Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 April 2017 | 00.07 WIB

Keliling 40 Negara Demi Penuhi Keinginan Cicipi Kopi

MAHIR: Hendrick Hartono belajar lebih jauh tentang rasa kopi. Lulusan universitas di Australia ini juga menjadi pengusaha kopi. - Image

MAHIR: Hendrick Hartono belajar lebih jauh tentang rasa kopi. Lulusan universitas di Australia ini juga menjadi pengusaha kopi.

JawaPos.com – Ngopi, yuk! Kita sering mendengar kalimat ajakan itu di sekitar kita, kan? Well, nyeruput secangkir kopi memang sudah jadi gaya hidup masyarakat urban. Kita pun patut berbangga karena Indonesia punya kekayaan kopi Nusantara yang nikmat tiada tara.


Pencinta kopi kini bukan lagi usia tua, tapi juga anak-anak muda. Tak sekadar minum, mereka juga memperkenalkan kopi Nusantara lewat seruputan. Itulah yang dilakukan Hendrick Hartono, Senin (10/4) di Cattura Espresso.


’’Indonesia punya beragam kopi. Sayang banget kalau nggak bisa menikmatinya dengan baik,’’ kata pria yang mendapat licensed Q Grader dari Specialty Coffee Association of Indonesiatersebut.


Salah satu cara mengetahui karakter kopi adalah dengan cupping. Hendrick mempraktikkannya dengan menggunakan enam jenis kopi Indonesia. Yaitu, kopi asal Wamena, Papua; Flores; Toraja; Kintamani, Bali; Gayo, Aceh; dan Java Malabar.


Dari cupping, penikmat bisa menghirup aroma, menyeruput, dan meneguk kopi. Hendrick mencontohkan kopi Java Malabar dengan takaran 8,25 gram. Biji kopi dihaluskan. Lalu, air panas 150 ml bersuhu 96 derajat Celsius dituangkan ke kopi tersebut dengan penyaringan.


’’Kita diamkan dulu 3–4 menit sebelum diseruput. Biar rasanya bisa sempurna,’’ jelas pria 26 tahun tersebut.


Sebelum kopi diteguk, Hendrick mencium aromanya. ’’Cukup diangin-anginkan ke arah hidung kita. Setiap kopi punya aroma yang berbeda,’’ ungkap alumnus Curtin University Australia tersebut.


Proses selanjutnya adalah menyeruput kopi. Saat itulah kita bisa merasakan karakter kopi dari segi rasa. ’’Jangan buru-buru meneguknya. Nikmati dulu di mulut,’’ kata pria kelahiran Semarang, 24 September 1990, tersebut.


Sebab, merasakan kopi ibarat sebuah proses. Terdapat perubahan rasa selama perjalanan kopi mulai masuk ke mulut hingga ke tenggorokan. Misalnya, rasa kopi Java Malabar. ’’Rasanya ada buah-buah gitu. Kecut, lalu terakhirnya ada rasa pahitnya,’’ ujarnya.


Setiap orang memiliki selera yang berbeda. Begitu pula saat mereka menilai rasa kopi. ’’Pendapat orang tidak ada yang salah. Cara merasakannya juga beda,’’ jelasnya.


Sebab, untuk mengenal karakter kopi dengan benar, juga dibutuhkan proses. Tidak bisa dikatakan benar apabila baru mencoba satu dua kali saja. Jangan pula mendengarkan kata maupun pendapat orang lain. ’’Rasa kopi yang kita minum, ya kita sendiri yang tahu,’’ tegasnya.


Hendrick mempelajari hal tersebut selama enam tahun terakhir. Bahkan, dia sudah berkeliling ke 40 negara untuk mencicipi kopi. ’’Setelah minum kopi, saya selalu catat rasanya. Lalu, saya share atau berdiskusi dengan teman-teman,’’ kata pengusaha kopi tersebut. (bri/c5/jan/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore