apa yang seharusnya tidak dilakukan.
Misalnya, mengatakan "Jangan kemana-mana, tetaplah berjalandi sampingku" dimana ini memberikan arahan yang jelas kepada anak tentang tindakan yang diharapkan daripada sekadar melarang sesuatu. Pendekatan ini dapat membantu menjaga suasana positif dan memperjelas harapan kepada anak.
***

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
