
Ilustrasi. Usahakan tidak mendidik Anak dengan perbedaan gender sejak kecil. (The Conversation)
JawaPos.com - Semangat Raden Ajeng Kartini dalam membela hak perempuan salah satunya adalah agar kedudukan laki-laki dan perempuan setara. Sayangnya, budaya dan pola asuh orang tua pada anak-anaknya sejak kecil justru membuat mereka tumbuh dengan berbagai perbedaan berdasarkan gender.
Budaya tersebut akhirnya berpengaruh juga di masyarakat dalam berbagai bidang. Padahal perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama untuk maju.
"Kesetaraan gender bukan hal instan tapi butuh proses dan pembiasaan sejak dini. Saya percaya anak-anak tumbuh dalam pembiasaan. Oleh karena itu, kesetaraan juga perlu dibiasakan. Sejak kapan? Sedini mungkin," tegas Psikolog Anak dan Keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo kepada JawaPos.com, Minggu (21/4).
Menurut Vera, secara fisik, laki-laki dan perempuan tentu berbeda. Namun, ini bukan berarti keduanya harus diperlakukan dan diberi kesempatan berbeda sejak dari kecil. Baik anak laki-laki maupun perempuan perlu diberikan kesempatan setara dengan pola asuh yang tidak diskriminatif berdasarkan gender.
"Anak laki-laki perlu mengembangkan afeksinya dan sebaliknya anak perempuan pun perlu sama tegarnya seperti anak laki-laki," tegasnya.
Maka para orang tua disarankan untuk menghindari berbagai pola asuh yang keliru agar anak laki-laki dan perempuan tumbuh dewasa dengan setara. Berikut lima langkah sederhana yang bisa diterapkan dalam mengasuh anak.
Photo
Ajari tidak ada perbedaan dalam melakukan hal apapun sejak kecil. (Shutterstock)
1. Menolong Anak Perempuan Lebih Cepat
Orang tua cepat memberikan bantuan jika anak perempuan yang mengalami kesulitan daripada anak laki-laki. Misalnya, jika anak perempuan yang jatuh cepat dibantu berdiri tapi sebaliknya anak laki-laki diharapkan bangun sendiri. Sebaiknya perbedaan ini tidak dilakukan.
2. Larang Permainan Tertentu
Orang tua melarang aktivitas main tertentu. Misalnya, anak perempuan tidak boleh main berantem-beranteman atau anak laki-laki tidak boleh main masak-masakan.
3. Kesukaan Terhadap Warna
Mengidentikkan warna dengan jenis kelamin. Misalnya warna biru hanya untuk laki-laki dan pink untuk perempuan.
4. Batasi Ekspresi Emosi
Ada hal-hal menyangkut emosi yang dibatasi. Misalnya anak perempuan tidak boleh tertawa terbahak-bahak atau anak laki-laki tidak boleh menangis.
5. Larang Jenis Mainan
Misalnya, membedakan jenis mainan anak. Seperti mobil-mobilan/robot untuk anak laki-laki dan boneka untuk anak perempuan.
Photo

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
