
Ilustrasi angpao imlek/freepik
JawaPos.com - Tradisi memberi angpao saat Tahun Baru Imlek selalu menjadi momen yang dinanti, terutama oleh anak-anak dan anggota keluarga yang lebih muda.
Namun di balik amplop merah yang tampak sederhana, tersimpan nilai budaya, doa, dan etika sosial yang telah dijaga turun-temurun. Angpao bukan sekadar soal nominal uang, melainkan simbol berbagi keberuntungan, harapan baik, dan keharmonisan relasi keluarga.
Oleh karena itu, selain aturan umum, ada sejumlah aturan yang kerap dijunjung agar suasana Imlek tetap hangat dan penuh makna. Berikut beberapa aturan tak tertulis tentang angpao:
1. Angpao Umumnya Diberikan oleh yang Sudah Menikah
Menurut kepercayaan kebanyakan keluarga Tionghoa, status pernikahan menjadi penanda siapa yang memberi dan siapa yang menerima angpao.
Mereka yang sudah menikah dianggap telah “mapan” secara simbolis, sehingga berbagi rezeki kepada anak-anak atau anggota keluarga yang belum menikah menjadi bentuk tanggung jawab sosial dan doa keberuntungan. Meski tidak bersifat mutlak, kebiasaan ini masih sangat dijunjung dalam perayaan keluarga.
2. Waktu Pemberian Tidak Dilakukan Terlalu Dini
Angpao erat kaitannya dengan pergantian tahun dan energi baru. Karena itu, memberikannya sebelum hari Imlek tiba sering dianggap kurang tepat.
Momen pemberian biasanya dilakukan saat hari H atau ketika kunjungan keluarga dimulai, agar makna doa dan harapan benar-benar sejalan dengan datangnya tahun baru.
3. Nominal Mengandung Simbol Keberuntungan
Jumlah uang dalam angpao sering kali dipilih dengan pertimbangan simbolik. Angka 8, 6, atau 2 kerap diasosiasikan dengan kelancaran, kemakmuran, dan keharmonisan.
Sebaliknya, angka 4 biasanya dihindari karena pengucapannya mirip dengan kata yang bermakna kurang baik. Meski tidak ada aturan tertulis, perhatian pada detail ini menunjukkan rasa hormat terhadap tradisi.
4. Uang Baru dan Amplop yang Rapi
Penampilan angpao juga menjadi bagian dari etika. Uang yang rapi atau baru dianggap membawa energi segar dan niat baik. Begitu pula amplop merah yang bersih dan layak, mencerminkan penghargaan kepada penerima serta kesungguhan dalam menjaga tradisi.
5. Memberi dan Menerima dengan Kedua Tangan
Gestur sederhana ini sarat makna. Memberi dan menerima angpao dengan kedua tangan melambangkan rasa hormat, kerendahan hati, dan ketulusan. Etiket ini umum dilakukan dalam berbagai momen penting, termasuk saat Imlek, sebagai bentuk sopan santun yang dijunjung tinggi.
6. Tidak Membuka Angpao di Depan Pemberi
Salah satu aturan tak tertulis yang masih dipegang adalah menunda membuka angpao. Membukanya di depan pemberi bisa dianggap kurang pantas, karena fokus tradisi bukan pada jumlah uang, melainkan pada doa dan niat baik di baliknya.
Aturan-aturan tak tertulis seputar angpao membantu menjaga esensi Imlek sebagai perayaan kebersamaan dan harapan. Dengan memahaminya, tradisi angpao tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga sarana mempererat hubungan keluarga dan merawat nilai budaya yang penuh makna.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
