Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 April 2023 | 12.48 WIB

Latih Daya Juang Anak sejak Prasekolah: Beri Kesempatan Berusaha, Tidak Melulu Dibantu

MASA EKSPLORASI: Pantau anak ketika explore aktivitas atau bermain di luar ruangan. Beri kesempatan mengatasi masalah. Misalnya saat hampir terjatuh. - Image

MASA EKSPLORASI: Pantau anak ketika explore aktivitas atau bermain di luar ruangan. Beri kesempatan mengatasi masalah. Misalnya saat hampir terjatuh.

Melihat si kecil berusaha mengambil mainan di rak, bunda khawatir dan langsung mengambilkan. Ketika anak merengek minta pertolongan, refleks ortu akan sigap membantunya. Tahan dulu, beri dia kesempatan untuk berusaha dan meng-explore diri. Pantau untuk memastikan situasi di sekitar anak tetap aman.

---

PENTING sekali melatih daya juang anak sejak usia prasekolah. Diharapkan, anak memiliki karakter gigih dan kelak dapat bertahan menghadapi kesulitan, kegagalan, dan tantangan di luar rumah. Termasuk beradaptasi terhadap hambatan dan mengubahnya menjadi peluang untuk meraih keberhasilan. Hal itu bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari yang paling sederhana.

”Mulai perilaku bangun tidur. Biarkan anak merapikan tempat tidurnya, lalu berusaha mengambil gelas minumnya. Di meja makan, biarkan dia memotong kecil-kecil makanannya. Jika tidak bisa, baru tawarkan bantuan,” papar Eldatia Utari Putri MPsi Psikolog.

Jadi, tidak semua hal perlu ortu lakukan untuk sang anak. Beri anak kesempatan melakukannya sendiri. Usia dini, lanjutnya, merupakan masa ekploratif anak. Setiap anak sebetulnya memiliki keinginan untuk mencoba semua aktivitas.

”Jika ortu over khawatir, takut kalau tidak dibantu nanti anaknya jatuh, tersedak, atau gagal, si anak lama-kelamaan akan nyaman dan terbiasa dengan perlakuan ortu,” ujar psikolog klinis di Unit Pelayanan Psikologi (UPP) Unair tersebut.

Dampaknya, anak terbiasa dibantu, tidak melakukannya sendiri. Saat menghadapi masalah, dia akan lari kepada ortu untuk menyelesaikannya. Anak akan menggantungkan diri pada pertolongan ortu dan orang lain.

”Kalau di rumah, iya ada ortunya. Bagaimana ketika mulai masuk sekolah, PAUD misalnya, dia harus menghadapi situasi baru yang artinya tantangan baru, bertemu teman dan guru yang perlakuannya tidak sama dengan ortunya di rumah,” beber Tia, sapaan akrabnya.

Kadang ortu tidak tega membiarkan anak menalami kesulitan. Namun, ortu harus mindful bahwa ”ketegaannya” memberikan space lebih untuk si kecil saat ini demi kebaikannya di kemudian hari. Sebab, daya juang yang mulai dipupuk sejak dini sangat berdampak hingga dewasa. Cukup dampingi, arahkan, dan beri dukungan.

”Saya pernah menjumpai kasus, mahasiswa tidak mau mengerjakan tugas kuliahnya, tapi bisa sampai lulus S-2. Ternyata selama ini ortu sama kakaknya yang mengerjakan, kayak kerja kelompok, si anak hanya masuk kelas, ada tugas lapor ortu. Ini yang cukup ekstrem,” beber psikolog di Biro Psikologi Lestari tersebut.

Tia menyebut kondisi psikologis anak yang kemampuan daya juangnya tidak pernah dilatih saat dewasa sangat beragam. Dari yang sederhana sampai yang kompleks. Di antaranya, gampang menyerah, pesimistis, cenderung lari dari masalah, takut mengambil risiko, menghindari tantangan, dan menyalahkan orang lain jika terjadi suatu masalah.

”Jadi, biarkan anak berusaha. Jangan lupa beri pujian saat dia berhasil melakukan sesuatu. Misalnya, ’Adik hebat bisa mengambil mainan sendiri di rak’. Lalu, usap pundaknya dan beri pelukan,” tuturnya. (lai/c14/nor)

DAMPAK BURUK ANAK SELALU DIBANTU

- Mudah menyerah

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore