ILUSTRASI. Eksim pada orang dewasa dan anak-anak ternyata berbeda.
JawaPos.com – Dermatitis atopik atau eksim merupakan salah satu penyakit kulit yang sering dialami anak hingga usia dewasa. Ruam merah karena peradangan dan rasa gatal biasanya muncul ketika eksim sedang bereaksi di permukaan kulit.
Diungkapkan Dokter Spesialis Kulit dr. Grace N. S. Wardhana, bisa dikatakan dermatitis atopik adalah penyakit yang harus dibawa si penderita seumur hidup. Sebab, salah satu penyebab munculnya dermatitis atopik ini karena genetik.
Sehingga, jika dikeluarga ada yang memiliki riwayat alergi, maka kemungkinan besar bisa diturunkan pada anak. Bukan hanya diturunkan dari kedua orang tuanya, tapi bisa juga berasal dari keluarga besar. Seperti nenek dan kakek atau tante dan pamannya.
Deengan kata lain, karena penyebabnya yang genetic ketika dermatitis berhasil disembuhkan dengan obat bukan berarti si penyakit tidak akan muncul lagi. “Satu hal yang saya tekan kan, eksim atopik itu pasti kambuh lagi, jangan ngandelin obat saja, tapi gimana biar gak kambuh,” ujar dr. Grace dalam peluncuran campaign terbarunya ERHA Ultimate #ListenToYourSkin.
Lantas bagaimana cara menangani dermatitis atopic tanpa obat?
Biasanya, ungkap dr. Grace, untuk penanganan memang ada yang dikasih obat. Tapi, yang paling penitng bagaimana mencegah si dermatitis atopik ini tidak kambuh. Makanya diperlukan edukasi ke si penderita dan keluarga.
Biasanya, diedukasi tentang eksim yang akan diabwa seumur hidup sehingga cara merawtanya ahrus tepat. Tentang bagaimana cara mencucinya, lalu krim atau lotion apa saja yang boleh berdasarkan bahannya serta sabun mandinya pun harus diperhatikan.
“Makanya perlu edukasi untuk dirawat agar tidak seumur hidup bermasalah dengan eksim, agar tidak sedikit-sedikit dia gatal,” paparnya.
Ketika menemukan kecurigaan mengalami eksim, tidak boleh langsung pakai sembarang kirim gatal. Atau sudah tahu punya eksim tapi tidak merawat kulit, itu juga tidak dibenarkan.
“Biasanya bisa dibenarkan dulu skin barrier-nya, lalu kita edukasi gimana cara merawat kulitnya. Mulai dari sabun, lotion yang dipakai, karena kan bahan yang digunakan juga engga boleh sembarangan,” tuturnya.
Sementara itu, dalam penelitian Abuabara et al pada 2019 mengatakan, 1 dari 5 anak dan 1 dari 10 orang dewasa di negara-negara berpenghasilan tinggi di dunia menderita dermatitis atopik (Eksim).
Menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) M Yulianto Listiawan, pada 2022, sebagian orang mengalami penyakit kulit degeneratif atau penurunan fungsi kulit dari waktu ke waktu. Sehingga gangguan kulit termasuk tiga besar penyakit yang ditemukan di banyak puskesmas di Indonesia.
Melihat tingginya kasus di Indonesia dan masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap penanganan penyakit kulit ini lah yang mendorong lahirnya campaign #ListenToYourSkin oleh ERHA Ultimate Atopy and Skin Disease Center.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
