
TULUS: Banyak cara memberikan perhatian ke anak. Salah satunya sering mengajak ngobrol dari hati ke hati. (Foto: Ilustrasi - Herlina untuk Jawa Pos)
Orang tua pasti berupaya memberikan segalanya yang terbaik kepada anak. Tidak terkecuali urusan perhatian. Namun, tanpa disadari, perhatian yang dicurahkan justru berlebihan. Tahukah parents bahwa hal itu malah berdampak buruk bagi anak?
---
MEMBERIKAN perhatian kepada anak menjadi keharusan bagi orang tua. Bentuknya beragam. Salah satunya, memastikan anak dalam kondisi yang aman. Sayangnya, jika bentuk perhatiannya berlebihan, itu dapat berdampak buruk pada malaikat kecil, mom-dad. Gaya asuh itu disebut helicopter parenting.
Bentuk pengawasan orang tua digambarkan bak baling-baling helikopter. Yang kencang ketika berputar dan konstan. Bagaimanapun, parents tetap perlu cooling down. Santai dulu.
Salah satu oang tua, Carlita, 37, mengatakan bahwa dirinya tanpa disadari pernah menerapkan gaya asuh helikopter. Banyak daftar yang tidak boleh dilakukan oleh belahan jiwanya, Amaris. Kala itu, Amaris masih berusia 3 tahun. ’’Sekarang Amaris kelas VI SD,” katanya kepada koran ini kemarin.
Salah satu contoh kekhawatiran yang berlebihan dari Carlita ialah melarang Amaris bermain pasir. Pernah satu waktu Amaris diajak ke pantai buat liburan. Carlita tidak melepaskan putri sulungnya itu dari gendongan. Amaris menangis. Sayang, Carlita bergeming.
Carlita takut terjadi sesuatu kepada Amaris ketika dibiarkan bermain di pasir pantai. Misalnya, ada binatang yang membuat kulit Amaris gatal. Lambat laun Carlita menyadari, bentuk kekhawatiran dan perhatiannya tidak bagus untuk Amaris. ”Amaris cenderung takut sama hal baru atau ada teman baru lebih ke tidak tertarik berinteraksi,” kenangnya.
Usia Amaris bertambah. Pada usia 4,5 tahun, Carlita mulai memberikan ruang kepada Amaris. ”Ya, meski hati ini waswas. Tapi, aku coba pelan-pelan,” tutur perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat, itu.
Terpisah, psikolog Herlina Harsono Njoto mengatakan, helicopter parenting merupakan istilah yang kali pertama muncul dalam buku Dr Haim Ginott. Judulnya Parents & Teenagers pada 1969 silam.
Nah, menurut Herlina, helicopter parenting setipe dengan gaya asuh otoriter. Kontrol lebih berat dibandingkan penerimaan. Output-nya, anak yang penakut. Sebab, segala sesuatu dikontrol oleh orang tua. Orang tua dalam helicopter parenting cenderung mengambil alih seluruh pengalaman, bahkan kesuksesan atau kegagalan anak sekalipun.
Perempuan yang juga duduk sebagai legislator itu menilai, dalam gaya asuh helikopter, sebetulnya orang tua ingin supaya anak selalu dalam keadaan baik dan niatnya membantu mengatasi masalah anak serta melindunginya. Namun, alih‐alih membantu dan melindungi anak, orang tua malah membuat anak menjadi pribadi yang tidak merdeka atas hidupnya. ”Jadi pribadi yang bergantung sama orang‐orang di sekitar, terlebih orang tua, dan tidak mampu dalam menyelesaikan masalah,” jelasnya.
Kemudian, lanjut Herlina, anak juga tumbuh menjadi pribadi yang tidak mandiri hingga minim percaya diri. Mengapa? Sebab, anak tidak pernah diberi kesempatan untuk menyalurkan potensi‐potensi yang dimiliki. Ruang geraknya dibatasi lantaran setiap pendapatnya bisa jadi selalu dipatahkan.
Atau, bisa juga anak tumbuh dengan pribadi yang agresif dan lebih jauh memiliki masalah dalam kesehatan mental. Misalnya, stres, depresi, dan lain-lain.
Bagaimana supaya tidak berlebihan dalam memberikan perhatian? Herlina menjelaskan, orang tua perlu mengetahui batasan sejauh mana anak butuh dibantu dan diberi kesempatan untuk mencoba sendiri. ”Kalau di psikologi namanya scaffolding. Beri perhatian, beri bantuan, tapi tetap beri kesempatan untuk anak mencoba sendiri,” paparnya.

Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Skor DPMM FC vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026: Misi Dalberto Tebar Pesona di Klub Baru!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
