Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 Februari 2022 | 12.48 WIB

Pahami Prinsip & Kondisi Anak, Terapkan Konsep Parenting Layang-Layang

HUBUNGAN: Kedekatan antara orang tua dan anak memang dibutuhkan. Namun, masih diperlukan batasamn yang jelas agar fungsi orang tua berjalan sebagaimana mestinya. (Foto Ilustrasi Diperagakan Model - Alfian Rizal/Jawa Pos) - Image

HUBUNGAN: Kedekatan antara orang tua dan anak memang dibutuhkan. Namun, masih diperlukan batasamn yang jelas agar fungsi orang tua berjalan sebagaimana mestinya. (Foto Ilustrasi Diperagakan Model - Alfian Rizal/Jawa Pos)

Mengurus anak itu harus dengan tensi tinggi. Pasang wajah merengut seharian. Pokoknya anak wajib takut sama orang tua. Kalau nggak begitu, anak bakal tidak nurut. Namun, betulkah begitu? Nah, ternyata adakalanya parents juga perlu untuk tarik-ulur. Tidak terus marah-marah. Atau, dikenal dengan istilah layang-layang. Bukan series Layangan Putus lho, Bunda.

---

ANAK penurut itu memang impian semua orang tua. Namun, membuat buah hati menjadi penurut itu bukan sekadar dengan nada tinggi atau cosplay jadi nenek sihir di depan anak. Karena itu, ada istilah layang-layang dalam parenting. Psikolog anak Nuri Fauzia menyatakan, sebelum menerapkan layang-layang, orang tua harus paham prinsip layang-layang. Prinsipnya adalah kapan waktunya menarik dan mengulur.

Nur menyebutkan, ada kalanya orang tua memberikan ruang kebebasan kepada anak. Namun, dengan asumsi jika anak sudah mengerti arti tanggung jawab. Ada kalanya orang tua untuk injak rem juga. ’’Di saat apa? Ya asumsinya anak benar-benar belum bisa sepenuhnya tanggung jawab,’’ ujarnya kepada Jawa Pos.

Di usia berapa prinsip layang-layang bisa diaplikasikan kepada anak? Menurut Nur, prinsip tersebut bisa diterapkan ketika kognitif anak sudah baik, tapi prinsip hidupnya belum kuat. Idealnya, kondisi seperti itu bisa diterapkan saat anak usia 7 tahun. Di usia tersebut. prinsip layang-layang lebih ke arah pengondisian anak.

Pada tahapan itu, lanjut Nur, anak mulai bergeser dari pemahaman yang sebelumnya di fase praoperasional, lalu menjadi operasional konkret. Dia menilai, anak umur 7 tahun sudah memiliki value, tapi belum cukup kuat. Selain itu, responsibility anak belum kukuh.

Dia menyatakan, prinsip layang-layang bisa saklek dipraktikkan kala anak usia 11 tahun ke atas. Pasti, bunda-ayah bertanya-tanya, kok bisa 11 tahun? Bukannya bagus sejak dini? Betul, memang sejak dini. Namun, bunda perlu tahu kalau urusan parenting tidak bisa ujug-ujug. Misalnya, konsep layang-layang langsung diaplikasikan tanpa ada pemanasan. Dampaknya justru tidak bagus. Parents bisa memulai layang-layang sebagai pengondisian ketika anak usia 7 tahun, yes.

Nur menyampaikan, saat usia 11 tahun, ’’matahari” anak bergeser. Awalnya orang tua, lalu digantikan teman-teman dekat anak. Anak-anak mulai menyerap value dari lingkungan sekitarnya. Di fase tersebut, peran orang tua lebih bagaimana melihat keputusan-keputusan yang diambil anak, apakah sudah tepat atau belum. Di sisi lain, tentu orang tua juga tetap mengawasi.

Terpisah, Laurencia Ika Wahyuningrum selaku konselor anak dan remaja menyatakan, ada empat tahapan perkembangan motorik anak. Pertama, tahapan sensorimotor di usia 18–24 bulan. Pada usia tersebut, anak mengenal dunianya lewat melihat, mendengar, dan mengembangkan motoriknya dengan menggapai dan menyentuh. Anak belum bisa berpikir simbolis. Apa yang dilihat anak dimaknai secara harfiah. Kemudian, pada tahapan kedua, yakni praoperasional, saat usia anak 2–7 tahun. Pada usia tersebut, anak sudah bisa berpikir simbolis dan logis.

Kemudian, tahapan ketiga adalah praoperasional konkret. Ika menjelaskan, tahapan tersebut anak telah mampu berpikir logis dan hipotesis. Dan, tahapan terakhir adalah operasional formal. Tahapan operasional formal ketika usia anak 12 tahun ke atas. Anak mulai mampu berpikir abstrak dengan memanipulasi ide-ide, berpikir kreatif, dan memahami konsekuensi dari hasil tindakannya.

Beri Contoh ke Anak


KONSEP parenting yang luwes, tapi tetap santai, terdengar gampang. Namun, tidak semua bisa, lho. Setiap mama-papa pasti punya gaya parenting masing-masing sih supaya suasana keluarga tak jauh dari kata menyenangkan. Alfi Fanni Tamrini, misalnya. Mama muda kelahiran Bandung itu selalu memberikan contoh kepada anaknya. Dia enggan mengedepankan prinsip emosi.

Menurut dia, anak kecil itu lihai dalam meniru. Termasuk apa yang dilakukan orang tuanya. Saat mengajarkan sesuatu ke Nada (anak Alfi), Alfi selalu memberikan contoh. ’’Jangan lupa untuk memuji saat anak menuruti perintah kita. Karena pujian bisa memotivasi anak untuk melakukannya lagi,’’ ujarnya.

Namanya juga orang tua, pasti ada khilafnya. Alfi dan Nada pun tak luput dari adu mulut. Kala itu perkara sepele. Lupa menaruh barang. Permasalahan lupa meletakkan sesuatu sepertinya masalah berjuta-juta orang. ’’Nada selalu protes dan ngomong, kalau naruh sesuatu itu diingat. Nada bisa ngomong begitu karena aku juga sering ngomong itu,’’ katanya, lalu tertawa.

Alfi berusaha menjadi orang tua yang dipercaya Nada. Dia memilih tak membohongi Nada meski urusan kecil. Soal rasa makanan, misalnya. Kalau enak, bakal dibilang enak. Kalau tidak enak, ya tidak. Selain itu, dia berusaha untuk tidak melanggar janji yang dibuatnya dengan Nada.

Mama lain, Syafila Ariani, selalu berusaha menjaga jarak ketika anak tampak bad mood. Dengan catatan, dia tak tahu penyebab anaknya bad mood. Perempuan kelahiran Jakarta, 1983, itu menuturkan, dirinya bakal menunggu mood anak baik lagi. ’’Anak itu punya hak untuk sendiri juga. Itu kunci membuat anak nyaman dengan kita,’’ tuturnya. 

ORANG TUA RASA SAHABAT

Susah-susah gampang sih membuat anak menganggap orang tua seperti sahabatnya. Butuh proses, tidak bisa instan. Caranya?

- Berusaha memahami kondisi anak. Terutama ketika anak beranjak remaja. Tentu banyak perubahan yang dialami anak, termasuk orang tua. Dulu, orang tua bisa menggendong atau memeluk, eh sekarang nggak bisa.

- Buat anak senyaman mungkin dengan menciptakan suasana rumah yang dirindukan. Misalnya, coba buat makanan atau minuman yang memorable antara orang tua dan anak. Lalu, disantap bareng sambal cerita-cerita masa dulu. Cakep itu!

- Ingat, anak juga punya privasi. Mama atau papa boleh memantau atau mengawasi anak, tapi tetap beri ruang privasi kepada anak, ya. Misalnya, ikut memberikan komentar yang awkward di media sosial anak. Parents boleh kok follow, asal ingat ruang privasi. Sebelum follow, ngomong dulu sama anak.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore