
CHEERS: Para sosialita menikmati Rose Wine pada Rabu (25/1) di The Cafe Java Paragon, Surabaya. Mereka mengenakan kostum bertema The Great Gatsby.
JawaPos.com – Sejak 6.000 SM, meminum wine menjadi gaya hidup para kaum elite. Wine kerap dikaitkan dengan tradisi gaya hidup raja-raja Eropa yang minum dengan cara yang elegan. Berbincang tentang wine memang tidak ada habisnya. Itulah yang tampak pada gathering para sosialita Rabu (25/1) di The Cafe Java Paragon, Surabaya. Beda orang, beda pula seleranya.
Minuman beralkohol yang dibuat dari fermentasi buah, khususnya anggur dan apel, tersebut memiliki bermacam tipe. Yakni, red wine, white wine, rose wine, dan sparkling wine. Jenis wine dipengaruhi dari bahan baku dan proses fermentasi. Sekali fermentasi hanya akan menghasilkan alkohol. Biasanya, hal itu diterapkan pada proses fermentasi white wine. Dua kali fermentasi menghasilkan warna dan alkohol seperti red wine.
Untuk sparkling wine, proses fermentasi dilakukan secara berlapis. Selain difermentasi, wine ditambahi karbon dioksida. Karena itu, sparkling wine mempunyai kadar alkohol yang lebih banyak plus soda. Sparkling wine memiliki kadar alkohol sekitar 14 persen. Sedikit lebih banyak ketimbang white dan red wine yang berkadar 12 persen.
Sparkling wine kali pertama ditemukan biarawan Dom Perignon untuk pengobatan. Karena rasanya yang enak, sparkling wine tenar dan banyak diproduksi. ’’Sparkling wine terbaik berasal dari daerah Champagne di Prancis,’’ ujar Assisten Food and Beverage Java Paragon Muhamad Alikan Wibowo.
’’White sparkling wine itu favorit saya. Rasanya strong, getir, tapi ada sodanya,’’ tutur salah seorang pengunjung The Cafe, Angel Soe. Dia kerap menikmati wine, terutama pada momen spesial. Saat ini wine favoritnya adalah white wine pada 1930.
Berbeda dengan Angel, desainer Margareth Joesuf lebih berselera pada Merlot wine. Menurut dia, wine tersebut memiliki rasa yang soft. ’’Nggak terlalu asam. Manisnya pas,’’ katanya.
Alikan Wibowo juga memberikan tip memilih wine bagi pemula. ’’Pilih yang manis dulu. Kalau mau lebih asam, pilih yang fruity,’’ terangnya. Biasanya, pemula lebih memfavoritkan Merlot dan Cabernet Sauvignon. Dua wine itu mempunyai rasa yang cenderung manis. Cocok dinikmati setelah makan sebagai dessert.
Setiap tipe memiliki jodoh sendiri-sendiri dengan santapan. Red wine cocok diminum bersama makanan berbahan dasar daging. White wine cocok disandingkan dengan makanan yang lebih ringan seperti pasta, ikan, dan lain-lain. Sparkling wine dan rose wine cocok menemani semua jenis hidangan.
Kualitas wine dipengaruhi umur wine dan cara penyimpanannya. ’’Saya tidak menyarankan menikmati wine yang usianya sudah lebih dari 10 tahun,’’ tuturnya. Menurut dia, wine yang disimpan terlalu lama akan berisiko tercemar bakteri. Pencemaran tersebut biasanya terjadi karena tutup wine sudah terlalu kering atau rusak akibat usia.
Botol wine memiliki tutup yang terbuat dari kayu oak. Tutup itu juga mempunyai andil dalam menciptakan aroma pada wine. ’’Penikmat akan mencium pencampuran aroma wine dengan kayu oak. Bak makan dengan daun pisang, kayu itu wangi,’’ jelasnya.
Wine harus disimpan dengan cara berbaring. Tutup kayu berada di bawah sehingga akan terus terkena cairan. Jika wine disimpan secara berdiri, tutup mudah kering, lalu keropos. Kalau sudah kering, tutup akan mudah retak dan kontaminasi dari luar pun masuk melalui pori-pori kayu.
Wine memiliki kriteria penyimpanan yang berbeda. White wine harus disimpan pada suhu 7–10 derajat Celsius. Red wine disimpan pada suhu 18–20 derajat Celsius. Sparkling wine disimpan pada suhu 4–7 derajat Celsius.
Selain cara menyimpan, kenikmatan wine bisa dilihat dari waktu panen bahan baku. ’’Wine memiliki masa panen. Misalnya, pada era 80-an panen anggur sangat baik. Faktornya bisa bermacam-macam. Yakni, keadaan tanah, iklim, proses fermentasi, dan lain-lain,’’ papar pria yang mempelajari anggur sejak 1995 tersebut.
Walau cara penyajiannya dingin, wine tidak boleh diminum dengan memasukkan es batu ke gelas. Hal tersebut akan merusak cita rasa dan tekstur wine hingga 80 persen. ’’Jika ingin dinikmati dingin, ya botolnya yang direndam di es,’’ tuturnya.
Wine yang sudah rusak tentu dapat diprediksi. ’’Pokoknya, kalau pas dibuka, tutupnya pecah, 90 persen bisa dipastikan wine itu rusak,’’ jelas Alikan. Wine yang rusak memiliki warna yang keruh. Sebagian akan mengeluarkan buih. Jika dicium, aroma sangat asam akan terasa. Kemudian, jika dirasakan, wine juga sangat asam. Sebaiknya wine yang sudah mengalami kerusakan tidak dikonsumsi karena mengandung bakteri dan racun yang berbahaya. (esa/c14/dos/sep/JPG)

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
